Minggu, 10 Mei 2026

Menyongsong Keruntuhan Imperialis Amerika

:Di Amerika, Eropa, dan Israel, sekarang, semakin banyak orang turun ke jalan untuk mengecam agresi AS terhadap Venezuela, Palestina, Iran, dan negeri-negeri lainnya, meskipun rakyat Amerika sebenarnya diuntungkan dari agresi tersebut—bahan bakar akan murah dan melimpah, minyak mentah berat dan mineral langka akan berlimpah, dan pendapatan anggaran negara akan meningkat drastis.  

Oleh: Danial Indrakusuma *

KENAPA dalam membahas geopolitik kita juga harus membahas geoekonomi? Itu karena sebagian besar geo-politik juga dilandaskan pada kepentingan geo-ekonomi;. Selain itu, analisanya harus historis karena menyangkut sebab-akibat dari geo-ekonomi dan geo-politiknya;

Tonggak sejarahnya adalah Great Depression (Depresi Akbar) atau krisis ekses penawaran. Saat itu industri Amerika sudah bisa melampaui industri di Inggris dan Jerman, walaupun revolusi industri awalnya dimulai di Inggris. Hal itu karena adanya ekspor kapas dari Amerika–sehingga memungkinkan pasar bahan dan tekstik wool bisa merosot–dan pertumbuhan industri-industri serta manufaktur-manufaktur massal di bagian Utara Amerika yang (kemudian) menggunakan metode manajemen produksi massal Fordisme. Sehingga terjadilah kelilimpahan hasil produksi yang tidak dapat dibeli oleh masyarakat. Kelimpahan yang tak sepadan dengan Daya beli masyarakat;

Depresi Akbar tersebut–terutama tutupnya banyak pabrik dan peningkatan pengangguran–diatasi dengan teori Keynesian–yang mampu menyediakan lapangan kerja dalam pekerjaan-perkerjaan kolektif (yang jangka pengembaliannya lama) dan rekayasa fiskal (goverment expenditure);

Cara Keynesian hanya ampuh sekitar 3 tahunan, kemudian pengangguran meningkat kembali melampaui jumlah yang sebelumnya dapat diatasi oleh cara Keynesian. Karena itu kemudian diambilah cara:

Pertama, penyaluran fiskal ke dalam alokasi R&D universitas dan kompleks militer untuk mendapatkan formula, invensi (invention) dan inovasi (innovation);

Kedua,  hasil dari formula, invensi dan inovasi kemudian diserahkan kepada swasta untuk berproduksi kembali;

Ketiga, kredit untuk usaha swasta–terutama perusahaan-perusahaan besar yang mendapatkan hasil invensi, formula dan inovaai dari pemerinta–dipermudah;

Keempat, produksi diarahkan untuk memproduksi barang-barang kebutuhan perang–ancaman fasisme di Eropa–dan barang-barang kebutuhan dalam negeri.

Kelima, barang-barang hasil produksi sebagian besar ditampung/dibeli oleh pemerintah dan dipasarkan oleh pemerintah. Dengan demikian, pengangguran dapat dikurangi dengan drastis; pendapatan meningkat dari ekspor ke Eropa (bahkan dijual dengan kredit bunga tinggi); dan masyarakat memiliki daya beli untuk barang-barang yang dijual di dalam negeri;

Keenam, pada awalnya pasar Eropa dikuasai oleh barang-barang (bahkan jasa manajemen industri/manufaktur) Amerika, sebelum ditandingi (kembali) oleh Jerman (Tengah dan utara) yang juga menyerap revolusi industri dari Inggris;

Penguasaan Imperialis AS

Kehancuran Eropa dan kekalahan fasisme Jerman memberi peluang penguasaan ekonomi dan politik Eropa Barat, Eropa Utara, Eropa Selatan, sebagian kecil Eropa Timur, Asia–terutama Jepang, Taiwan dan Korea Selatan sebagai agen ekonomi (Marshall Plan) dan politik Amerika. Sedangkan India, Malaysia dan Singapura (awalnya dan kemudian) diserahkan kepada Inggris (Inggris sendiri saat itu masih menguasai Afrika, sebagian Timur Tengah dan Asia Barat)

Karena sebagian konsumsi Eropa, Timur Tengah, Asia Barat, Afrika dan Asia dipenuhi oleh barang-barang dan jasa Amerika, sebelum dibangkitkannya Jepang, Korea Selatan dan Taiwan oleh (Marshall Plan) nya Amerika untuk kepentingan propaganda anti-komunis dan agen ekonomi Amerika, maka mulai lah ada dominasi dolar dan penguasaan geopolitik Amerika di wilayah-wilayah tersebut untuk kepentingan dominasi ekonomi dan (akibatnya) dominasi politik–terutama dibangunnya (menjamurnya) pangkalan-pangkalan militer Amerika (lebih dari 800 pangkalan militer hingga sekarang);

Penguatan dominasi dolar tambah diperkuat dengan adanya keputusan yang diambil oleh Konferensi Bretton Woods, yang menetapkan dolar sebagai penyangga utama (bukan emas) yang didukung emas sebagai patokan stabilisasi nilai tukar mata uang dunia; nilai mata uang negeri lainnya berpatokan pada dolar; nilai dolar disetarakan dengan emas; Bretton Woods juga yang kemudian menghasilkan pendirian organisasi (turunan) yakni Bank Dunia (WB) dan Dana Moneter Internasional (IMF).

Bank Dunia didirikan (1944) untuk membiayai rekonstruksi pasca-Perang Dunia II dan mendorong pembangunan ekonomi negeri berkembang (pasar dan sumber Daya alam bagi Amerika), sedangkan IMF bertujuan menjaga stabilitas sistem keuangan internasional, memfasilitasi perdagangan, dan memberikan pinjaman jangka pendek untuk mengatasi krisis neraca pembayaran (memenjarakan moneter dan fiskal negeri-negeri berkembang).

Doktrin Monroe adalah kebijakan luar negeri AS tahun 1823 yang menyatakan bahwa Eropa tidak boleh lagi menjajah atau mencampuri urusan negeri-neegri di Amerika, karena intervensi apa pun akan dianggap sebagai agresi terhadap AS. AS berjanji untuk tidak campur tangan dalam urusan Eropa atau koloni Eropa yang ada. Doktrin ini menjadi dasar kebijakan AS, yang menyatakan “Amerika untuk Amerika” dan menegaskan dominasi AS di Belahan Barat. Hal ini kemudian berkembang menjadi dasar intervensi AS di Amerika Latin, khususnya melalui “Korelasi Theodore Roosevelt.”;

Selain itu, Doktrin Monroe diperkuat agar bagian selatan Amerika (Amerika Latin) bisa dikendalikan sampai ke tingkat penggantian (penggulingan) rejim;

Dalam perang dingin, tentu saja Amerika lebih menguatkan aliansinya dengan Eropa Barat, Eropa Utara, Eropa Selatan, Asia Barat, Afrika, dan Amerika Latin (termasuk negeri-negeri Karibia). Mulai lah terjadi perluasan dan dominasi geo-ekonomi dan geo-politik Amerika, hampir seluruh Eropa (kecuali sebagian Eropa Timur), Jepang, Korea Selatan dan Taiwan, apalagi setelah runtuhnya negeri-negeri Sosialis. Sehingga dominasi geo+ekonomi dan geo-politik Amerika dan Eropa semakin meluas ke Eropa Timur;

Sampai saat itu geo-politik Amerika (terutama) dalam lingkup Eropa, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Filipina, meliluti Lautan Hindia, Lautan Atlantik, Lautan Atlantik Utara, Artik, Laut Baltik, Green Land (dan lautnya), Laut Merah (termasuk terusan Suez), Laut Persia, Laut Hitam, Laut Aegean, Lautan Hindia, Laut Cina Selatan, Selat Malaka Laut di atas Kalimantan, Sulawesi, di bawah Filipina, Lautan Pasifik.

Selain di perairan internasionalnya, Indonesia berperan dalam memberikan izin kapal-kapal (termasuk kapal-kapal perang Amerika) melintasi sebagian Selatan Malaka, Selat Sunda, Samudera Hindia di sepanjang Selatan-Barat Sumatera, laut Kalimantan dan Sulawesi bagian Utara, laut Maluku Utara, Laut Papua Utara, dan Lautan hindia di pinggiran NTT/NTB/Jawa bagian Selatan;

Karena Eropa, Amerika, Jepang, Taiwan dan Korea Selatan lebih berkonsentrasi pada teknologi tinggi, maka barang-barang yang sudah dipublikan dan diproduksi massal (generalized mass production) sebagian besar diserahkan produksinya kepada Asia–yang terbesar Cina dan India–serta beberapa bekas negeri-negeri Sosialis Eropa Timur, sebagai rantai pasokan (supply chain) dan wilayah sumberdaya alam–terutama enerji dan mineral langka (rare earth mineral) yang sangat dibutuhkan untuk teknologi tinggi Amerika dan Eropa.

Setelah Bubarnya Pakta Warsawa

Setelah Pakta Warsawa bubar, sedangkan NATO tidak bubar, NATO berusaha meluas ke negeri-negeri Bekas Sosialis Eropa Timur dan negeri-negeri di sekitar Laut Baltik, dan Balkan. Itulah sebabnya kasus Yugoslavia, Cheko, dan Ukraina muncul.

Dengan kemajuan Rusia dan Cina, persaingan geo-ekonomi dan geo-politiknya semakin sengit–penguasaan Timur Tengah melalui proxy Israel dan beberapa negeri Arab (yang sudah takluk), negeri-negeri Arab yang belum takluk, penguasaan Asia Barat (yang paling seru Iran), penguasaan Afrika Barat-Daya. Di mana persaingan sengit itu dalam kondisi merosotnya ekonomi Amerika dan Eropa serta ketergantungan sumberdaya alam dan enerji pada negeri-negeri BRICS (dan sekutunya).

Kemajuan Cina, Rusia, dan dalam beberapa sektor/segmen india dan Iran, akan dibahas pada analisa lain;

Khusus Amerika, perlu diingat bahwa, menurut Doktrin Monroe—yang kini diselamatkan dan disempurnakan oleh Trump—titik kemenangan dan kekalahan AS terletak di Amerika Latin. Amerika Latin merupakan basis pertahanan dan serangan bagi AS. Namun, Doktrin Monroe hanya didasarkan pada kontrol spasial wilayah tersebut. Trump menyempurnakannya: Amerika Latin juga merupakan basis minyak mentah berat (heavy crude oil) dan mineral (termasuk mineral langka);

Trump berusaha memegang kendali geo-politik atas Laut Arktik, Atlantik Utara, Greenland, Islandia, Norwegia, Laut Baltik, Samudra Atlantik, Amerika Selatan, Samudra Pasifik, Laut Cina Selatan, dan Samudra Hindia sebagai penyempurnaan Doktrin Monroe—sehingga Doktrin Monroe bukan hanya sebagai pencegah (deterrents) tetapi juga untuk memperluas hegemoni dan dominasi.

Sketsanya adalah,–.Amerika, selain menerapkan kebijakan tarif, embargo, boikot dan sanksi dalam menekan BRICS (dan sekutunya), bahkan Eropa, juga menjatuhkan sanksi pada jalur tradisional seperti bank, perusahaan, dan individu. Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) Departemen Keuangan AS juga menargetkan alamat mata uang digital, yang dituduh digunakan oleh jaringan keuangan untuk mentransfer uang hasil minyak dan non-minyak Iran.

Menurut Gholma-Reza Taj Gardoun, ketua komite anggaran parlemen, “pemerintah Iran hanya menerima 13 dari 21 miliar dolar dari pendapatan minyaknya dalam delapan bulan terakhir”. Ia menambahkan bahwa “sisanya sebesar 8 miliar dolar AS adalah penyebab gejolak saat ini, yaitu kekurangan uang dolar di pasar dan kenaikan nilai tukar.”

Sebenarnya, Cina bisa menekan AS dengan mineral (termasuk mineral langka), dan telah dilakukan saat perundingan tarif Cina dan Amerika, ternyata berhasil. Itulah sebabnya, untuk mengurangi tekanan Cina, AS mengambilnya dari Venezuela, Bolivia, dan negeri-negeri lain di Amerika Latin; Ya, Cina pernah menekan AS dengan mengancam akan menghentikan ekspor mineralnya (termasuk mineral langka) selama negosiasi tarif dengan AS, dan itu berhasil.

Catatan sejarah menunjukkan penempatan rudal nuklir di Kuba oleh Uni Sovyet pada tahun 1962, sebagai bagian dari Operasi Anadyr, pada kenyataannya, menghasilkan perdamaian sementara, pengendalian senjata nuklir, dan menghentikan invasi AS ke Kuba.

Perang Iran

Jika kita membahas Iran, yang juga diserang dari dalam, kita juga berbicara tentang persenjataan non-nuklir Iran. Memang benar bahwa senjata nuklir adalah titik tekanannya—begitu Irak dan libya meninggalkan program nuklirnya, AS langsung menggempurnya. Tetapi dalam perang 12 hari (bahkan lebih lama), tanpa senjata nuklir, Iran mampu menghadapi Israel dan AS, sampai-sampai Israel meminta bantuan AS untuk memohon gencatan senjata. Jelas bahwa Iran sendirian tidak akan mampu menghadapi AS, tetapi Iran cerdas—mereka menyerang Israel, meskipun tidak dengan kekuatan penuh, karena Iran menyadari bahwa Israel adalah tangan kanan AS di Timur Tengah. AS tidak bisa menduduki Iran, tapi AS bisa menghancurkan Iran.

AS tidak ingin membiarkan Israel runtuh, meskipun AS tidak akan mudah menyerang Iran. Mengapa? Rusia dan China tentu tidak akan tinggal diam jika Iran diserang. Dan apa yang dilakukan Cina dan Rusia sekarang adalah membantu Iran dengan persenjataan, pertahanan udara, Intelejen, cyber war, dan manfaat satelit.

Memang ada bantuan persenjataan dari Rusia dan Cina, tetapi Iran juga mampu memproduksi rudal jarak menengah—yang tidak dapat diblokir oleh sistem pertahanan udara Iron Dome dan sistem lainnya dari Amerika—dan juga memproduksi drone canggihnya sendiri—dan drone tersebut juga sangat membantu Rusia dalam memerangi Ukraina. Dan perang dengan Amerika tidak hanya dihadapi dengan peperangan modern—seperti yang diharapkan Rusia, Tiongkok, Korea Utara, dan Iran. Tetapi perang konvensional melawan AS juga dapat mengalahkan AS—Afghanistan, Vietnam, Kuba, bahkan Iran ketika menggulingkan Reza Pahlavi. Memang ada kesulitan ekonomi, yang penyebabnya adalah embargo, sabotase, dan suap untuk pengkhianat domestik. Selain itu, dan ini yang terpenting, dan khas negeri-negeri bekas jajahan atau bekas yang dieksploitasi oleh Barat, bahwa tenaga produktif mereka—pengalaman skill, sains, teknologi, dan sarana-sarana/alat-alat produksinya—belum berkembang. Namun, dalam kasus ini, Iran bergerak menuju modernisasi tenaga produktifnya, tetapi Iran harus menghadapi campur tangan dari luar, dan dari dalam—terutama karena banyak pemimpin negara itu adalah orang-orang yang brengsek, korup, yang memberikan dasar untuk memprovokasi rakyat mereka—dan juga memiliki program manusiawi untuk membela Palestina, Lebanon, dan Yaman.

Lalu mengapa Cina tetap diam ketika AS menyerang Venezuela, padahal kepentingan Cina terhadap minyak mentah berat (heavy crude oil) Venezuela sangat besar? Ya, tentu saja, karena Cina belum sepenuhnya mengendalikan Laut Cina Selatan, Laut Kalimantan Utara dan Barat, serta Samudra Pasifik untuk akses geo-politik ke Amerika Latin.

Jika Cina dan Rusia dapat menyerang Amerika dari Amerika Latin karena mereka memiliki akses ke Samudra Pasifik dan Atlantik, itu berarti ada banyak pangkalan militer Rusia dan Cina di sepanjang samudra tersebut. Namun ternyata tidak. Tidak demikian halnya AS, yang memiliki ratusan pangkalan militer di mana-mana. Namun, AS tetap tidak dapat mengganggu Rusia dan Cina di wilayah geo-politiknya dan di beberapa area yang dipengaruhi Rusia dan Ciina. Perang di wilayah-wilayah ini akan sangat sulit mengingat jarak yang sangat jauh dari pusat-pusat pasokan di AS, terutama jika dicegat di Samudra Atlantik, Pasifik, dan Hindia oleh rudal jarak jauh dan menengah Rusia dan China yang lebih unggul daripada rudal AS. Cina pernah berupaya mengadakan latihan perang dengan beberapa negeri Pasific, namun sekarang tidak berlanjut ke tahapan berikutnya–biasanya Pakta pertahanan (treaty).

Jangan bandingkan Kuba, Vietnam, Afghanistan, Yaman, dalam beberapa hal Venezuela, dan Iran, dengan Irak, Suriah, Panama, Libya, dan negeri-negeri lain yang serupa. Terlepas dari ideologinya, Venezuela, Kuba, Vietnam, Afghanistan, Yaman, dan Iran telah mengalami proses ideologisasi dan militansi yang panjang, mendalam, dan kuat. Yang biasanya melemahkan pertahanan diri (martabat) mereka adalah kesulitan ekonomi, korupsi, dan rendahnya tingkat tenaga produktif mereka, yaitu status ilmiah masyarakatnya, teknologinya, dan sarana-sarana/alat-alat alat produksi mereka. Di Indonesia, warisan martabat manusia ini dihancurkan oleh kontra-revolusi pada tahun 1965. Namun, sebelum tahun 1965, Indonesia mampu menarik diri dari PBB—bayangkan jika saat itu dan saat ini sebagian besar anggota PBB mengundurkan diri, sehingga AS terisolasi. Itulah mengapa Indonesia dihancurkan oleh genosida brutal, yang dibantu oleh AS, Inggris, dan Jerman. Dan Uni Soviet (dan negeri-negeri sosialisnya), Cina, dan negeri-negeri Konferensi Asia-Afrika tidak melakukan apa pun untuk membela Indonesia–negeri dengan keanggotaan partai komunis terbesar di dunia (di luar negeri-negeri yang sudah sosialis).

Juga, tidak ada satu bangsa yang dapat dijajah tanpa ada kerjasama dengan orang dalam, kata Pramoedya Ananta Toer

Kesalahan terbesar lainnya juga terletak pada analisis militer dan geo-politik—Cina dan Rusia memang kuat, tetapi mereka tidak dapat memobilisasi kekuatan di seluruh dunia (termasuk Amerika Latin), tidak seperti AS, yang memiliki pangkalan militer di mana-mana. Apalagi Indonesia gagal menempatkan Laut Cina Selatan, Selat malaka, dan Laut serta lautan yang mengelili dan ada di dalam Indonesia (termasuk ponggiran lautan Pasific) tidak diserahkan pada perjanjian pertahanan dengan Cina dan Rusia, agar bisa membiarkan Cina serta Rusia bergerak bebas ke Samudra Pasifik dan Amerika Latin. Demikianlah kesulitannya, meskipun Cina sangat diuntungkan dari minyak mentah berat Venezuela, Cina kehilangan akses ke sana. Oh, betapa malunya Cina dengan serangan AS ini.

AS (terutama) tidak lagi tertarik pada Indonesia karena, selain pasar barang-barangnya tidak besar (kecuali yang beeteknologi tinggi), juga sumber daya alamnya telah dieksploitasi habis-habisan–hanya tinggal Freeport yang cukup besar. AS tertarik pada geografi geo-politik Indonesia karena aksesnya ke Samudra Pasifik, Samudra Hindia, Laut Cina Selatan, dan Selat Malaka. Politik Indonesia bukanlah politik bebas “aktif” tetapi bebas-melongo-bingung.

Saat ini, kita hanya mengandalkan tekanan mobilisasi massa di Venezuela, Iran, dan negeri-negeri yang sedang dan berkehendak melawan AS, juga alangkah sempurnanya bila ada mobilisasi di negeri AS dan sekutu terkuatnya, seperti Eropa dan Israel dan, selain itu kemampuan untuk melancarkan perang tahan-lama dengan gerilyawan di pegunungan, pedesaan, dan perkotaan.

Di Amerika, Eropa, dan Israel, sekarang, semakin banyak orang turun ke jalan untuk mengecam agresi AS terhadap Venezuela, Palestina, Iran, dan negeri-negeri lainnya, meskipun rakyat Amerika sebenarnya diuntungkan dari agresi tersebut—bahan bakar akan murah dan melimpah, minyak mentah berat dan mineral langka akan berlimpah, dan pendapatan anggaran negara akan meningkat drastis.

Mari kita perjelas: tekanan sekarang adalah memberikan solusi yang akan disuguhkan kepada rakyat dunia dan para pemimpin massa mereka.

——–

*Penulis Danial Indrakusuma, pengamat geopolitik-ekonomi

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles