JAKARTA – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada hari Minggu lalu menyampaikan pesan dalam rangka memperingati HUT ke-104 Hari Kemenangan, yang menandai kemenangan menentukan dalam Perang Kemerdekaan negara tersebut.
“Hari ini, dengan bangga kami memperingati HUT ke-104 Kemenangan Besar, yang tercatat dalam sejarah sebagai ‘Pertempuran Panglima Tertinggi’ dan merupakan tahapan paling krusial dalam Perjuangan Nasional kami,” ujar Erdogan dalam pernyataan yang dibagikan oleh Direktorat Komunikasi di platform media sosial Turki , NSosyal, dilansir Anadolu.
“Saya mengucapkan selamat Hari Kemenangan 30 Agustus kepada bangsa kita tercinta, rakyat Siprus Turki, dan warga negara kita yang tinggal di berbagai negara di seluruh dunia,” ujarnya dikutip Bergelora.com di Jakarta, Rabu (2/9).
“Saya menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada para tamu terhormat yang turut berbagi kegembiraan dan antusiasme pada hari raya ini di perwakilan-perwakilan kita di luar negeri.”
Erdogan mengatakan bahwa kemenangan 30 Agustus sekali lagi menegaskan bahwa tanah tempat bangsa Turki hidup dengan bebas selama seribu tahun ini adalah “tanah air abadi” mereka.
“Kemenangan Besar, yang juga membuka jalan bagi berdirinya Republik kita, menyatakan kepada seluruh dunia bahwa bangsa kita tidak akan pernah menerima penindasan atau penjajahan, sekaligus membantu mematahkan pengepungan imperialis terhadap wilayah kita,” ujarnya.
“Tekad, keberanian, dan keteguhan hati yang kita tunjukkan sebagai sebuah bangsa pada 104 tahun yang lalu, di tengah segala macam kesulitan, tetap menjadi sumber motivasi terkuat kita saat ini.”
Erdogan mengatakan bahwa Turki, yang terinspirasi dan memperoleh keyakinan dari “sejarah gemilangnya,” terus melangkah mantap menuju tujuan-tujuannya melalui berbagai keberhasilan di segala bidang, mulai dari energi dan industri pertahanan hingga sains, teknologi, dan kebijakan luar negeri.
“Di saat perang, konflik, krisis, dan ketidakpastian politik meningkat di seluruh dunia, khususnya di kawasan kita, Türkiye tampil menonjol dengan kebijakan proaktif yang berprinsip, tegas, dan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan,” katanya.
“Saya ingin menyatakan dengan penuh kepuasan bahwa saat ini terdapat Türkiye yang berupaya mencegah penindasan tanpa memandang siapa pelakunya, membela pihak yang tertindas tanpa memandang siapa mereka, serta tidak ragu untuk menanggung risiko demi tujuan mulia ini.”
Mengutip ungkapan kuno bangsa Turk, Erdogan berkata: “Selama langit biru di atas tidak runtuh dan bumi gelap di bawah tidak terbelah, tidak ada seorang pun yang dapat membuat Turki dan bangsa Turki meninggalkan perjuangan suci mereka.”
“Terlepas dari segala hasutan dan provokasi pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari ketidakstabilan, kita, sebagai negara dan bangsa, akan terus menjunjung tinggi hak, hukum, keadilan, perdamaian, dan stabilitas,” tambahnya.
Erdogan menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga negara yang, “sama seperti 104 tahun yang lalu,” berkontribusi dalam semangat persatuan dan solidaritas untuk membangun Abad Turki .
“Di hari yang penuh makna ini, saya juga menyapa dengan penuh kasih sayang seluruh sahabat serta saudara-saudari kita di berbagai penjuru wilayah budaya dan spiritual bersama, yang hatinya berdetak seirama dengan kita. Bangsa ini dan yang turut merasakan suka maupun duka kita,” ujarnya.
“Pada kesempatan ini, dengan penuh rasa syukur saya mengenang Gazi Mustafa Kemal Ataturk, panglima tertinggi dalam Kemenangan Besar tersebut, beserta rekan-rekan seperjuangannya. Saya memohon kepada Allah Yang Mahakuasa agar melimpahkan rahmat-Nya kepada para syuhada kita—yang kita anggap sebagai penjaga abadi kemerdekaan kita—serta mengenang para veteran kita dengan penuh rasa terima kasih,”
“Hari Kemenangan memperingati pertempuran terakhir di Anatolia barat melawan pasukan Yunani pada tahun 1922 dan didedikasikan bagi Angkatan Bersenjata Turki. Pasukan Turki bertempur dalam Pertempuran Dumlupinar dari tanggal 26 hingga 30 Agustus di wilayah yang kini menjadi Provinsi Kutahya di bagian tengah Turki,”
“Dalam pertempuran tersebut, pasukan Yunani yang melakukan invasi berhasil dikalahkan secara telak. Menjelang akhir tahun 1922, seluruh pasukan asing telah terusir dari wilayah-wilayah yang setahun kemudian secara kolektif menjadi Republik Turki. (Web Warouw)

