JAKARTA- Iran kemungkinan akan mengizinkan kapal tanker minyak untuk melewati Selat Hormuz secara terbatas. Syaratnya, minyak tersebut harus diperdagangkan dalam mata uang yuan China, menurut CNN, mengutip seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya.
Namun, pihak Iran belum mengonfirmasi kabar ini. Usulan tersebut merupakan bagian dari rencana lebih luas yang dilaporkan sedang dikembangkan Teheran untuk mengatur lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran.
Selama ini, sebagian besar penjualan minyak global dilakukan dalam dollar AS, meskipun minyak mentah Rusia yang dikenai sanksi semakin banyak diperdagangkan dalam rubel atau yuan.
Penutupan Selat Hormuz
Penutupan Selat Hormuz merupakan buntut panjang dari serangan AS-Israel ke wilayah Iran sejak 28 Februari. Akibat serangan itu, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia beserta beberapa anggota keluarganya.
Sebagai pembalasan, Iran pun membombardir Israel dan menargetkan semua aset militer AS yang ada di Negara Teluk.
Setelah ditutup, lalu lintas kapal melalui Hormuz telah anjlok dari rata-rata 138 kapal per hari menjadi hanya dua kapal dalam periode 24 jam.
IRGC pada Rabu (11/3/2026) menyatakan tidak akan mengizinkan satu liter minyak pun melewati jalur air tersebut.
Rencana Menutup Selat Lain
Sebelumnya, seorang pejabat militer senior Iran memperingatkan, Teheran dapat memperluas kampanye maritimnya ke jalur air strategis kedua, jika Amerika Serikat melakukan kesalahan strategis.
Dalam pernyataannya kepada Al Jazeera, Selasa (11/3/2026), pejabat tersebut mengisyaratkan bahwa selat lain, diduga kuat adalah Bab el-Mandeb, bisa menghadapi situasi serupa dengan Selat Hormuz yang kini telah lumpuh.
Menurutnya, kawasan tersebut mungkin akan segera memasuki perang regional. Tak hanya itu, ia mengeklaim Iran masih memiliki “banyak kartu” untuk dimainkan.
Ancaman untuk memperluas gangguan ke Bab el-Mandeb, jalur selebar 26 kilometer antara Yaman dan Djibouti di pintu masuk selatan Laut Merah, akan menandai peningkatan dramatis dalam strategi maritim Teheran.
Selat Bab el-Mandeb telah lama diidentifikasi oleh para analis sebagai titik tekanan maritim sekunder Iran.
Sebab, Teheran dapat memproyeksikan kekuatan melalui sekutunya Houthi Yaman tanpa secara langsung mengekspos pasukannya sendiri.
Lebih dari 20.000 kapal melewati Bab el-Mandeb setiap tahunnya, membawa volume kargo rata-rata hampir 1,6 miliar ton. Diperkirakan, 6,2 juta barel per hari minyak mentah, kondensat, dan produk minyak bumi olahan mengalir melalui jalur tersebut pada 2018, yang mewakili sekitar 9 persen dari seluruh perdagangan minyak bumi melalui jalur laut.
Sebelum kampanye Houthi yang dimulai pada akhir 2023, jalur Terusan Suez yang lebih luas menangani rata-rata 59 hingga 75 kapal per hari, termasuk sekitar 8,7 juta barel minyak per hari dan volume gas alam cair yang signifikan.
Penutupan selat tersebut akan menghilangkan rute maritim terpendek antara Teluk Persia dan pasar Eropa melalui Terusan Suez.
Kondisi ini akan memaksa kapal untuk melakukan pengalihan rute di sekitar Tanjung Harapan yang menambah waktu sekitar dua minggu dan biaya bahan bakar lebih dari 1 juta dollar AS untuk setiap pelayaran.
Selat Hormuz Terbukti Jadi Senjata Terampuh Iran

Kepada Bergelora.com di Jakarta, Sabtu (14/3) dilaporkan, Iran meluncurkan strategi “kejutan minyak” untuk melumpuhkan kekuatan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Teheran menjadikan Selat Hormuz sebagai “senjata” perlawanan terhadap para penyerang. Dengan menyandera jalur pasokan energi utama dunia tersebut, Teheran berupaya mengimbangi superioritas militer musuh-musuhnya melalui tekanan ekonomi global.
Berdasarkan laporan tiga sumber regional yang memahami perencanaan Iran, strategi ini telah disusun jauh sebelum konflik pecah. Iran memanfaatkan posisi geografisnya di Selat Hormuz untuk menciptakan gangguan dan terbukti berdampak langsung pada pasar energi global.
Selat Hormuz merupakan urat nadi ekonomi yang krusial. Sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia melintas setiap harinya. Saat ini, Iran secara efektif telah menutup jalur tersebut, sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (13/3/2026).
Data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa lalu lintas kapal tanker melalui selat tersebut telah anjlok hingga 97 persen sejak AS-Israel memulai serangan pada 28 Februari 2026.
“Iran kalah persenjataan, tidak mungkin mereka bisa menang dalam konfrontasi langsung,” kata Direktur Proyek Iran di International Crisis Group Ali Vaez.
Menurut Vaez, Teheran telah mengantisipasi serangan lanjutan dari AS dan Israel sejak perang singkat pada Juni tahun lalu. Mereka merancang strategi untuk memperluas konflik dalam dimensi ruang dan waktu.
“Jika Iran menyandera ekonomi global, (Presiden AS Donald) Trump akan menjadi pihak yang pertama ‘berkedip’ (menyerah),” tambah Vaez.
Sumber regional menyebutkan bahwa Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) telah lama menyiapkan rencana ini untuk melindungi sistem pemerintahan di Iran yang telah berusia 47 tahun.
Strategi ini resmi diaktifkan pada 28 Februari, segera setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei gugur di hari pertama konflik. Inti dari strategi ini adalah pengakuan atas keterbatasan militer Iran.
Bukannya menghadapi kekuatan besar AS secara frontal, Teheran memilih untuk menekan aliran minyak dan melakukan serangan asimetris terhadap aset-aset AS di kawasan tersebut.
Michael Eisenstadt dari Washington Institute menilai langkah ini sebagai taktik perang yang sangat efektif.
“Ini adalah perang asimetris par excellence, di mana Iran mencapai dampak luar biasa, bahkan global, melalui sejumlah kecil serangan yang menimbulkan biaya besar,” ujar Eisenstadt.
“Tujuannya adalah menciptakan rasa sakit secara ekonomi, guna merusak dukungan terhadap perang di AS dan menekan Washington agar mengakhirinya,” tambahnya.

Dalam melancarkan serangan balik, Teheran menyebarkan serangannya menggunakan gelombang rudal dan drone murah di sepanjang Teluk, bukan memusatkan pasukan di satu medan perang. Taktik ini mencerminkan doktrin “Mosaik” yang dikembangkan IRGC selama puluhan tahun.
Doktrin ini dirancang agar struktur komando tetap berjalan meski kepemimpinan pusat diserang.
Dua sumber menyebutkan bahwa Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Ali Larijani kini memimpin upaya perang dari Teheran, menggantikan peran koordinasi pasca-kematian Khamenei.
Iran sebenarnya pernah menggunakan taktik serupa pada “Perang Tanker” periode 1980-1988. Namun, saat ini Iran memiliki persenjataan yang jauh lebih canggih, termasuk gudang rudal dan drone yang mampu mengancam pelayaran di wilayah yang lebih luas tanpa harus menanam ranjau secara masif.
AS Tidak Siap
Ali Vaez menilai AS memasuki perang ini tanpa persiapan yang matang dan terjebak dalam “angan-angan” belaka. Washington dianggap gagal mengantisipasi serangan drone terhadap negara-negara Teluk atau gangguan pada jalur pelayaran utama.
Vaez berpendapat bahwa meski AS mampu melemahkan Iran secara signifikan, kemenangan total hanya bisa dicapai melalui invasi darat yang membutuhkan hingga satu juta tentara.
Menurutnya, Washington tidak memiliki keinginan untuk terlibat dalam komitmen sebesar itu.
“Tujuan utama Iran saat ini adalah bertahan hidup,” ucap Vaez.
“Lebih dari itu, tujuan luasnya adalah memaksa Washington menerima bahwa paksaan, baik melalui kekuatan militer, tekanan ekonomi, maupun isolasi diplomatik, tidak akan membuahkan hasil,” tuturnya. (Wen Warouw)

