JAKARTA – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) membeberkan progres pembangunan fisik Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga akhir Maret 2026.
Zulhas mengatakan sudah ada 3.505 KDMP yang telah terbangun 100% di 83.764 desa di seluruh Indonesia. Sedangkan sebanyak 25.121 titik masih dibangun KDMP.
“Kami laporkan, sudah ada 3.505 titik yang 100% selesai dibangun Kopdesnya, sedangkan 25.121 titik masih proses dibangun, kami harap terus bertambah,” kata Zulhas dalam konferensi pers usai rapat koordinasi terbatas (rakortas) perkembangan KDMP, dikutip Bergelora.com di Jakarta, Sabtu (4/4/2026).
Selain itu, Zulhas juga menjelaskan lahan yang siap dibangun KDMP kian bertambah, di mana kini sudah ada 33.168 titik yang siap dibangun KDMP. Ia pun berharap lahan yang siap dibangun KDMP dapat terus bertambah
“Nah lahan yang siap itu bertambah terus. Sekarang 33.168 titik, mudah-mudahan sampai Juni 2026, lahan yanh siap bisa sampai 40.000,” lanjutnya.
Nantinya, saat lahan yang siap dibangun KDMP sudah mencapai 40.000 titik, pihaknya akan mengevaluasi sekaligus mendata ulang. Hal ini lantaran di beberapa desa atau kelurahan tidak memiliki lahan seluas 1.000 meter persegi.
“Setelah capai 40.000, kita akan data kembali semuanya. Karena ada juga yang lahannya nggak sampai 1000 meter persegi, misalnya di kelurahan, di kota-kota besar itu tanahnya nggak sampai 1.000 meter persegi, ada yang 500 meter persegi sampai 700 meter persegi,” jelasnya.
Untuk lahan khusus KDMP yang terbatas, pihaknya akan membangun dengan model vertikal
“Kalau lahannya kurang dari 1.000 meter persegi, nanti kita akan bangun modelnya, mungkin naik ke atas atau sebagainya,” ujarnya.
Menkop Bandingkan Keunggulan Kopdes dengan Alfamart-Indomaret Cs
Sebelumnya dilaporkan, Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono mengungkapkan keunggulan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) atau Kopdes dibandingkan dengan ritel modern. Ferry mengatakan keunggulan Kopdes yakni segala bentuk usaha berasal dari desa dan untuk desa, sehingga dengan adanya Kopdes, maka dapat menggerakan perekonomian desa itu sendiri.
“Kenapa harus koperasi desa? Karena koperasi desa ini milik masyarakat desa, jadi kalau ada untung dari koperasi desa yang melaksanakan kegiatan ritel, uangnya akan muter di desa yang notabene orang desa, bukan ke Jakarta,” kata Ferry dalam konferensi pers, Kamis (26/2/2026).
Sementara ritel modern, pergerakan uangnya tidak untuk desa di sekitar ritel modern berdiri, melainkan berputar di kota besar, di mana kantor pusat ritel modern berdiri.
“Kalau ritel modern, itu uang larinya ke Jakarta, bukan ke desa, itu yang kita ingin kemarin sebenarnya mau menyelesaikan masalahnya,” lanjut Ferry.
Meski begitu, kehadiran ritel modern di desa tetap harus dihormati, karena telah memberikan lapangan kerja yang cukup. Namun untuk membuka izin baru, pihaknya mengatakan agar lebih melihat kondisi yang ada, terutama di desa-desa.
“Kalau sudah terlanjur berdiri ritel modernnya, ya sudah enggak apa-apa, kita tetap hormati, tapi terhadap keinginan ekspansi apalagi ke desa, inget-inget yang lain ini ada ranah yang juga menjadi haknya rakyat desa,” ujarnya. (Web Warouw)

