Kamis, 3 September 2026

TERUS BERTAMBAH NIH..! Kabut Asap Karhutla Memburuk, Kasus ISPA di Kaltim Tembus 9.499 Kasus, Kalsel Tembus 46 Ribu Kasus

JAKARTA – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kalimantan Timur mulai menunjukkan peningkatan seiring memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim) dr. Jaya Mualimin mengatakan, hingga memasuki pekan ke-34 tahun 2026, kasus ISPA di Kaltim tercatat sekitar 9.499 kasus.

Menurut Jaya, angka tersebut memang mengalami peningkatan dibandingkan awal tahun, tetapi belum menunjukkan lonjakan yang signifikan.

“Memang ada peningkatan kasus, tetapi peningkatannya jika dibandingkan dengan Januari, Februari, dan Maret itu kecil. Masih seputar sekitar 9.499 kasus,” kata Jaya , Kamis (3/9/2026) dikutip Bergelora.com di Jakarta.

 

Pada Januari 2026, kasus ISPA tercatat sekitar 9.300 kasus. Jaya mengatakan, kasus ISPA sempat mengalami penurunan pada pertengahan tahun. Namun, memasuki periode kemarau dan meningkatnya titik api, kasus kembali mengalami kenaikan.

“Pertengahan tahun memang sempat turun, kemudian naik lagi karena dipicu titik-titik api yang ada,” ujarnya.

Diperparah Asap Kiriman

Kondisi tersebut diperparah asap kiriman dari sejumlah provinsi di Kalimantan.

“Ditambah lagi asap kiriman dari Kalbar, Kalteng, dan Kalsel. Kita juga tidak hujan, sehingga kondisi ini menjadi salah satu perhatian kita, terutama di Kutai Barat,” kata Jaya.

Selain peningkatan ISPA, Dinkes Kaltim juga menyoroti kualitas udara di sejumlah wilayah. Jaya mengatakan, kondisi paling mengkhawatirkan saat ini berada di Kutai Barat dan Berau, disusul Kutai Kartanegara.

Di Kutai Barat, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) bahkan sempat mencapai angka 318 mikrogram per meter kubik udara.

“Beberapa hari lalu, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sempat mencapai 318 mikrogram per meter kubik udara, dan itu sudah masuk kategori berbahaya,” jelasnya.

Menurut dia, kondisi tersebut kemudian mengalami penurunan. Namun, angka ISPU masih berada pada level yang tergolong sangat tidak sehat.

“Seharusnya di bawah 55, tetapi hari ini sudah turun lagi menjadi 280, namun masih dianggap sangat tidak sehat. Itu di Kutai Barat,” tuturnya.

Kasus ISPA Tertinggi, 66.468 Kasus di Balikpapan

Dinkes Kaltim bersama tim krisis dari Kementerian Kesehatan dan sejumlah pihak terkait pun melakukan pemantauan langsung ke Kutai Barat.

“Hari ini tim dari tim krisis dari Kementerian Kesehatan kemudian PKK Samarinda termasuk dari kami juga mau berangkat lagi ke sana untuk memantau keadaan di Kutai Barat. Di sana juga ISPA-nya meningkat,” kata Jaya.

Berdasarkan data Dinkes Kaltim hingga Agustus 2026, jumlah kasus ISPA tertinggi tercatat di Balikpapan dengan 66.468 kasus. Kemudian Samarinda sebanyak 48.230 kasus, Kutai Kartanegara 29.453 kasus, Paser 22.284 kasus, dan Kutai Timur 22.032 kasus.

Selanjutnya, kasus ISPA di Berau mencapai 20.549 kasus, Penajam Paser Utara 10.386 kasus, Bontang 7.670 kasus, dan Mahakam Ulu 1.482 kasus.

Jaya mengingatkan, tingginya jumlah kasus di sejumlah daerah juga harus dilihat berdasarkan jumlah penduduk masing-masing wilayah.

“Namun, tingginya jumlah kasus ISPA juga dipengaruhi oleh jumlah penduduk yang lebih banyak,” katanya.

Menurut Jaya, masyarakat dapat memantau perkembangan kualitas udara melalui sistem ISPU Net.

Saat kualitas udara memburuk, risiko gangguan kesehatan meningkat. Kondisi udara yang awalnya sehat dapat berubah menjadi tidak sehat, sangat tidak sehat, bahkan berbahaya ketika asap semakin pekat dan hujan tidak kunjung turun.

Jaya mengatakan, paparan udara buruk tidak hanya berpotensi meningkatkan kasus ISPA.

Gangguan kesehatan lain juga perlu diwaspadai, seperti diare serta alergi atau gatal-gatal akibat debu. Risiko diare terutama perlu diperhatikan di wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air bersih.

“Risiko diare juga perlu diwaspadai, terutama di wilayah yang sumber airnya terbatas,” ujarnya.

Kondisi lingkungan yang banyak terdapat tikus juga dapat meningkatkan risiko penyakit tertentu, termasuk leptospirosis. Tikus dapat membawa bakteri Leptospira melalui urine yang kemudian mencemari lingkungan atau sumber air. Bakteri tersebut dapat masuk ke tubuh manusia apabila kebersihan tidak dijaga.

Karena itu, masyarakat diminta membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan dan menjaga kebersihan makanan.

“Paparan bakteri tersebut dapat menyebabkan leptospirosis dengan gejala seperti demam, menggigil, dan gangguan pencernaan. Selain itu, alergi atau gatal-gatal juga dapat meningkat akibat paparan debu,” kata Jaya.

Untuk masyarakat yang mengalami ISPA, Jaya mengatakan sebagian besar kasus dapat sembuh dalam waktu sekitar satu minggu karena umumnya disebabkan oleh virus.

“Untuk ISPA, proses penyembuhannya umumnya berlangsung sekitar satu minggu karena sebagian besar kasus disebabkan oleh virus,” ujarnya.

Namun, apabila ISPA disertai demam, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.

“Jika mengalami ISPA disertai demam, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke Puskesmas,” kata Jaya.

Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan kondisi pasien dan menentukan penanganan yang sesuai.

ISPA di Kalsel Tembus 46 Ribu Kasus

Asap kiriman dari Kalimantan Selatan mulai menyelimuti Kota Balikpapan sejak pekan lalu. (Ist)

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kalimantan Selatan (Kalsel) terus bertambah setiap pekannya. Data terbaru dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalsel, ISPA kini mencapai 46 ribu kasus.

Kepala Dinkes Kalsel, dr Diauddin, mengatakan penyebab naiknya kasus ISPA di Kalsel secara signifikan disebabkan kabut asap dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Setiap pekan, kasus ISPA mencapai 7,9 ribu selama musim karhutla.

“ISPA setiap harinya selalu bertambah. Sampai hari ini sudah 46 ribu lebih. Tadinya hanya 5 ribuan per pekan, sekarang jadi 7 ribuan,” ujar Diauddin kepada wartawan, Senin (31/8/2026).

Tiga daerah penyumbang kasus ISPA terbanyak, ungkap Diauddin, adalah Banjarmasin, Kabupaten Banjar, dan Banjarbaru. Namun, pria yang akrab disapa Dia itu memastikan seluruh fasilitas kesehatan (faskes) masih mampu menangani kasus ISPA.

Diauddin memberi perhatian kepada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

Terus meningkatnya kasus ISPA, masyarakat diimbau untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan imun tubuh. Jika gejala ISPA mulai menyerang, masyarakat diminta segera untuk melakukan pemeriksaan kesehatan di Faskes terdekat.

“Segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami keluhan pernapasan yang semakin berat atau sesak napas,” imbau Diauddin.

Belum meredanya kabut asap di sejumlah daerah di Kalsel, masyarakat juga diimbau untuk lebih banyak beraktivitas di dalam rumah.

“Mengingat kualitas udara yang tidak baik, kalau tidak ada urusan penting jangan keluar rumah. Kalau pun keluar rumah harus pakai masker,” pungkas Diauddin. (Web Warouw)

 

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles