Selasa, 28 April 2026

DITINGGAL SENDIRIAN NIH..! Geram Pada Zelensky, Negara NATO Gagalkan Dana Rp 1.700 Triliun ke Ukraina

JAKARTA – Hungaria resmi memblokir usulan pinjaman darurat Uni Eropa senilai 90 miliar euro (Rp 1.783,71 triliun) untuk Ukraina serta paket sanksi terbaru terhadap Rusia. Langkah ini diambil Budapest sebagai respons atas tuduhan sabotase pasokan minyak oleh Kyiv yang dinilai mengancam keamanan energi nasional mereka.

Veto ganda tersebut diajukan Hungaria pada Senin (23/2/2026) waktu setempat di tengah perselisihan sengit dengan Kyiv terkait pipa minyak Druzhba peninggalan era Soviet. Jalur pipa yang membawa minyak mentah Rusia ke Hungaria dan Slovakia ini telah berhenti beroperasi sejak akhir Januari lalu.

Pihak Kyiv mengklaim bahwa kerusakan pipa tersebut disebabkan oleh serangan Rusia, namun tuduhan tersebut dibantah keras oleh Moskow. Hungaria justru mendukung sikap Moskow dan menuduh Kyiv sengaja menahan pasokan minyak demi alasan politik dan melakukan “blokade minyak” terhadap negaranya.

Menteri Luar Luar Negeri Hungaria, Peter Szijjarto, menegaskan posisi keras negaranya setelah pertemuan para diplomat tinggi blok tersebut yang membahas paket pinjaman dan sanksi. Ia menyatakan bahwa Hungaria tidak akan tunduk pada tekanan yang dianggapnya sebagai upaya pemerasan.

“Ukraina tidak bisa memeras kami; mereka tidak bisa membahayakan keamanan pasokan energi Hungaria dengan berkolusi bersama Brussel dan oposisi Hungaria. Tidak, ini adalah jawaban ‘tidak’ yang jelas,” ujar Szijjarto.

Kegagalan kesepakatan ini memicu kekecewaan dari pimpinan Uni Eropa yang sebelumnya optimis kebijakan tersebut akan disahkan. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyebut keputusan Hungaria ini sebagai hambatan besar bagi diplomasi blok tersebut di tengah konflik yang masih berlangsung.

“Kepemimpinan blok mengharapkan langkah-langkah ini disetujui dalam pertemuan tersebut. Ini adalah kemunduran besar dan sebuah pesan yang tidak ingin kami kirimkan hari ini,” ungkap Kallas.

Pinjaman senilai 90 miliar euro ini sebenarnya telah disepakati pada Desember lalu. Saat itu, Hungaria, Slovakia, dan Republik Ceko mendapatkan skema pengecualian yang memungkinkan mereka untuk tidak memberikan kontribusi finansial secara langsung ke dalam program tersebut.

Namun, penghentian operasional pipa Druzhba membuat Hungaria dan Slovakia geram. Pekan lalu, kedua negara tersebut mengumumkan akan menangguhkan ekspor diesel ke Ukraina hingga pipa kembali beroperasi, bahkan Perdana Menteri Slovakia Robert Fico mengancam akan menghentikan bantuan listrik darurat.

Robert Fico menegaskan bahwa dirinya akan menepati janji tersebut dan telah mengangkat masalah ini kepada penyedia listrik nasional. Ia mencatat bahwa pada Januari saja, Kiev menerima lebih banyak listrik darurat dari Slovakia dibandingkan sepanjang tahun 2025 untuk menstabilkan jaringan energinya akibat serangan jarak jauh Rusia.

“Saya akan menepati janji saya,” tegas Fico terkait ancaman penghentian pasokan listrik jika Kyiv tidak segera memulihkan pengiriman minyak dalam waktu dua hari.

Zelensky Curhat Sakit Hati pada Trump

Sementara itu kepada Bergelora.com di Jakarta, Selasa (24/2) dilaporkan, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengaku menaruh harapan besar kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang dengan Rusia. Namun di saat yang sama, ia menyimpan kegelisahan atas kedekatan Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Zelensky bahkan menyebut sikap Trump terhadap Putin terkadang terasa menyakitkan baginya.

Meski demikian, ia tetap percaya Trump memiliki niat sungguh-sungguh untuk menghentikan konflik yang telah berlangsung bertahun-tahun itu.

Percaya Trump, Tapi Tak Pahami Hubungannya Dengan Putin

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (kanan) merasa bahwa sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump (tengah) terlalu baik terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin saat perang Rusia-Ukraina masih bergejolak. (Ist)

Dalam wawancara yang ditayangkan di kanal YouTube program Piers Morgan Uncensored pada Rabu (18/2/2026), Zelensky secara terbuka menyampaikan keyakinannya kepada Trump.

“Saya percaya kepadanya (Trump). Dia benar-benar ingin mengakhiri perang ini, dan saya percaya bahwa dia benar-benar bisa mengakhiri perang ini,” ujar Zelensky.

Kendati demikian, ia mengaku tidak bisa menilai secara pasti seperti apa hubungan pribadi antara Trump dan Putin.

“Tapi saya tidak tahu, untuk berbicara tentang hubungannya dengan Putin,” lanjutnya.

Zelensky menekankan bahwa persoalan tersebut bukan soal rasa percaya atau tidak percaya. Ia hanya merasa tidak memiliki gambaran utuh mengenai relasi keduanya.

“Mereka memiliki semacam relasi, saya yakin, dan itulah mengapa bagi saya, terkadang sangat, sangat menyakitkan bahwa sikapnya terhadap Putin kadang-kadang, bisa dibilang, lebih baik daripada yang layak diterima Putin,” kata Zelensky.

Upaya Gencatan Senjata

Sejak kembali menjabat untuk periode kedua, Trump aktif berkomunikasi langsung dengan Putin guna mencari jalan keluar dari konflik paling berdarah di Eropa sejak Perang Dunia II.

Keduanya beberapa kali berbicara melalui sambungan telepon dan bahkan bertemu di Alaska pada Oktober lalu, meski pertemuan tersebut belum menghasilkan kesepakatan damai permanen.

Upaya diplomatik itu sempat membuahkan gencatan senjata selama satu pekan pada awal tahun ini.

Namun, menurut laporan, Rusia diduga melanggar kesepakatan tersebut hanya beberapa hari setelah diberlakukan, termasuk dengan menyerang fasilitas pembangkit listrik Ukraina di tengah suhu musim dingin yang membekukan.

Di sisi lain, Trump menyatakan bahwa Putin “menepati janjinya” dan tidak melanggar kesepakatan yang telah dibuat.

Rakyat Ukraina Lelah Perang

Menjelang empat tahun sejak invasi Rusia dimulai, Zelensky menggambarkan kondisi psikologis warganya yang semakin letih menghadapi konflik berkepanjangan.

“Orang-orang lelah, ya, orang-orang ingin mengakhiri tragedi ini… mengakhiri perang ini, secepat mungkin tentu saja, tetapi dengan cara yang benar tanpa kehilangan martabat dengan cara apa pun,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa putaran negosiasi trilateral berikutnya akan kembali digelar di Swiss, lokasi yang sama dengan perundingan sebelumnya dan memiliki arti penting baginya.

“Jika perang ini terjadi di Eropa, orang-orang Eropa harus merasakan bahwa ini adalah agresi terhadap kami dan terhadap Eropa. Itulah sebabnya negosiasi damai harus dilakukan di Eropa,” tegasnya.

Perbedaan Pandangan Soal Donbas

Zelensky menyebut para pihak kini mulai menemukan titik temu terkait mekanisme pemantauan apabila gencatan senjata diberlakukan kembali.

Meski demikian, perbedaan tajam masih muncul dalam isu pembagian wilayah di Ukraina timur.

“Kami bahkan tidak memiliki pandangan yang sama secara trilateral – kami memiliki tiga pandangan berbeda – tentang masalah wilayah,” katanya.

Ia menolak kemungkinan penarikan pasukan Ukraina dari wilayah Donbas secara sepihak.

“Kami tidak bisa begitu saja mundur. Itu tidak adil,” ujarnya.

Menurut Zelensky, keberadaan pasukan Ukraina di Donbas merupakan bagian dari jaminan keamanan untuk mencegah potensi invasi Rusia di masa depan.

Ia menambahkan, Moskwa mendorong agar Ukraina meninggalkan kota-kota yang telah diperkuat pertahanannya di kawasan tersebut. “Garis Merah” Putin dan situasi medan perang Zelensky juga menyinggung apa yang disebut sebagai “garis merah” Putin, yakni penolakan terhadap keanggotaan Ukraina di NATO maupun kehadiran pasukan NATO di wilayahnya.

Menurutnya, sikap itu berkaitan dengan ambisi Rusia untuk kembali menyerang.

“Mereka berpikir bahwa mereka akan datang lagi,” ujarnya merujuk pada Kremlin.

Ia mengakui Ukraina mengalami “musim dingin yang sulit dan mengerikan” akibat serangan terhadap infrastruktur energi, yang menyebabkan warga sipil kehilangan listrik di tengah suhu beku.

Namun, ia menegaskan bahwa Rusia tidak mencatatkan kemajuan signifikan di garis depan pertempuran.

“Tidak ada langkah yang berhasil di medan perang,” katanya mengenai operasi militer Rusia selama musim dingin.

Zelensky juga mengklaim Rusia kehilangan hingga 35.000 tentara setiap bulan akibat tewas atau terluka.

Saat ditanya apakah ia akan mengizinkan pasukannya membunuh Putin jika ada kesempatan, Zelensky sempat terdiam beberapa detik.

Ia memberi isyarat bahwa kemungkinan besar hal itu tidak akan dilakukannya, meski tidak menyatakan penolakan secara tegas.

Ia juga berpendapat bahwa jika Putin tidak lagi menjabat, penggantinya kemungkinan tidak akan membawa perubahan berarti. Sosok tersebut, menurutnya, akan “sama saja seperti Putin.” (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles