JAKARTA – Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS) Selamat Ginting meminta pemerintah waspada dengan menjadikan Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka sebagai pusat Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) Pesawat Angkut Berat C-130 Hercules se-Asia. Sebab, proyek MRO memungkinkan konsekuensi strategis, salah satunya muncul persepsi Indonesia terlalu dekat dengan Amerika Serikat (AS).
“Kritik sudah mulai muncul bahwa fasilitas ini bisa dianggap sebagai ‘pangkalan terselubung’ Amerika. Padahal Indonesia menganut politik luar negeri bebas aktif dan menolak pangkalan militer asing,” kata Selamat dikutip Bergelora.com di Jakarta, Jumat (29/5/2026).
“Pemerintah harus sangat hati-hati menjaga kedaulatan operasional, kepemilikan fasilitas, kontrol personel asing, dan batas kerja sama. Jika tidak, Indonesia bisa terseret dalam rivalitas AS-China,” tegas dia lagi.
Selain itu, Selamat menilai Bandara Kertajati berpotensi menjadi target strategis jika terjadi konflik besar di kawasan Indo-Pasifik atau Laut China Selatan.
Menurut dia, fasilitas logistik militer bernilai tinggi akan menjadi sasaran penting dalam perang modern.
“Artinya keamanan siber, pertahanan udara, dan proteksi infrastruktur strategis harus diperkuat sejak awal,” kata Selamat.
Selamat juga mengingatkan adanya risiko ketergantungan teknologi terhadap Amerika Serikat.
Ia mengatakan, jika sistem terlalu bergantung pada AS, Indonesia berpotensi menghadapi embargo, pembatasan perangkat lunak, atau tekanan politik.
“Maka transfer teknologi wajib menjadi syarat utama kerja sama,” pungkas dia.
Diberitakan sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Pertahanan RI menerima tawaran Menteri Perang Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth dengan menjadikan Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka sebagai pusat Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) Pesawat Angkut Berat C-130 Hercules se-Asia.
Hal itu diungkapkan Menteri Pertahanan (Menhan) RI Sjafrie Sjamsoeddin dalam Rapat Kerja (Raker) Bersama antara Komisi I DPR dengan Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan TNI pada Selasa (19/5/2026).lalu.
“Dia menawarkan, dan ini tidak ada di negara ASEAN. Dia menawarkan, ‘bagaimana kalau pemeliharaan C-130 di seluruh Asia saya pusatkan di Indonesia atas biaya kami?’. Saya lapor (ke) Bapak Presiden, ‘kasih Kertajati’. Nah kita sedang bekerja untuk itu,” ungkap Sjafrie.
Kendati demikian, Sjafrie tidak menjelaskan lebih lanjut berkait hal tersebut. Dalam kesempatan berbeda, Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait membenarkan soal tawaran dari AS itu.
“Terkait pernyataan Bapak Menhan tersebut, saat ini memang terdapat rencana untuk menyiapkan kawasan Bandara Kertajati sebagai salah satu pusat Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) pesawat C-130/Hercules di kawasan Asia,” ujar Rico saat dikonfirmasi, Rabu (20/5/2026).
Rico mengungkapkan bahwa pemilihan Bandara Kertajati mempertimbangkan ketersediaan lahan yang luas serta fasilitas pendukung penerbangan sudah memadai.
Pati TNI AD itu menjelaskan, pengembangan Bandara Kertajati sebagai MRO C-130 Hercules se-Asia dilakukan secara bertahap.
“Diarahkan untuk mendukung Indonesia sebagai hub pemeliharaan Hercules di kawasan,” ucap dia.
Menurut Rico, hal ini sejalan dengan upaya penguatan kemandirian industri pertahanan dan dukungan logistik penerbangan strategis nasional.
Beredar Foto Bendera AS di Bandara Kertajati, PT BIJB Pastikan Hoaks
Sementara itu, beredar di media sosial foto bendera Amerika Serikat (AS) berkibar di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Kabupaten Majalengka. Foto itu muncul seiring dengan wacana Bandara Kertajati yang bakal dijadikan pusat pemeliharaan dan perawatan atau Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) pesawat angkut militer turboprop C-130 Hercules milik AS.
BIJB Sebut Foto Hasil AI
Merespons beredarnya foto tersebut, Manager Corporate Secretary PT BIJB, Imam Rasyidin, memastikan foto itu tidak benar atau hoaks. Imam menduga foto tersebut dibuat menggunakan artificial intelligence (AI).
“AI itu pak, hoaks,” tegas Imam saat dikonfirmasi, Jumat (29/5/2026).
Ia memastikan hingga saat ini tidak ada bendera AS yang dipasang di Bandara Kertajati. Pihaknya juga meminta masyarakat tidak terpancing dengan foto yang beredar di media sosial.
Wacana MRO Masih Dibahas
Meski demikian, Imam membenarkan adanya wacana kerja sama menjadikan Bandara Kertajati sebagai pusat MRO pesawat angkut militer turboprop C-130 Hercules milik AS. Namun, wacana tersebut masih dalam pembahasan lebih lanjut oleh Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI.
Menurut informasi yang diterima BIJB, fasilitas MRO itu nantinya tidak hanya diperuntukkan bagi pesawat milik AS, tetapi juga untuk perawatan pesawat milik Indonesia, termasuk TNI AU dan matra TNI lainnya.
Tak hanya itu, kerja sama tersebut juga disebut tidak akan menghilangkan status Bandara Kertajati sebagai bandara penerbangan komersial.
“Secara formal pembahasan yang dilakukan dengan Tim Kemenhan RI adalah pengembangan kerjasama MRO ini tidak hanya untuk pesawat AS, tapi juga untuk pesawat TNI AU, maupun Matra TNI lainnya, serta pesawat komersial,” jelasnya.
Status Bandara Milik Pemprov Jabar
Imam menegaskan status kepemilikan Bandara Kertajati tetap milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
“Kami pun akan mengikuti semua kebijakan yang diambil oleh Pemprov sebagai pemegang saham pengendali,” tegas Imam.
Sebelumnya, isu Bandara Kertajati menjadi bengkel pesawat Hercules mencuat setelah Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengungkap adanya tawaran dari Menteri Pertahanan Amerika Serikat untuk membangun pusat perawatan pesawat Hercules kawasan Asia di Indonesia. Kertajati disebut menjadi salah satu lokasi yang disiapkan karena memiliki landasan dan kawasan pendukung yang luas.
Imam kembali menegaskan bahwa rencana tersebut merupakan pengembangan industri aviasi dan pertahanan, bukan pengambilalihan bandara oleh militer asing.
“Sehingga kami tegaskan tidak ada bendera AS di Bandara Kertajati,” pungkasnya. (Web Warouw)

