Sabtu, 2 Mei 2026

DANANTARA MALAH MAU INVESTASI Rp1.500 TRILIUN..! Rugi Berbisnis EBT, Perusahaan Minyak Inggris Ini Balik ke ‘Asalnya’

JAKARTA – Pergantian pucuk pimpinan di BP (British Petroleum) menjadi penanda babak baru arah bisnis perusahaan minyak asal Inggris tersebut. BP yang sebelumnya memiliki strategi untuk meninggalkan bisnis minyak dan gas bumi (migas) dan fokus untuk mengembangkan energi baru terbarukan, akhirnya “menyerah” dan kembali ke bisnis utama di awalnya, yakni minyak dan gas bumi.

Mengutip laman resmi perusahaan, Jumat (2/1/2026) BP menyampaikan bahwa Dewan Direksi telah menunjuk Meg O’Neill sebagai Chief Executive Officer (CEO) BP yang baru, efektif mulai 1 April 2026. Sementara, Murray Auchincloss memutuskan mundur dari jabatannya sebagai CEO sekaligus anggota Dewan Direksi, efektif Kamis, 18 Desember 2025.

Saat ini, Meg O’Neill menjabat sebagai CEO Woodside Energy, perusahaan migas berbasis di Australia. Sejak ditunjuk pada 2021, ia berhasil mengembangkan Woodside menjadi perusahaan energi terbesar yang tercatat di Bursa Efek Australia.

Salah satu pencapaian utamanya adalah mengawasi akuisisi strategis BHP Petroleum International yang memperkuat portofolio global aset minyak dan gas berkualitas tinggi.

Sebelum bergaqbung dengan Woodside pada 2018, O’Neill menghabiskan 23 tahun kariernya di ExxonMobil, menempati berbagai posisi teknis, operasional, hingga kepemimpinan di berbagai negara.

BP Bakal Fokus Genjot Bisnis Hulu Migas

Mengutip BBC, di bawah kepemimpinan O’Neill, yang saat ini memimpin perusahaan minyak dan gas Australia, Woodside Energy, BP diperkirakan akan melanjutkan strategi terbarunya, yakni menjauh dari energi terbarukan dan kembali memfokuskan pada bisnis inti yaitu minyak dan gas bumi.

O’Neill mengatakan dirinya menantikan kesempatan untuk membantu BP melakukan perannya dalam memenuhi kebutuhan energi dunia. Penunjukan O’Neill yang terbilang mengejutkan ini terjadi hanya tiga bulan setelah BP menunjuk Chairman baru, Albert Manifold.

Pada Februari, raksasa energi tersebut menyatakan akan mengubah strateginya setelah mendapat tekanan dari sejumlah investor yang frustasi karena laba dan harga saham BP tertinggal dibanding para pesaingnya.

Pesaing BP, seperti Shell dan perusahaan Norwegia Equinor, juga telah memangkas rencana investasi di energi hijau. Selain itu, seruan Presiden AS Donald Trump untuk “drill baby drill” juga telah mendorong perusahaan-perusahaan berinvestasi kembali di bahan bakar fosil.

Transisi Energi Tidak Bisa Dipaksakan

Mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menilai perubahan arah strategi bisnis BP dalam dua dekade terakhir menjadi pelajaran penting bagi industri migas global.

Menurut dia, langkah BP meninggalkan identitas British Petroleum menuju Beyond Petroleum justru memunculkan tantangan bagi keberlanjutan bisnis. Ia pun mengingatkan pada tahun 2000 dunia sempat dikejutkan oleh rebranding BP tersebut.

“Sebagai salah satu super major di oil and gas dan menjadi panutan banyak perusahaan minyak dunia, merubah strategi dengan tidak lagi fokus kepada bisnis oil and gas tapi ke renewable membuat banyak pihak skeptikal terhadap keputusan ini,” kata Arcandra, dikutip dari akun Instagramnya, dikutip Bergelora.com si Jakarta, Sabtu (3/1/2026).

Arcandra mengakui isu perubahan iklim yang mulai menguat sejak awal 2000’an mendorong perusahaan minyak dunia meninjau ulang strategi bisnis jangka panjang. Tekanan regulasi lingkungan yang semakin ketat, serta berkurangnya akses pendanaan investor terhadap energi fosil, menjadi faktor utama yang membuat BP memilih rebranding lebih cepat dibandingkan para pesaingnya.

Meski begitu, ia memandang perubahan strategi dari perusahaan migas menjadi perusahaan energi tidak serta merta bisa dijalankan begitu saja. Setidaknya perlu masa transisi dari kebiasaan menggunakan energi fosil yang tinggi emisi karbon ke penggunaan energi non-fosil yang ramah lingkungan.

“Di sinilah terjadi perbedaan strategi di antara perusahaan-perusahaan minyak dunia,” katanya.

Menurut dia, BP mengambil inisiatif untuk menjadi pemimpin dalam transisi energi dengan memberikan lebih banyak investasi di bisnis energi baru terbarukan. Sementara Shell berstrategi dengan mengutamakan bisnis gas yang rendah emisi.

TotalEnergies, perusahaan asal Prancis, lebih memilih strategi wait and see dengan menyeimbangkan bisnis energi fosil dan renewable. Exxon tetap mempertahankan bisnis hidrokarbon tanpa melakukan rebranding ke energi terbarukan, dengan fokus pada strategi dekarbonisasi melalui pengembangan Carbon Capture and Storage (CCS).

“Sedikit berbeda dengan Exxon, Chevron menjalankan pengetatan belanja modal di oil and gas tapi tetap melakukan bisnis di energi fosil dengan sedikit narasi ke energi terbarukan,” kata Arcandra.

Adapun, setelah lebih 20-an tahun menjadi pemimpin transisi energi, BP akhirnya menyadari realita yang terjadi. Bisnis energi baru terbarukan menghasilkan return (profit) yang kecil, sehingga tingkat pengembalian investasi (modal) yang lebih lama.

Di banyak negara, termasuk Eropa, bisnis energi baru terbarukan menurutnya sangat bergantung kepada subsidi pemerintah dan regulasi yang berpihak. Tanpa kedua komponen ini, bisnis energi baru terbarukan menjadi susah untuk berkembang.

Di sisi lain, bisnis minyak dan gas setelah tahun 2021 menghasilkan return yang jauh lebih baik walaupun dengan modal yang sangat besar. Rata-rata dividen kepada shareholder juga jauh lebih tinggi sehingga tekanan kepada BP untuk fokus ke oil and gas semakin besar.

“Inilah realita yang harus diterima oleh perusahaan yang go public. Kebanyakan shareholder lebih peduli terhadap berapa besar deviden dan nilai saham dibandingkan dengan narasi tentang bisnis rendah emisi karbon,” lanjutnya.

Oleh karena itu, Arcandra menyebut dengan kinerja keuangan yang kurang memuaskan dalam beberapa tahun terakhir ditambah dengan valuation gap yang cukup besar dibandingkan dengan major oil company yang lain, maka pada Desember 2025 BP memutuskan untuk 3 hal besar.

Pertama, mengganti CEO dari Murray Auchincloss ke Meg O’Neill. Pergantian Murray Auchincloss disinyalir karena ketidakpercayaan investor akan kemampuannya membawa BP kembali ke bisnis oil and gas. Walaupun dia sudah mencoba untuk mengurangi investasi di renewable energy tapi belum cukup untuk meyakinkan investor.

“Bagaimana dengan Meg O’Neill? Dia sudah punya track record yang mumpuni sebagai CEO perusahaan minyak Australia Woodside Energy. Dia akan menjadi CEO BP pertama yang berasal dari luar BP dan juga perempuan pertama yang memimpin BP,” ujarnya.

Arcandra menilai bahwa shareholder sangat berharap akan kepiawaian Meg O’Neill untuk berinvestasi di hulu dan hilir migas yang memberikan return yang besar dan meningkatkan kinerja operasi yang lebih baik.

Langkah kedua yang dilakukan BP adalah menjual sebagian saham anak perusahaan yang return-nya tidak terlalu tinggi. Yang menjadi korban pertama adalah perusahaan Castrol Lubricant di mana BP menjual 65% sahamnya ke Stonepeak untuk mendapatkan dana sekitar US$ 10 miliar.

“Hasil penjualan ini diperkirakan akan digunakan untuk mengurangi utang-utang BP dan membeli aset upstream dan downstream,” tulis Arcandra.

Langkah ketiga adalah membeli aset-aset upstream yang memberikan return yang lebih baik. Salah satu yang baru dibeli adalah lapangan Atlantis Drill Center 1 di the U.S. Gulf of Mexico dimana produksinya selama ini diolah di Platform Atlantis punya BP.

Selain lapangan ini sudah berproduksi, risiko investasi BP juga kecil karena BP sudah mempunyai data yang cukup untuk mengevaluasinya.

“Dengan tiga Langkah besar di atas, kita jadi paham bahwa BP sangat serius untuk fokus kembali ke bisnis oil and gas,” katanya.

Arcandra lantas menegaskan bahwa strategi yang dilakukan oleh BP bisa menjadi pembelajaran, bahwa tidak ada kata terlambat untuk berbenah dan melakukan corrective actions. Strategi baru yang lebih sesuai dengan kondisi zaman bisa dilakukan tanpa harus menunggu sampai keadaan memburuk.

Danantara Investasi Rp 1.500 T Bangun Pembangkit Listrik 70 GW

Sebelumnya dilaporlan, pemerintah punya target besar untuk membangun pembangkit listrik 70 gigawatt (GW) dalam 10 tahun ke depan, dengan fokus utama pada Energi Baru Terbarukan (EBT). Untuk merealisasikannya, dibutuhkan investasi hingga Rp 1.500 triliun.

Hal ini tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) periode 2025-2034. RUPTL PLN sendiri merupakan dokumen perencanaan strategis untuk mengembangkan dan menyediakan tenaga listrik di Indonesia.

Senior Director Business Performance & Assets Optimization Danantara, Bhimo Aryanto mengatakan, sesuai RUPTL dalam 10 tahun ke depan, Indonesia harus membangun 70 GW pembangkit listrik baru yang 76% di antaranya EBT.

“Secara capex (belanja modal) kalau kita bayangkan, itu akan ada lebih dari Rp 1.500 triliun mungkin,” kata Bhimo dalam acara Public & Business Leader Forum di Hotel Sari Pacific Jakarta, Autograph Collection, Jakarta Pusat, dikutip Bergelora.com Sabtu (3/1/2026).

Menurutnya, investasi tersebut tidak mungkin terpenuhi hanya dari dalam negeri. Dibutuhkan investasi dalam jumlah besar untuk membantu merealisasikannya.

“Secara liquidity juga tidak akan memungkinkan kalau kita semuanya bersumber dari dalam. Artinya apa? Sudah jelas, secara potensi ekonomi sudah ada di depan mata kita. Pertanyaannya apakah ini akan kita kerjakan sendiri? Which is nggak mungkin,” ujarnya.

Oleh sebab itu, saat ini Danantara aktif menwarkan ke investor-investor luar negeri untuk masuk ke proyek EBT di Indonesia. Diskusi dan pertemuan dengan komunitas investasi global juga rutin dilakukan.

Investasi ini menjadi langkah penting dalam rangka membantu menggerakkan ekonomi nasional, sekaligus juga membantuIndonesia keluar dari perangkap negara berpendapatan menengah.

“Sehingga tadi ujungnya, objektif strategic national objektif yang 8% pertumbuhan ekonomi menuju ke mencegah middle income trap bisa kita lakukan bersama-sama dengan seluruh pilar yang ada,” kata dia.

Sebagai informasi, PLN memiliki target untuk menambah kapasitas pembangkit atau sumber listrik EBT 52,9 GW dalam 10 tahun. Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto, mengatakan dalam RUPTL ditargetkan kapasitas pembangkit listrik bertambah 69,5 GW hingga 2034. Dari jumlah tersebut, sebesar 76% atau 52,9 GW bersumber dari pembangkit EBT.

“PLN sangat antusias dalam hal mengembangkan ekonomi hijau. Ini sesuatu hal yang akan kita kembangkan menjadi yang sangat inovatif ke depan. Di mana dalam RUPTL 2025-2034, PLN akan membangun 69 GW (kapasitas pembangkit) dan 75% akan dibangun dari energi hijau,” kata Adi, dalam acara detikcom Awards di The Westin Jakarta, Selasa (25/11/2025). (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles