Pernyataan Agnez Mo, tentang DNA dan Keindonesiaannya belakangan terus menjadi pro dan kontra. Walaupun artis beken ini sudah klarifikasi maksud pernyataannya saat diwawancarai disebuah televisi swasta di luar negeri itu. Hassan Aoni dari Omah Dongeng Marwah (ODM) di Kudus masih menanggapinya diakun facebooknya dan dimuat Bergelora.com. (Redaksi)
Oleh: Hassan Aoni
HIDUP merantau di tiga kota dan akhirnya menetap di Kudus adalah pilihan terakhir keluarga kecil kami. Saya asli Cirebon dan istri Kumai, Kalimantan Tengah. Sebagai perantau kami tak punya satupun saudara sedarah di kota ini sampai dua lelaki yang sangat baik saya anggap sebagai saudara sendiri. Satu sebagai kakak dan satu lagi adik.
Bagaimana meyakini mereka bukan setali darah? Setidaknya sampai keturunan keempat atau buyut, pertalian darah kami tidak sambung. Kepada mereka saya mengadukan hal-hal kecil layaknya rumpian kakak beradik. Demikian juga mereka terhadap kami.
Apalah arti hubungan darah kalau tanpa itu mereka memperlakukan kami dengan sangat baik? Bahkan oleh dekatnya jarak dan interaksi, perhatian mereka terhadap kami tak ubahnya seperti saudara kandung.
Dalam sebuah perkenalan jika seseorang bertanya siapa mereka, saya cukup mengatakan “Ini kakak saya dan ini adik saya”. Tak perlu tambahan keterangan: “tapi, bukan sekandung, loh!” Untuk apa? Bukankah yang mereka tanya siapa, bukan apa hubungannya?
Sebelum menetap di kota ini, ada empat kota yang bikin kami tertarik tinggal, ialah Semarang, Solo, Jogja dan Malang. Di Semarang saya mukim 12 tahun mulai SMA sampai kuliah. Banyak sekali relasi, yang dengan mereka saya bisa bercengkerama memenuhi hajat sosial saya sebagai warga komunal Indonesia.
Dan sebagai warga bangsa, saya tak perlu menelisik dari suku apa atau agama apa relasi saya berasal dan beridentitas. Cukup mendengar logat atau ciri fisik jika ada, dengan itu saya mengetahui mereka. Bahkan tak perlu menjelaskan kepada teman itu apalagi pihak lain, “Dengan Anda (atau si A) saya akrab meskipun tak ada hubungan darah, loh!”
Menjadi sahabat, saudara, sewarga atau sebangsa dan setanah air, tak perlu rasanya penjelasan detail dan ilmiah, sebab kita tidak sedang memertahankan teori akademik. Pun tidak perlu menuntutnya, karena kita tidak sedang berurusan dengan hak waris, atau pilihan pasangan menikah yang butuh nasab. Itu sebab ketika orang ditanya dari mana asalmu cukup menyebut kota kelahiran, bukan golongan darah, suku, atau bangsa.
Dengan asal saya dan isteri yang tidak dari kota tempat tinggal sekarang, dan tiga anak kami lahir dan berbahasa ibu Jawa Kudus, rasanya kurang adab jika anak-anak kami mengatakan: “Saya tidak memiliki golongan darah Kudus.”
Pernyataan seorang artis Indonesia yang lagi naik daun mengagetkan rasa berbangsa kita. Agnes Mo, ia lahir di Indonesia. Berwarga negara Indonesia. Ber-KTP dan paspor Indonesia. Berkarir awal dan sekarang pun di Indonesia. Dipuja fans orang Indonesia, dan bahkan mengambil harta dan kekayaan dari penduduk Indonesia oleh melodrama lagunya yang bikin fans rela membeli kaset dan CDnya, ikhlas di kamar menangis sesenggukan melalui lagunya. Dengan itu semua, mengapa doi harus menyatakan tidak ada hubungan golongan darah dengan Indonesia dan itu tidak ditanya? Apakah menjadi golongan darah Jerman lebih baik dibanding Indonesia?
Saya membuka kembali kata-kata mutiara dan itu nasihat: “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Mo, adikku, pulanglah ke Indonesia. Akan banyak keindahan dan kebaikan untukmu di sini, yang bisa bikin kamu menangis dan berkesimpulan, ternyata Indonesia lebih indah dari sekedar soal darah.

