Senin, 11 Mei 2026

Menggali Warisan Nurcholish Madjid dan Sayid Ali Khamenei: Mencari Jalan Baru Peradaban Islam di Tengah Kebuntuan Zaman

Menggali Warisan Nurcholish Madjid dan Sayid Ali Khamenei: Mencari Jalan Baru Peradaban Islam di Tengah Kebuntuan Zaman

 

*Oleh Satrio Arismunandar*

 

Di tengah dunia Islam yang terus bergulat dengan krisis identitas, stagnasi pemikiran, dan ketegangan antara tradisi serta modernitas, sebuah ruang dialog intelektual digelar dengan tema yang terasa relevan sekaligus menantang: “Menggali Warisan Nurcholish Madjid dan Sayid Ali Khamenei.”

 

Forum yang berlangsung dalam dua sesi pada 6 dan 10 Mei 2026 itu bukan sekadar perbincangan akademik biasa. Ia seperti upaya membuka kembali pintu-pintu pemikiran Islam yang selama ini perlahan tertutup oleh rutinitas jargon, romantisme sejarah, dan debat yang berulang-ulang tanpa arah pembaruan nyata.

 

Digelar melalui dua tema besar—“Pesan Al-Qur’an dan Konsep Diri” serta “Konsep Diri dan Kearifan Sosial-Politik”—forum ini menghadirkan sejumlah pemikir dan akademisi seperti Abdelaziz Abbaci, Husain Heriyanto, Fachrurrozy, dan Ammar Fauzi.

 

Yang menarik, forum ini mempertemukan dua figur yang sering dianggap berasal dari lanskap berbeda:

 

Nurcholish Madjid—intelektual Muslim Indonesia yang dikenal dengan gagasan pembaruan Islam dan pluralisme, dan Ali Khamenei—pemimpin spiritual dan politik Iran yang identik dengan perlawanan geopolitik dan revolusi Islam.

 

Namun semakin dalam diskusi berlangsung, semakin terlihat bahwa keduanya memiliki titik temu yang jauh lebih besar daripada sekadar perbedaan mazhab, negara, atau orientasi politik.

 

*Al-Qur’an Sebagai Pusat Orbit Pemikiran*

 

Keempat narasumber sepakat bahwa sumber utama pemikiran kedua tokoh tersebut adalah Al-Qur’an.

 

Ini terdengar sederhana, tetapi justru di situlah letak persoalannya.

 

Dalam banyak tradisi intelektual Islam modern, Al-Qur’an sering hanya dijadikan legitimasi normatif, bukan sumber dinamis untuk membaca realitas zaman. Akibatnya, pemikiran Islam berhenti pada pengulangan slogan moral, tanpa kemampuan membangun metodologi baru untuk menjawab persoalan kontemporer.

 

Baik Nurcholish Madjid maupun Sayid Ali Khamenei, menurut para pembicara, mencoba keluar dari jebakan itu.

 

Bagi Cak Nur, Al-Qur’an bukan sekadar kitab hukum atau kumpulan dalil formalistik. Ia adalah sumber etika peradaban yang mendorong manusia menjadi makhluk merdeka, rasional, dan bertanggung jawab terhadap sejarah.

 

Sementara dalam pandangan Sayid Ali Khamenei, Al-Qur’an dipahami sebagai energi transformasi sosial. Ia bukan hanya membentuk kesalehan individu, tetapi juga menjadi basis perjuangan membangun masyarakat yang adil, mandiri, dan bermartabat.

 

Di titik ini, keduanya bertemu:

Al-Qur’an tidak berhenti di sajadah, tetapi harus hadir dalam denyut kehidupan sosial.

 

*Rekonstruksi Peradaban Islam*

 

Salah satu benang merah yang paling kuat dari kedua tokoh adalah perhatian mereka terhadap rekonstruksi peradaban Islam.

 

Namun rekonstruksi yang dimaksud bukan nostalgia kejayaan masa lalu.

 

Baik Cak Nur maupun Khamenei sama-sama melihat bahwa kebangkitan Islam tidak mungkin dilakukan dengan sekadar mengulang bentuk lama. Peradaban harus dibangun dengan mempertimbangkan konteks ruang dan waktu, termasuk budaya lokal dan dinamika sosial masyarakatnya.

 

Di Indonesia, Nurcholish Madjid berusaha mendialogkan Islam dengan modernitas dan kearifan Nusantara. Ia menolak pandangan bahwa menjadi modern berarti harus kehilangan identitas keislaman.

 

Sementara di Iran, Sayid Ali Khamenei mendorong konsep perlawanan budaya dan kemandirian peradaban di tengah dominasi Barat. Tetapi menariknya, perjuangan itu tidak hanya dipahami dalam konteks militer atau politik, melainkan juga moral, budaya, spiritual, dan sosial.

 

Dalam webinar tersebut, konsep “arsitektur jihad semesta” yang dikembangkan Khamenei dibahas cukup mendalam. Jihad di sini tidak dipahami secara sempit sebagai perang fisik, melainkan perjuangan multidimensi:

 

* jihad sosial,

* jihad budaya,

* jihad moral,

* dan jihad spiritual.

 

Pendekatan ini bahkan dibaca sebagai manifestasi dari *Teori Kritis Transenden* ala Kuntowijoyo—yakni usaha menggabungkan kesadaran profetik, kritik sosial, dan transformasi sejarah.

 

Artinya, perjuangan umat bukan hanya melawan penjajahan fisik, tetapi juga melawan kebodohan, kemiskinan moral, ketimpangan sosial, dan kolonialisme budaya.

 

*Konsep Diri dan Krisis Manusia Modern*

 

Tema besar lain yang mengemuka adalah soal konsep diri.

 

Para narasumber menyoroti bagaimana manusia modern mengalami krisis identitas yang akut. Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi manusia kehilangan orientasi batin. Politik menjadi gaduh, tetapi kehilangan moralitas. Agama hadir di ruang publik, tetapi sering miskin kedalaman spiritual.

 

Di sinilah kedua tokoh dianggap relevan.

 

Nurcholish Madjid berbicara tentang kesadaran *fardiyyah*—kesadaran personal yang matang, mandiri, dan bertanggung jawab. Manusia tidak boleh menjadi makhluk yang sekadar ikut arus massa tanpa refleksi intelektual dan spiritual.

 

Sedangkan Sayid Ali Khamenei menekankan pentingnya pembangunan manusia yang memiliki ketahanan moral dan spiritual sebagai basis ketahanan sosial-politik.

 

Keduanya sama-sama melihat bahwa perubahan sosial tidak mungkin lahir dari manusia yang rapuh secara batin.

 

Peradaban besar selalu dimulai dari pembentukan manusia besar.

 

*Kritik terhadap Stagnasi Pemikiran Islam*

 

Salah satu bagian paling tajam dari forum ini adalah kritik terhadap stagnasi pemikiran Islam di Indonesia.

 

Menurut para pembicara, diskursus pembaruan Islam di Indonesia sering berhenti pada pengulangan nama dan slogan. Pemikiran tokoh-tokoh besar hanya diperingati, dikutip, dan dipuji, tetapi jarang dikembangkan menjadi kerangka epistemik baru yang mampu menjawab problem zaman.

 

Akibatnya, umat Islam sering tertinggal dalam membaca perubahan dunia:

 

* krisis teknologi,

* kapitalisme digital,

* geopolitik global,

* kecerdasan buatan,

* disrupsi budaya,

* hingga kerusakan ekologis.

 

Islam akhirnya tampil lebih sebagai identitas simbolik daripada kekuatan intelektual yang kreatif.

 

Ironisnya, situasi itu juga tampak dari berbagai tanggapan peserta webinar. Banyak pertanyaan masih berkutat pada perdebatan lama, bukan usaha membangun pendekatan baru.

 

Di sinilah warisan pemikiran Nurcholish Madjid dan Sayid Ali Khamenei terasa penting:

keduanya tidak berhenti pada romantisme masa lalu, tetapi berusaha menjadikan Islam sebagai kekuatan hidup yang terus bergerak.

 

*Mencari Jalan Baru*

 

Forum ini pada akhirnya bukan sekadar membandingkan dua tokoh.

Ia adalah cermin bagi dunia Islam sendiri.

Bahwa umat Islam membutuhkan keberanian untuk:

 

* membaca ulang tradisi,

* membangun metodologi baru,

* mendialogkan wahyu dengan realitas,

* serta membangun peradaban yang berakar pada spiritualitas tetapi tetap relevan dengan tantangan modernitas.

 

Warisan Cak Nur dan Sayid Ali Khamenei mungkin berbeda dalam bentuk dan konteks politik. Namun keduanya sama-sama mengingatkan bahwa Islam tidak boleh berhenti menjadi slogan moral atau simbol identitas.

 

Islam harus hidup sebagai energi peradaban. Dan peradaban, seperti ditegaskan sejarah, tidak pernah dibangun oleh orang-orang yang hanya sibuk mengagumi masa lalu.

 

Depok, 11 Mei 2026

 

*Satrio Arismunandar* adalah Sekjen Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA. Mantan pengurus Masjid Attauhid Arief Rahman Hakim, UI Salemba.

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles