Kasus penistaan agama oleh, Ustad Somad menyandera hukum di Indonesia Maria Pakpahan, penulis, Co-founder Yayasan Tjoet Nyak Dien Yogyakarta. Deklarator Seknas Jokowi, Ketua Dewan Tanfidz DPP PKB (2005-2010), dan Ashoka Fellow menulis buat pembaca Bergelora.com. (Redaksi)
Oleh: Maria Pakpahan
AWALNYA saya cenderung melihat bocornya mulut ustad Somad sekedar kekonyolan saat berinteraksi tanya jawab dalam suatu acara. Saya paham banyak umat Kristen yang terluka, tersinggung atau mungkin ya hapus dada saja. Let it be. Saya bahkan memosting ajaran anti kekerasan Mahatma Gandi yang pernah mengingatkan, ‘An eye for eye only ends up making the whole world blind’.
Kutipan ini bisa dibawa dalam konteks bagamaina kita masih ingat kasus Basuki Tjahaya Purnama yang dikenal dengan nama Ahok dan Meiliana yang dihukum. Sejarah juga mencatat almarhum Arswendo Atmowiloto yang juga dihukum di tahun 1990. Ini sedikit dari kasus -kasus yang menyorot perhatian nasional bahkan Internasional. Saya mencoba memahfumi Somad dan cenderung tidak mengaras pada langkah hukum dalam kasus ini.
Hari ini saat saya menonton pers conference dimana Somad menjelaskan duduk perkara, bagaimana dia merespon pertanyaan seseorang soal salib. Pendek kata, Somad menjawab. Bukan sebagai pemacu thema diskusi.
Mendengar penjelasannya, saya makin paham kualitas Somad. Mengapa? Karena banya cara merespon pertanyaan dan banyak cara menjawab pertanyaan. Somad memilih cara yang kita tahu semua,–menjadi penyebab keributan. Bahkan hingga adanya upaya memperkaraan hal ini sebagai soal penistaan agama. Saya lega saat banyak pemuka agama Kristen Protestan, Katolik yang memperlihatkan itikad untuk tidak mengambil ranah hukum memperkarakan Somad.
Beda Kualitas dan Keluhuran: Somad dan Khofifah
Dikonferensi pers kemarin, Somad jelas menolak untuk membuat suasana adem. Somad terlihat dan terbukti sangat self-centre. Bahkan jumawa. Sangat berbeda dengan Kofifah Gubenrnur Jawa Timur yang saya kenal saat saya di PKB. Sayang sekali PKB yang baru bermuktamar tidak “tune in” dengan kasus Somad ini dan diam saja.
Memang bisa dikatakan PKB yang dipimpin Abdurrahman Wahid alias Gus Dur jauh lebih bergravitas daripada PKB saat ini yang diketahui publik. Gus Dur sebagai pendekar toleransi dan kaum minoritas meninggalkan banyak jejak dalam narasi agama. Sempat dicatat Gus Dur mengeluarkan thesis …’Tuhan tidak perlu dibela’, yang ditangkap publik sebagai seloroh semata.
Respon Kofifah yang pernah menjadi menteri dibawah Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang cepat dan dengan cara empathy saat peristiwa Malang terjadi dan penghinaan, pelecehan yang dialami mahasiswa Papua, memperlihatkan kualitas, kedewasaannya bersikap Khofifah yang jelas bukan pelaku penghinaan tersebut. Bahkan tidak ada di peristiwa pengepungan asrama mahasiswa Papua.
Namun Khofifah terlihat dengan tulus langsung meminta maaf, mengulurkan tangan pada mereka yang terluka. Khofifah menunjukkan sikap nan arif serta dewasa. Keluhuran budi nya tampak saat krisis muncul.
Beda langit dan bumi dengan respon Somad. Bisa terlihat mana sikap yang luhur, mana sikap yang infantile, kekanak-kanakkan, self-centre, tidak peduli dengan perasaan komunitas yang relevan.
Kita ingat bagaimana Ahok, Meiliana dan Arswendo yang meminta maaf berkali-kali dan tetap dikirim ke bui. Adapun Somad, jelas-jelas ia mengakui tetapi kesempatan pers konferensi tersebut tidak digunakannya untuk ‘building the bridge’.
Sejarah mencatat kualitas Somad dan Kofifah dalam bermasyarakat, berwarga negara di dalam Republik Indonesia yang bhinneka ini. Somad perlu belajar dari Khofifah. Somad justru memperlihatkan kualitasnya dengan sikapnya, bahasa tubuh dan tuturnya dalam konferensi pers. Somad luput bertumbuh, gagal melihat hal ini secara holistik.
Memang sejak awal dengan cara dan jawaban, terbukalah sosok Somad apa adanya. Konperensi pers kemarin lebih sebagai konfirmasi,–ya segitu sajalan pendalaman serta tingkat akal budi, budaya dan tutur katanya Somad.
Maklumat Emperor Ashoka
Raja Ashoka dari Dinasty Maurya saya bawa ke tulisan ini dengan harapan ada pelajaran yang bisa dipetik. Lambang raja Ashoka, Cakra/Roda nya ada di bendera India dan dikenal sebagai salah satu raja terjaya yang juga mempromosikan toleransi, anti kekerasan yang dicatat sejarah India. Bahkan simbol Ashoka lion /singa juga menjadi lambang negara India.
Raja Ashoka yang menginspirasi Nehru saat menulis dari sel penjara, untuk mengadopsi ajaran anti kekerasan Ashoka untuk merespon India yang akan menjadi negara bangsa modern India. Roda yang kemudian diabadikan dalam mata uang India. Ashoka memerintah wilayah cakupan dari wilayah Afganistan saat ini hingga Bangladesh. Somad selain perlu belajar dari Khofifah, juga memetik kebajikan dari raja Ashoka yang salah satu maklumatnya.
Penulis terkenal H.G Wells tahun 1920-an menulis ‘Outline of History’ melihat raja Ashoka meninggalkan jejak hingga hari ini melebihi raja Constantine dan raja Charlemagne. Baginya raja Ashoka seperti bintang di langit,– Amidst the tens of thousands of names of monarchs that crowd the columns of history, their majesties and graciousnesses and serenities and royal highnesses and the like, the name of Ashoka shines, and shines, almost alone, a star”.
Dalam konteks ustad Somad, cobalah baca dan dalami kebajikan dari raja Ashoka yang pernah jelas berpesan kurang lebih, ‘He who does reverence to his own sect, while disparaging the sects of others with intent to enhance the glory of his own sect, by such conduct inflicts the severest injury on his own sect.’ Ustad Somad dengan sikapnya, tuturnya menjadi salah satu sosok publik yang justru bisa,–saat ini kejadian,– menjadi liability dan jelas bukan sosok yang mencerahkan,–bahkan bisa jadi merugikan.
Ustad Somad jelas suka berkomunikasi. Lewat ‘speech’, tausiyah, omongan, pidato, perlu mengambil ‘mutiara’ dari communicator par excellent Ashoka The Great. Pendek kata, ustad Somad bisa belajar dari Gubernur Khofifah dalam bersikap hingga belajar dari sosok sejarah Emperor Ashoka sebelum berbicara.

