SIGI- Bencana alam gempa bumi, tsunami dan likuifaksi yang melanda daerah Sulawesi Tengah khususnya di Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala mengundang banyak kepedulian dan solidaritas dari berbagai pihak bahkan jadi perhatian dunia internasional.
Bantuan terus mengalir dari relawan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia bahkan mereka yang sebenarnya juga menjadi bagian dari korban bencana di daerah ini pun tidak mau berlama-lama meratapi nasibnya yang pasti juga kehilangan saudara, tetangga, sahabat, dan kenalan.
Kelompok Perjuangan Kesetaraan Perempuan Sulawesi Tengah (KPKPST) pun bergerak cepat pasca 2 hari bencana terjadi menggalang bantuan dari berbagai pihak untuk membantu korban.
Sekretariat KPKP-ST yang berada dekat dengan Masjid terbesar di Kota Palu dijadikan posko utama. Kelompok perempuan ini membangun tenda sebagai Pos Ramah Perempuan Dan Anak di halaman Masjid Agung bersama banyak tenda-tenda pengungsi yang berasal dari wilayah Kecamatan Palu Barat yakni warga Kelurahan Lere yang menjadi korban tsunami pada 28 september 2018.
Organisasi perempuan ini juga memfokuskan bantuan bagi kepala keluarga perempuan atau single parents dan para lansia yang ada di Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala.
Menurut Eva Bande, salah seorang perempuan aktifis agraria, begitu banyak perempuan selaku kepala keluarga yang menjadi korban bencana alam. Namun mereka terlihat menjadi lebih kuat menjalani kondisi di kamp-kamp pengungsian ataupun di tenda seadanya di halaman rumahnya.
“Mereka menjadi lebih kuat saat harus menyelamatkan anak-anaknya dan melanjutkan hidup seperti sebelumnya. Karena merekalah tumpuan anak-anaknya,” ujarnya kepada bergelora.com saat menemui warga yang ada di tenda-tenda halaman rumah mereka di Desa Kotapulu, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi.
Eva mendistribusikan 62 paket bantuan bagi kepala keluarga petempuan dan lansia. Terlihat jelas rasa haru ibu-ibu kepala rumah tangga dan Lansia menerima bantuan seadanya dengan rasa syukur.
Salah satunya ibu Siti mengucapkan terimakasih dan mendo’akan para relawan semoga sehat selalu dalam melakukan tugasnya.
“Alhamdulillah Terimakasih nak. Insya Allah kalian semua selalu sehat dan mendapat berkah, Amin” ungkapnya kepada Eva Bande.
Sebelumnya menurut Eva bersama relawan dari lainnya juga telah mengunjungi dan berbagi bantuan sembako bagi warga korban di lokasi pengungsian di Desa Pombewe, Kecamatan Biromaru yang merupakan pengungsi dari Desa Jono Oge korban Likuifaksi dan dari Desa Sibowi, Kecamatan Tanambulawa, Kabupaten Sigi.
Selain itu Kelompok Perjuangan Kesetaraan Perempuan Sulawesi Tengah (KPKP-ST) juga bekerjasama dengan relawan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), serta relawan dari Manggala Agni Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sulawesi Selatan. Mereka mengunjungi serta menyerahkan alat pemurni air bersih yang disumbangkan oleh UNJ.
Bukan sekedar menyerahkan, namun secara bersama-sama memasang alat pemurni air bersih yang sebut water treatmen tersebut hingga dapat langsung dimanfaatkan oleh warga di pengungsian. Hasil test ph air layak untuk diminum atau dikonsumsi bahkan lebih baik dibandingkan dengan air kemasan.
Desa Sambo, Kecamatan Dolo Selatan merupakan salah satu desa yang parah menjadi korban dampak dari bencana alam Likuifaksi di wilayah Kabupaten Sigi. Terdapat 216 unit rumah yang mengalami rusak berat sehingga terdapat 324 Kepala Keluarga tinggal di pengungsian. Bantuan alat pemurni air ini disyukuri warga karena sangat bermanfaat.
Selain Eva Bande selaku Dewan Pendiri KPKP-ST, ditempat terpisah Soraya Sultan, Sekjend KPKP-ST bersama relawan yang lain juga memaksimalkan aktifitasnya Posko Ramah perempuan dan anak.
Bukan hanya di Kota Palu, saat ini tenda Posko Ramah Perempuan dan anak juga di bangun di Desa Wombo, Kecamatan Tanantovea. Di posko ini selain mendistribusikan logistik sembako, kebutuhan perempuan dan anak/bayi seperti susu, minyak telon, pempers,– KPKP-ST juga memberikan pelayanan trauma healing, konseling kelompok dengan psikolog dari Yayasan Pulih Jakarta, Penyuluhan PHBS dari Kepala Bidang Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo.
Pendataan situasi dan kondisi perempuan dan anak dari tenda ke tenda juga dilakukan. Koordinasi mengenai pengelolaan Tenda Pos Ramah Perempuan di lokasi-lokasi pengungsian dilakukan dengan bekerjasama dengan berbagai pihak.
Pekerjaan ini tetap dilakukan meskipun telah berakhirnya masa tanggap darurat. Karena situasinya hingga saat ini masi ada begitu banyak warga di Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala yang ada di tenda-tenda pengungsian. Mereka masih menunggu Hunian sementara (HUNTARA) yang sedang di bangun oleh pemerintah daerah.
“Bahkan nantipun jika warga sudah akan tinggal di Huntara kelompok perjuangan Kesetaraan Perempuan Sulawesi Tengah akan berupaya tetap melakukan pendampingan terhadap warga khususnya perempuan dan anak untuk memperoleh pemenuhan hak-haknya,” tegas Eva Bande. (Lia Somba)

