JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kepada 200 pengemplang pajak untuk segera membyar kewajiban pajaknya kepada negara dalam waktu sepekan ke depan.
Adapun 200 wajib pajak ini merupakan pengemplang pajak dengan status hukum tetap atau inkrah.
Total nilai pajak yang harus dibayar sangat besar, mencapai Rp 60 triliun.
“Kemarin saya bilang, itu yang nggak bayar pajaknya ada Rp 60 triliun kan, yang pembayar pajak terbesar 200 (wajib pajak) yang sudah inkrah. Itu dalam waktu seminggu akan saya paksa bayar,” ujarnya saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (23/9/2025).
Dia mengancam, apabila 200 pengemplang pajak itu tidak membayar sesuai batas waktu yang ditentukan itu, dipastikan hidupnya akan kesulitan.
Oleh karenanya, dia yakin tunggakan pajak sebanyak Rp 60 triliun itu akan masuk ke kas negara pada tahun ini sehingga target penerimaan pajak tahun ini dapat tercapai.
Kepada Brrgelora.com di Jakarta dilaporkan, sebagai informasi, per 31 Agustus 2025 realisasi penerimaan pajak baru Rp 1.135,4 triliun atau 54,7 persen dari outlook tahun ini sebesar Rp 2.076,9 triliun.
“Pasti masuk (bayar tunggakan pajak ke negara). Kalau enggak dia susah hidupnya di sini,” tegasnya.
Di sisi lain, Purbaya juga akan memastikan para wajib pajak yang patuh melaksanakan kewajiban emmbayar pajak untuk dimudahkan urusannya. Bahkan dia bertekad untuk membuka kanal pengaduan khusus bagi wajib pajak yang menemui masalah seperti misalnya mengalami pemerasan oleh pegawai Direktorat Jenderal Pajak (DJP) kemenkeu.
“Kita melakukan fair treatment. Kalau sudah bayar pajak, jangan diganggu sama sekali. Dan nggak ada lagi cerita pegawai pajak, meras-meras itu,” ucapnya.
Ke depan, pihaknya akan terus menginvestigasi celah-celah penerimaan negara yang bocor untuk memastikan optimalisasi penerimaan negara.
Sebab dia menduga terdapat celah penerimaan yang bocor cukup besar, nilainya bahkan melebihi tunggakan pajak 200 pengemplang pajak tersebut.
“Ada, ada yang besar sekali tapi belum selesai saya buka. Jadi target defisit (APBN 2025) aman,” tukasnya. (Enrico Abdielli)

