Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan segenap administrasi bersama politisi pendukungnya terus-terusan membangun stigma bahwa wabah Corona adalah buatan China. Sebenarnya hal ini berkaitan dengan kepentingannya menggalang dukungan dari masyarakat Amerika Serikat demi mempertahankan kekuasaannya sebagai Presiden Amerika Serikat. Maklum saja, karena kelemahan sistim di Amerika, saat ini negara adidaya tersebut tak kuasa menahan penyebaran wabah Corona, sehingga Amerika Serikat menjadi negara yang tertinggi angka kasus positif dan kematian akibat Corona. CT Chan menyoroti Stigmatisasi Tiongkok oleh Amerika Serikat dan dimuat di Bergelora.com. (Redaksi)
Oleh: CT Chan
RUMOR, Fitnah terhadap “Tiongkok melawan epidemi” bertentangan dengan keadilan internasional (1) “Harian Rakyat” 01 Mei 2020, Halaman-3 http://paper.people.com.cn/rmrb/page/2020-05/01/03/rmrb2020050103.pdf
Kinerja buruk beberapa politisi Amerika hanya akan merusak upaya global untuk memerangi epidemi, merusak kerjasama Komunitas Umat Manusia senasib dan merusak gotong royong Kampung Halaman. Statistik terbaru dari epidemi pneumonia korona baru yang dirilis oleh Universitas Johns Hopkins di Amerika Serikat menunjukkan bahwa epidemi di Amerika Serikat adalah yang paling serius. Rakyat Tiongkok merasakan empati dan sangat prihatin. “Dunia merupakan desa global. Satu orang tidak aman membuat semua orang juga tidak aman.” Netizen Tiongkok menyatakan tergugah hati dan menyampaikan kehangatan hati mereka untuk melakukan yang terbaik dan mengulurkan membantu.
Melihat kinerja beberapa politisi Amerika itu, membuat orang sangat marah. Nasib manusia ditentukan langit, tetapi di mata mereka, tangis berpisah dengan kematian, jenasah dalam kantong mayat diangkut kendaraan mayat tidak henti-hentinya, tragedi yang sangat memilukan di rumah-duka, tetap dianggap sepele bagaikan angin sepoi berlalu. Tujuan mereka terpusat pada bagaimana menggunakan tragedi ini sebagai trik politik, untuk menyingkirkan semua kesalahan dan tanggung jawab yang harusnya dipikul itu pada orang lain. Media Amerika berkomentar epidemi yang merebak, beberapa politisi berfokus pada dua hal: Membenci Media dan Membenci Tiongkok. “Harian Boston Globe” menggunakan kata-tajam: duduk kehilangan kesempatan baik mengatasi virus, “tangan mereka berlumuran darah orang Amerika.”
“Stigmatisasi Tiongkok” berdampak pada keadilan internasional. Seluruh proses dan langkah Tiongkok melawan pandemi adalah terbuka, kerja-keras dan setiap tindakan juga jelas terbuka bagi setiap orang, dan tidak akan pernah tersapu hilang oleh sementara orang yang berniat membuang kotoran. Sekretaris Jenderal PBB Guterres menyatakan dengan tulus bahwa rakyat Tiongkok “telah mengorbankan kehidupan normal demi keselamatan seluruh umat manusia!” Menanggapi pertanyaan seorang wartawan, Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia, berkali-kali 2 menyatakan bahwa “Tindakan Tiongkok yang begitu cepat dengan skala begitu besar, jarang bisa terjadi di dunia.” Sebuah jurnal akademis resmi “The Lancet” dalam komunitas medis baru-baru ini menerbitkan sebuah editorial, memberi komentar, epidemi pneumonia korona baru dengan cepat terhadang di Tiongkok, merupakan “teladan yang mengagumkan bagi negara-negara lain.” Tiongkok telah berjuang melawan epidemi dengan segala pengorbanan, dan berhasil menghentikan virus menyebar lebih luas dan menyelamatkan banyak nyawa rakyatnya, sebaliknya sekarang difitnah, di kambing-hitamkan oleh sementara politisi tak bermoral. Apa maunya dan dimana keadilan?
“Stigmatisasi Tiongkok” bukanlah obat mujarab untuk menyelamatkan diri. Virus Corona baru menjadi tantangan manusia mempertahankan hak hidup dan kesehatan. Pada saat ini, yang lebih penting menyelamatkan jiwa manusia, bukan menyalahkan orang lain. Sudah sangat jelas, galang kerja sama atau saling bertengkar lebih penting. Namun, kenyataan sangat mengejutkan. Beberapa politisi Amerika Serikat tidak berusaha keras menyembuhkan orang sakit dan menyelamatkan jiwa manusia, tetapi berusaha melemparkan mantra seperti penyihir, berpikir dengan demikian bisa menyelamatkan jiwa.
Menurut sebuah artikel yang diterbitkan di situs web Atlantic Monthly di Amerika Serikat, Gedung Putih tidak mengambil langkah pencegahan dan pengendalian yang tegas dan efektif pada tahap awal epidemi, inilah sebab utama wabah merebak luas di Amerika Serikat. Bill Gates, ketua Yayasan Gates, dengan blak-blakan berkata, “Sejak awal, Tiongkok telah melakukan banyak hal yang benar, seperti halnya negara lain dimana terserang virus.” “Tapi, sungguh menyedihkan, Amerika Serikat yang mestinya bisa berbuat terbaik, justru memberi respon dan menanganinya dengan sangat buruk.”
“Stigmatisasi Tiongkok” membahayakan melawan-epidemi global. Amerika Serikat, sebagai kekuatan ekonomi dan teknologi nomor satu didunia, memiliki kemampuan ekonomi yang kuat, kemampuan penelitian ilmiah yang kuat, dan standar medis terkemuka, tentu diharapkan dengan efektif mengendalikan epidemi didalam negeri, bahkan bisa berbuat lebih banyak dalam kewajiban internasional dengan membantu negara dan wilayah yang lebih rentan. Namun, kinerja buruk beberapa politisi Amerika hanyalah merusak upaya global memerangi epidemi, merusak kerjasama komunitas umat manusia senasib, dan merusak harapan gotong-royong kampung halaman. Tiongkok teguh menganut konsep komunitas umat manusia senasib dan memberikan bantuan sesuai kemampuan kepada negara-negara terserang wabah epidemi. Presiden Rusia Vladimir Putin menunjukkan Tiongkok telah memberikan bantuan kepada negara-negara yang terkena dampak epidemi secara tepat waktu dan memberikan teladan yang baik bagi masyarakat internasional.
Trik yang telah berulang kali menjelek-jelekkan Tiongkok demikian didukung oleh 3 manipulasi politik dan tujuan politik yang menyeramkan. Hal ini terlihat dengan sangat jelas dari berbagai kalangan di Amerika Serikat dan masyarakat internasional. - “New York Times” menunjukkan, di Amerika Serikat, respons terhadap epidemi yang sangat besar, dan sampai batas tertentu “ditutupi oleh perhitungan politik”. Jim O’Neill, Ketua Royal Institute of International Studies, menulis sebuah tulisan berjudul ‘Mengkritik Tiongkok sebagai Strategi mengalihkan Perhatian yang Berbahaya’ menyebutkan,– “Bagi banyak pemerintah, menstigmatisasi Tiongkok nampak merupakan strategi mengalihkan perhatian orang untuk menyembunyikan kekurangan dan kesalahan mereka dalam kesiapsiagaan menghadapi epidemi didalam negeri. Saat ini, prioritas utama dunia seharusnya adalah tanggapan menyeluruh dan terkoordinasi terhadap krisis ganda, kesehatan dan ekonomi yang merupakan dampak epidemi.
“Virus politik” yang berbahaya, juga membutuhkan upaya bersama secara global untuk memeranginya. Pelapor Khusus PBB untuk masalah-masalah bangsa minoritas, Fernande Varenna, memperingatkan bahwa pneumonia korona baru bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga bisa menjadi virus yang memperburuk kebencian, xenophobia dan rasa dendam. Beberapa orang turunan Asia memakai masker dilecehkan dan dipukuli di jalan. Ini merupakan contoh yang mengerikan. Sebuah tajuk rencana yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah terkenal di dunia “Nature” menunjukkan: “Sejak wabah pneumonia korona baru, orang Asia di berbagai wilayah didunia telah menjadi target serangan rasisme, menyebabkan pukulan fisik dan mental dan kehilangan kesempatan hidup bagi banyak orang.”
Dalam menghadapi momok-penyakit, apakah itu fitnah dan provokasi, dengan menciptakan intrik, atau bersatu, bekerja sama, untuk mengatasi kesulitan, merupakan ujian moralitas dan hati nurani umat manusia sepanjang sejarah kehidupan, dan masa depan. Tidak perlu diragukan, jika “virus politik” dibiarkan akan berdampak pada keadilan internasional, dan beberapa politisi Amerika Serikat dibiarkan menggunakan virus sebagai senjata politik, berarti kerugian dan penderitaan dunia akan tak ternilai, sedang halaman sangat gelap akan tergores dalam sejarah umat manusia.

