JAKARTA – Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia melaporkan, setidaknya 3.428 demonstran tewas dalam demo besar dan lebih dari 10.000 orang ditangkap, Rabu (14/1/2026). Menurut IHR, lonjakan jumlah korban yang terverifikasi diterima dari dalam Kementerian Kesehatan dan Pendidikan Iran.
Setidaknya, 3.379 pembunuhan terjadi selama puncak gerakan protes pada 8-12 Januari.
“Menyusul pembunuhan massal para demonstran di jalanan dalam beberapa hari terakhir, lembaga peradilan Republik Islam mengancam para demonstran dengan eksekusi besar-besaran,” kata Direktur IHR, Mahmood Amiry-Moghaddam, dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Euronews.
“Masyarakat internasional harus menanggapi ancaman ini dengan sangat serius karena para pejabat Republik Islam melakukan kejahatan serupa pada tahun 1980-an untuk mempertahankan kekuasaan,” sambungnya.
Komentar-komentar tersebut muncul setelah kepala badan peradilan Iran memberi sinyal akan ada persidangan cepat dan eksekusi terhadap tersangka yang ditahan.
“Jika kita ingin melakukan suatu pekerjaan, kita harus melakukannya sekarang. Jika kita ingin melakukan sesuatu, kita harus melakukannya dengan cepat,” kata Gholamhossein Mohseni-Ejei dalam sebuah video yang ditayangkan di televisi pemerintah Iran.
“Jika terlambat, dua bulan, tiga bulan kemudian, dampaknya tidak akan sama. Jika kita ingin melakukan sesuatu, kita harus melakukannya dengan cepat,” lanjutnya.
Demonstrasi dimulai pada 28 Desember, dilatarbelakangi oleh runtuhnya mata uang rial dan kondisi ekonomi negara.
Presiden AS Donald Trump telah berulang kali memperingatkan tentang potensi tindakan militer atas pembunuhan para demonstran damai.
“Jika mereka melakukan hal seperti itu, kami akan mengambil tindakan yang sangat tegas,” kata Trump.
Dalam sebuah pernyataan pada Rabu, para menteri luar negeri negara-negara G7 mengatakan, mereka sangat prihatin atas tindakan keras keamanan terhadap para demonstran di Iran.
“Kami mendesak pihak berwenang Iran untuk menahan diri sepenuhnya, menghindari kekerasan, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kebebasan mendasar warga negara Iran,” bunyi pernyataan itu.
“Termasuk hak atas kebebasan berekspresi, untuk mencari, menerima, dan menyampaikan informasi, serta kebebasan berasosiasi dan berkumpul secara damai, tanpa takut akan pembalasan,” sambungnya.
Sementara itu, Iran telah menuduh Israel dan Amerika Serikat telah mengatur protes tersebut.
Kepala Korps Garda Revolusi Islam mengatakan, Iran siap untuk menanggapi musuh-musuhnya secara “tegas”.
“Garda Revolusi Iran (IRGC) berada dalam kesiapan penuh untuk menanggapi secara tegas kesalahan perhitungan musuh,” kata Komandan IRGC, Mohammad Pakpour, dalam pernyataan tertulis.
Ia juga menuduh Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai pembunuh pemuda Iran.
AS Kerahkan Jet F-35 dan Bomber ke Qatar,

Kepada Bergelota.com di Jakarta, Kamis (15/1) dilaporkan, Amerika Serikat (AS) mengerahkan jet tempur F-35, bomber, dan pesawat tanker ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Sebagai markas besar terdepan Komando Pusat AS atau CENTCOM, Pangkalan Udara Al Udeid sangat penting untuk memproyeksikan kekuatan udara Amerika.
Kehadiran kekuatan yang besar di sana dapat memperkuat pencegahan dan memperluas jangkauan pasukan AS di seluruh Timur Tengah, sebagaimana dilansir WION, Selasa (13/1/2026).
Pangkalan tersebut sempat menjadi sasaran serangan rudal Iran pada pertengahan tahun lalu, ketika konflik Teheran-Israel meletus.
Diberitakan sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan opsi serangan udara ke Iran, di tengah meningkatnya kekerasan terhadap para demonstran di negara tersebut.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt pada Senin (12/1/2026) menyatakan, serangan udara menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan untuk menghentikan penindasan terhadap warga sipil.
“Satu hal yang sangat dikuasai Presiden Trump adalah selalu mempertimbangkan semua opsi yang ada, dan serangan udara akan menjadi salah satu dari banyak opsi yang tersedia bagi panglima tertinggi,” kata Leavitt kepada wartawan di luar Gedung Putih, dikutip dari kantor berita AFP.
Meski demikian, Leavitt menegaskan bahwa pendekatan diplomatik tetap menjadi prioritas utama Trump.
“Diplomasi selalu menjadi pilihan pertama bagi presiden,” ujarnya.
Leavitt juga mengungkapkan, terdapat perbedaan sikap antara pernyataan publik dan komunikasi internal Pemerintah Iran. ”
Apa yang Anda dengar secara publik dari rezim Iran sangat berbeda dari pesan-pesan yang diterima pemerintah secara pribadi, dan saya pikir presiden tertarik untuk mengeksplorasi pesan-pesan tersebut,” ucap Leavitt.
Menurutnya, Iran menunjukkan nada yang jauh berbeda dalam diskusi pribadi dengan utusan khusus Trump, Steve Witkoff.
Di sisi lain, pemerintah Iran menuding AS sedang mempersiapkan dalih dan alasan untuk melancarkan serangan di Iran. Tudingan tersebut disampaikan Misi Iran di PBB melalui akun media sosial X pada Selasa.
Misi Iran untuk PBB menyebut, AS berambisi ingin menggulingkan rezim di Iran melalui berbagai cara dan skenario.
“Dengan sanksi, ancaman, kerusuhan yang direkayasa, dan kekacauan sebagai modus operandi untuk menciptakan dalih bagi intervensi militer,” tulis misi tersebut, sebagaimana dilansir AFP. Misi Iran di PBB menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam.
Lembaga itu juga menyebutkan semua strategi serta skenario Washington di Iran akan gagal.
Satu Rial Iran Kini Tak Sampai Setengah Rupiah Indonesia

Sementara itu dilaporkan, nilai mata uang Iran, rial, merosot tajam di tengah gelombang demonstrasi besar-besaran yang sudah berlangsung sepanjang dua pekan.
Padq Rabu (14/1/2026), nilai mata uang rial anjlok hingga mencatatkan rekor terendah sepanjang sejarah.
Nilainya kini menembus level 1.066.307 rial per dollar AS di pasar terbuka (perhitungan lewat Xe.com pada 15/1/2026 pagi). Kondisi ini menggambarkan betapa beratnya tekanan ekonomi Iran sekarang.
Lantas, berapa nilai satu rial jika dikonvesikan dalam mata uang Indonesia, rupiah?
Satu Rial Hanya Setara Rp 0,01
Nilai mata uang rial Iran (IRR) terhadap rupiah Indonesia sekarang ini menempati level yang sangat rendah. Berdasarkan perhitungan kasar, 1 rial kini tak sampai setengah rupiah Indonesia. 1 rial hanya setara sekitar Rp 0,01 jika dikonversikan menjadi rupiah Indonesia.
Dengan begitu, 100.000 rial baru mendapatkan kurang lebih Rp 1.580 (perhitungan xe.com 15/1/2026 pagi). Angka ini menunjukkan betapa lemahnya mata uang Iran seiring adanya depresiasi dalam beberapa tahun terakhir.
Adanya inflasi Sebesar 43 Persen
Jatuhnya nilai rial dalam beberapa tahun terakhir mengubah lanskap ekonomi Iran. Berdasarkan data resmi dari Bank Sentral Iran, negaranya mengalami tingkat inflasi tahunan dengan rata-rata sebanyak 43 persen. Hal ini sudah terjadi sepanjang delapan tahun,
Akumulasi inflasi tinggi tersebut memicu kenaikan harga barang dan jasa lebih dari 17 kali lipat.
Ini Penjelasannya
Diprediksi, situasi ini secara efektif mengikis daya beli 94 persen penduduk. Tekanan inflasi juga tergambar pada harga emas di Iran. Secara global, emas naik signifikan di angka 230 persen dari 2018 hingga 2026.
Namun di Iran, harga emas 18 karat melaju tajam dari 1.387.00 rial (Rp 556.773) menjadi 160.550.000 rial (Rp 64 juta). Artinya, ada kelonjakan harga lebih dari 115 kali lipat.
Jika harga emas secara global tetap stagnan, harga emas di Iran hanya akan mengikuti kenaikan nilai dolar AS. Namun karena emas melonjak, maka ini memperparah trauma finansial Iran.
Penyebab Runtuhnya Rial
Kombinasi sanksi internasional kepada Iran menjadi salah satu faktor runtuhnya nilai rial. Belum lagi ditambah, inflasi kronis dan isolasi diplomatik.
Sejak September 2025 lalu, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) kembali memberlakukan sanksi terhadap Iran. Itu terjadi setelah Dewan Keamanan PBB gagal mengesahkan resolusi untuk mempertahankan keringanan sanksi.
Pelonggaran sanksi yang dimaksud berkaitan dengan kesepatakan non-proliferasi yang mempunyai tujuan untuk membatasi Iran dalam membuat senjata nuklir.
Sanksi PBB kembali aktif mencakup embargo senjata konvensional, pembatasan kaitannya dengan program rudal balistik Iran, pembekuan aset yang ditargetkan, serta larangan perjalanan.
Di sisi lain, Uni Eropa juga turut menjatuhkan sanksi kepada Iran. Sanksinya serupa ditambah sanksi yang berkaitan dengan catatan hak asasi manusia Iran dan perannya dalam menyuplai drone ke Rusia yang digunakan untuk invasi Ukraina.
Penurunan drastis mata uang rial menjadi salah satu faktor demo besar-besaran yang ada di Iran. Dalam laporan,l Minggu (4/1/2026) masyarakat Iran mengkhawatirkan tentang biaya hidup yang terus melonjak.
Turunnya mata uang ini menyebabkan kerugian yang sangat signifikan terhadap biaya hidup masyarakat sana. Selain mendorong inflasi, ambrolnya nilai Rial berpengaruh pada harga pangan yang sekarang naik sebesar rata-rata 72 persen dibanding tahun lalu.
Salah satu masyarakat Iran yang berprofesi sebagai sopir taksi Majid Ebrahimi mengatakan sekarang harga pangan melonjak naik, termasuk susu yang harganya mencapai enam kali lipat dan barang lainnya yang naik hingga 10 kali lipat
. “Andai saja pemerintah, alih-alih hanya fokus pada bahan bakar, bisa menurunkan harga barang-barang lain,” ucapnya kepada Al Jazeera. (Web Warouw)

