Selamat jalan, Nuraini. Selamat beristirahat dari riuhnya dunia. Sampai jumpa lagi kelak, saat Sang Maha Kuasa mempertemukan kita kembali di keabadian.
Oleh: Ratri Wahyu Mulyani *
ADA orang-orang yang hadir dalam hidup kita bukan sebagai persinggahan biasa, melainkan sebagai jejak yang membekas sedalam takdir. Begitulah Nuraini Hilir dalam ingatan saya.
Ingatan ini menerawang kembali ke awal tahun 1997, di sebuah ruang sekretariat yang sunyi di sudut Yogyakarta, tak jauh dari kampus UGM. Saya datang ke kota itu untuk keperluan keluarga diantara menenggok adik saya (alm Indah) yang sedang menimba ilmu di Yogya. Disela waktu sayapun ditemui oleh kawan yang bernama Vijay (alm) dan sempat dibawa ke sekretariatan. Di ruang yang dinaungi hangatnya kawan-kawan perjuangan terlihat beberapa perempuan diantaranya perempuan berbalut hijab, diantaranya seorang perempuan bernama Nuraini.
Pertemuan itu singkat, namun sarat kecemasan zaman. Sepulang dari sana, saya mengemban mandat membawa setumpuk majalah PEMBEBASAN dan selebaran untuk kawan-kawan di Jakarta. Di tengah kepungan atmosfer Orde Baru yang mencekam, saya membungkus rapat-rapat dokumen itu, membebatnya dengan kecemasan yang terus di sepanjang jalur kereta menuju Jakarta.

Tak lama setelah hari itu, takdir membawa sosoknya kembali melintas di Jakarta. Dari satu mimbar dan pertemuan lain, dari satu ruang gerakan ke ruang lainnya. Nuraini saat itu saya lupa jabatannya apa, tetapi bagi saya ia adalah tipe perempuan yang penuh kehangatan, meluluhkan canggung, dan membuat siapa saja merasa tenang bertukar kata.
Secara fisik, di mata saya juga, ia adalah perempuan paling kurus yang pernah saya kenal. Namun, jangan terkecoh oleh perawakannya. Di balik tubuh yang tampak rapuh itu, bersemayam nyala api energi yang tak pernah padam.
Saya ingat disuatu malam di sekretariat Basuki Rahmat Jakarta. Di tengah diskusi, sebuah panggilan telepon memecah hening dari balik jeruji LP Cipinang. Seorang kawan yang dipenjara mengalami situasi darurat hingga harus dievakuasi malam itu juga menuju RS Polri Jakarta Timur. Di sana, bersama Nuraini, Nur Hiqmah, AA dan Naning kami terjaga menembus dinginnya malam hingga hampir fajar menunggu kawan yang harus dirawat di RS Polri. Saya pernah melihatnya ia masih beraktivitas politik dengan kepala berbalut perban, akibat luka bocor dihantam popor senjata. Nuraini adalah paradoks yang indah dalam berbagai situasi ia berdiri bak karang, tetapi tutur katanya tidak pernah meledak-ledak, tetapi ada ketegasan di setiap helai napas kalimatnya.

Saat badai reformasi berlalu dan PRD berlaga di Pemilu 1999, pidato Nuraini di televisi (TVRI) menjadi momen yang paling saya nanti, seperti biasa menggelegar dan tertata apik kalimatnya.
Waktu kemudian merajut jalurnya sendiri. Nuraini akhirnya memilih melabuhkan garis perjuangannya bersama PDIP. Namun, sekat partai tak pernah sanggup merenggangkan ikatan darah sejarah kami. Ia tetap menjadi sosok yang paling rajin hadir di setiap ruang temu Keluarga Besar Rakyat Demokratik (KBRD). Di grup WhatsApp kami yang manis, grup perempuan KBRD yang dinamai Penjebar Semangat, kehadirannya juga adalah penyejuk. Baju politik baru tak pernah mengikis kehangatan lamanya. Ia selalu meluangkan waktu menjadi narasumber diskusi, melangkah mengunjungi rumah kawan-kawan demi merawat silaturahmi, dan menjaga api persaudaraan tetap menyala.
Tahun 2022 tiba membawa badai yang berbeda. Waktu mulai menggerogoti fisik kawan-kawan perempuan yang tak lagi muda, termasuk Nuraini yang mulai diuji oleh sakit. Di tengah rentannya tubuh, semangatnya justru menggebu. Sepanjang 2022 hingga 2023, Nuraini bersama Nor Hikmah dan Susi Ivanty menginisiasi sebuah monumen ingatan. Kami mengumpulkan jemari para pejuang perempuan untuk merajut kisah masa lalu menjadi sebuah buku.

Hingga akhirnya, sekitar 50 aktivis perempuan bergerak bersama, menggali kembali ingatan, peluh, dan air mata perjuangan rentang 1980–1998. Berbekal daya dan kapasitas masing-masing, ikhtiar itu berbuah manis buku Memori Perempuan Berjuang Melawan Tiran resmi terbit pada 8 Maret 2024, tepat di Hari Perempuan Internasional. Sebuah warisan keabadian yang ia tinggalkan sebelum pamit.
Rentang tahun 2022 hingga 2026 menjadi panggung pertarungan sunyi Nuraini melawan kanker. Tanpa henti ia berikhtiar, melintasi negara menuju Penang Malaysia hingga berobat di tanah air. Ia bertarung dengan keanggunan yang sama seperti saat ia menghadapi represifnya rezim. Beberapa kali menengok dan membersamainya di rumah, di rumah sakit, terakhir yang membuat haru adalah ia tetap memberikan kenangan yang baik di setiap jejaknya. Hal lainnya yang setiap bertemu ia selalu menanyakan kabar anak anak kami. sampai terakhir dibawa ke IGD Mayapada Jakarta dan saya sedang bersama Arteta ikut menenangkannya di IGD, dengan terbata dan kata satu persatu Nuraini masih sempat bilang “kutunggu single lagumu ya Arteta” dengan senyum dan lambaian tangan kurus dan tusuk jarum infusnya.
Namun, pada 2 Oktober 2026, sang pejuang memilih untuk beristirahat. Nuraini menyerahkan tubuh lelahnya, kembali ke haribaan Sang Pencipta dalam damai tidurnya.
Selamat jalan, Nuraini. Selamat beristirahat dari riuhnya dunia. Sampai jumpa lagi kelak, saat Sang Maha Kuasa mempertemukan kita kembali di keabadian.
——-
*Penulis Ratri Wahyu Mulyani, sahabat Nuraini

