Senin, 27 April 2026

WAH RI GIMANA NIH..? Iran Buka Akses Terbatas Selat Hormuz untuk Negara Netral

JAKARTA – Iran mulai melonggarkan pembatasan pelayaran di Selat Hormuz dengan mengizinkan kapal dari negara-negara netral melintas. Kebijakan ini dilakukan di tengah ketegangan yang masih berlangsung akibat konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa jalur pelayaran tersebut tetap terbuka, namun diberlakukan pembatasan bagi kapal milik negara yang terlibat konflik.

“Selat Hormuz tetap terbuka, namun tidak untuk kapal-kapal milik Amerika Serikat, Israel, dan sekutu mereka,” ujarnya dikutip dari NDTV, Selasa (17/3).

Kebijakan ini muncul setelah Iran sebelumnya menutup selat tersebut menyusul serangan udara terkoordinasi oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026 yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Sebagai respons, Garda Revolusi Iran sempat menghentikan lalu lintas kapal dan menyebabkan volume pelayaran anjlok drastis.

Seiring perkembangan situasi, Iran mulai membuka akses terbatas. Kapal dari sejumlah negara seperti India, Pakistan, Bangladesh, dan Turki dilaporkan telah mendapat izin melintas melalui koordinasi militer Iran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa kapal dari negara yang tidak terlibat konflik diperbolehkan melintas dengan persetujuan otoritas setempat.

India bahkan dilaporkan telah mengajukan izin bagi puluhan kapal untuk melewati jalur tersebut.

Kebijakan ini berdampak signifikan terhadap rantai pasok energi global, terutama bagi negara-negara Asia yang bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah.

China dan India menjadi yang paling terdampak, sementara Indonesia juga mengalami gangguan pasokan energi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyebut sekitar 20 hingga 25% impor minyak mentah Indonesia terdampak, sehingga pemerintah melakukan diversifikasi pasokan, termasuk meningkatkan impor dari Amerika Serikat.

Di tengah situasi tersebut, harga minyak dunia melonjak tajam hingga melampaui 100 dolar AS per barel.

Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menegaskan opsi penutupan Selat Hormuz tetap terbuka, mengindikasikan ketegangan berpotensi berlangsung dalam jangka panjang.

2 Kapal Tanker Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz

Sebelumnya kepada Beegelora.com di Jakarta, Rabu (18/3) dilaporkan, dua kapal tanker Indonesia masih tertahan di Selat Hormuz yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro.

PT Pertamina International Shipping (PIS) mengungkapkan dua kapal milik perusahaan masih tertahan di Teluk Arab. Kedua kapal sedang menunggu situasi aman di Timur Tengah untuk bisa keluar melalui Selat Hormuz.

Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita mengatakan, terdapat empat unit kapal milik perusahaan yang beroperasi di kawasan Timur Tengah. Dua kapal tercatat telah beranjak dari area konflik, yaitu kapal PIS Rinjani dan kapal PIS Paragon.

Sementara dua unit kapal yang masih beroperasi di kawasan Timur Tengah yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro yang berada di Teluk Arab.

“Kapal-kapal ini sedang menunggu situasi aman untuk dapat keluar melalui Selat Hormuz. Keduanya dalam kondisi aman,” ujar Vega dalam keterangannya, Selasa (10/3/2026).

Adapun Kapal Gamsunoro melayani kargo milik konsumen pihak ketiga (third party).

Sementara itu, VLCC Pertamina Pride sedang dalam misi mengangkut pasokan minyak mentah (light crude oil) untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Kendati dua kapal masih tertahan,

Vega memastikan, rantai pasok dan distribusi energi tetap solid, baik di perairan internasional maupun perairan Indonesia.

Kata Kemlu RI

Kementerian Luar Negeri atau Kemlu RI menyampaikan penjelasannya pada 6 Maret lalu. Kemlu lewat Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Teheran sedang berdiplomasi dengan Iran terkait dua kapal milik Pertamina itu.

“Nah, oleh karena itu, memang saat ini sedang dilakukan upaya diplomasi, upaya koordinasi dengan pihak-pihak terkait di Iran,” kata Direktur Jenderal Asia, Pasifik, dan Afrika Kemlu RI Santo Darmosumarto, dalam jumpa pers di Kemlu, Jumat (6/3/2026).

Meski demikian, Santo menekankan, pihak yang sedang didiplomasikan tidak hanya satu atau dua, tetapi melibatkan banyak pihak.

“Untuk memastikan bahwa kepentingan Indonesia terkait dengan Pertamina itu dapat terus diberikan perlindungan, dari sisi dapat melintas Selat Hormuz itu dengan aman,” ujar dia.

“Tapi memang kondisinya secara umum memang masih belum kondusif di sana. Tapi terus kita upayakan untuk melakukan koordinasi dan komunikasi dengan pihak pemerintah Iran,” tambah dia. (Enri,o.N. Abdielli)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles