Jumat, 24 April 2026

Natal, Menuntaskan Total Krisis Hidup: Tanggalkan Boneka Bayi Menggemaskan !

Oleh: Toga Tambunan

PARA GEMBALA di padang Betlehem tercengang, seorang malaikat menemui mereka mengabarkan : “Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (Lukas 2:10-11)

Selanjutnya mereka melihat parade bala tentara sorgawi memuji Allah, katanya: *“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”  (Lukas 2:14)

Teks Alkitab diatas ini telah sangat akrab bagi jemaat Kristiani, bahkan juga bagi beberapa diantara non Kristen.

Selanjutnya ketika Yesus berumur 8 hari, saatnya disunat, Simeon, seorang yang benar dan saleh, menantang Yesus, sudah rela tutup usia, sambil memuji Elohim Jahweh, berkata : “sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” (Lukas 2:30-32)

Sejak saya masih kecil hingga sekarang, perayaan Natal berbasis sukacita diekspresikan dalam tontonan yang ditampilkan untuk khalayak, yakni boneka bayi menggemaskan dikelilingi bingkisan kado bertimbun aneka ragam. Itulah atraksi agung meriah sistimatis, massif mencakup seluruh pelosok dunia, setiap 25 Desember. Narasi yang bertalu-talu bersahutan mengumandangkan Jesus, Juruslamat menebus dosa manusia, berkat darahnya tercurah akibat disiksa luarbiasa teramat bengis hingga mati terpaku di kayu salib di Golgota.

Bagaimana sebenarnya pemahaman orang Kristiani terhadap kabar kesukaan besar, datang dari malaikat secara semarak istimewa itu; pujian kemuliaan bagi Elohim Jahweh oleh sejumlah besar bala tentara sorga spesial sengaja datang dan sambutan Simeon yang mengherankan itu, berhubung kelahiran bayi dalam palungan di Betlehem 2000-an tahun lalu itu? Apakah menyongsong peran spektakuler yang akan dilakukan Yesus selaku Juruslamat menebus dosa manusia itu saja? Fase itu telah jadi kenyataan hingga Yesus naik ke surga setelah 50 hari bangkit dari kubur.

Salahkah merayakan Natal untuk memuliakan Yesus penebus dosa manusia itu? Tentu tidak, justru itulah kebenaran, ketika sebagian manusia berpendapat Yesus tidak mati, melainkan katanya dibebaskan dan disembunyikan kelompok penggemarNya.

Tapi tontonan boneka bayi menggemaskan dikelilingi kado bingkisan itu lho! Jemaat diajar bersukacita sebatas kelahiranNya imut-imut doang. Itupun utamanya sukacita citra lahiriah pamer bingkisan kado idee marketer lariskan dagangan. Inisiatif siapakah sumber atraksi boneka bayi imut-imut mengilustrasikan cara gituan hal kemuliaan kelahiran Yesus Kristus?

Terkait kelahiran Yesus itu, perhatikan seksama adalah pada masa perdagangan bangkit menggunakan uang selain alat pertukaran, juga telah jadi alat pemerasan tenaga kerja, alat penumpukan kekayaan, alat berkuasa, alat diskriminasi pada zaman perbudakan. Jadi bukan lagi orisinil alat pertukaran sebagaimana kultur sebelumnya pada zaman komunal.

Merujuk kepada Yesaya 9:1 dan 9:5-6 “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.”

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.” (Yesaya 9:1, 5-6)

Ayat diatas dan banyak lagi nubuatan tertulis dalam Perjanjian Lama, literasikan visi missi kedatangan Mesias itu adalah Raja diatas segala raja dan disebut Immanuel. Kelak di akhir zaman Yesus yang Immanuel itu ditegaskan keberadaan kekalnya oleh Rohkudus via wahyu kepada Johanes yang menuliskannya  “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi.” (Wahyu 21:1)

Realisme Kerajaan Elohim Jahweh itu adalah Langit Baru Bumi Baru, yang sengaja diciptakan Elohim Jahweh setelah bumi semula ini dimusnahkan. Perihal Immanuel itu, sebelumnya terkonfirmasi antara lain: “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yesaya 7:14)

Lucifer tahu Yesus penebus dosa manusia, karena sanggup berkarakter suci, sempurna, tak bercacat cela selama hidup. Sekaligus Yesus menjadi manusia pertama kali pembukti dosanya Lucifer, penyombangkan diri terhadap Elohim Jahweh. Lucifer tahu dan baca Wahyu 6: 10-11, hukuman binasa atas dirinya akan direalisasi jika digenapi sejumlah pengikut Yesus, juga sanggup membuktikannya berdosa. “Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: “Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi? Dan kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka.” (Wahyu 6:10-11)

Jadi Lucifer pun tahu, dia berpeluang tidak binasa, asalkan tidak ada manusia sanggup seperti Yesus pembuktikan dosanya sombong terhadap Elohim Jahweh.

Lucifer tidak juga bisa total mencegah kemauan manusia mendekati Yesus. Lucifer yang memang berakal pintar istimewa mengatur aksinya hingga iman orang percaya itu sebatas paradigma pseudo percaya saja terhadap Yesus.

Lucifer menggiring raja Konstantinus mengakomodasi ke-Kristen-an dan mendekritkan kerajaannya menganut agama Kristen. Konstantinus bertindak selaku penghulu gereja menyalurkan paradigmanya akan Tuhan Yesus. Doktrin demi doktrin, denominasi demi denominasi bertabur.

Orang beragama Kristen diplot mindset atau berperasaan berpikir sebatas romantisme umat Perjanjian Lama, yakni fokus kejar susu madu kesenangan hidup di dunia.

Selain itu muncul ajaran pembantah kebenaran Yesus itu mati tersalib, meski mengakui nabi Isa itu Roh Allahnya.

Lucifer mengkordinasi adu domba kondisi sosial berupa kontradiksi klas. Dibangkit teologi kemakmuran yang akomodatif akan kapitalisme, pengacung bedil. Anti tesis tampil teologi pembebasan, akomodatif Marxisme, pengacung bedil juga. Kontradiksi di masyarakat meningkat tajam bervariasi, sebagian dari krisis hidup manusia rekayasa Lucifer.

Dalam mindset Lucifer, semakin memupuk manusia mementingkan diri sendiri, terbuka baginya terhindar binasa.

Kini otomatis gereja di seluruh pelosok bumi, melanjutkan pseudo-iman Kristen, paradigma romantisme umat Perjanjian Lama. Iman Gereja mula-mula tidak dikenal lagi. Atau jika terdapat jemaat beriman Gereja mula-mula, mungkin hanya satu dua jemaat saja secara sporadis.

Denominasi beriman Gereja mula-mula, mengalami perasaan pikiran serupa Tuhan Yesus, berkarakter kudus, sempurna, bersih dari cacat cela seperti tindakan Rohkudus dicontohkan terhadap Ananias dan Safira, apakah ada? Orang-orang berkatepe Kristen terbukti melakukan yang dilarang Rohkudus : “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu – seperti yang telah kubuat dahulu – bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah” (Galatia 5:19-21)

Lihatlah yang diajarkan Menko Marves LBH Panjaitan disiarkan TV pada 2 Desember 2022 lalu bahwa “kalau bersih bersih ke sorga kau”, artinya wajar tidak berbuat bersih jika masih hidup di dunia. Padahal larangan korupsi sudah ditegaskan dalam undang-undang, tetap berbuat juga korupsi, apalagi jika diberi peluang walau sedikit. Gimana itu ompung LBH Panjaitan, bukankah UU wajib ditegakkan? Sosok LBH Panjaitan ini, representasi kebobrokan moral, termasuk diantara pendeta atau aktivis gereja. Saya tahu karena dahulu pernah aktivis gereja.

Tindak Lucifer menginjeksi seluruh manusia dengan kimiawi nafsu sombong perakit krisis demi krisis hidup bermusuhan, saling mengutamakan kepentingan sendiri. Uang dijadikan instrumen utama memacu kesombongan sampai kini. Terlebih permusuhan antar negara, apalagi antar negara super. Bukan tanpa dasar Rohkudus mengatakan, “karena akar segala kejahatan ialah cinta uang…… (1 Tim. 6:10).

Lucifer mengutak atik tehnik merendahkan kemuliaan keagungan Yesus yang terdapat dalam batin Kristiani. Alasan motif memuja Yesus, Lucifer merakit tampilan Yesus pada perayaan kelahiranNya dengan boneka bayi imut-imut. Padahal atraksi itu meleceh rendahkan bahkan menista pribadi Tuhan Yesus. Ternyata betapa miskin kepekaan jemaat Kristen tak merasa ditipu terang benderang tersorot cahaya laser!

Yesus itu Tuhan, sang Raja untuk kemuliaan Elohim Jahweh! Patutkah diagungkan dengan boneka bayi, ketika memuliakanNya?

Rohkudus sebenarnya sudah mengantisipasi maksud cara julig Lucifer itu, menegur keras jemaat di Efesus, Pergamus, Tiatira, Sardis, Laodikia, dan juga menguatkan pendirian jemaat di Smirna serta Filadelfia.

Sangking jahatnya Lucifer, Tuhan Yesus sendiri selagi di bumi sudah berkata dan ditulis Lukas pada kitabnya pasal 18:8, “………Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”

Desain Elohim Jahweh mengutus AnakNya ke dunia selain menebus dosa manusia, juga beragenda Immanuel hingga di Langit Baru Bumi Baru (LB3).

Elohim Jahweh memberi peluang bagi orang percaya menuntaskan krisis hidup untuk masuk ke LB3 dan disana situasi Immanuel kekal.

Setelah dikarunia penebusan dosa kita dituntut: “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir” (Filipi 2:1)

Camkan, sambutlah Yesus sang Raja untuk kemuliaam Eloh Jahweh, tanggalkan pajangan boneka bayi imut-imut yang menista Tuhan Yesus itu, serta kubur kesombongan menuntaskan krisis hidup.
Bergegaslah memiliki kualifikasi kudus tak bercacat cela agar masuk ke Langit Baru Bumi Baru menikmati sukacita Immanuel secara kekal dan juga segala kesenangan serta properti yang tersedia di sana.

SELAMAT HARI NATAL 2022.

* Penulis Toga Tambunan, Evangelis Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles