JAKARTA – Pengamat Politik Pangi Syarwi Chaniago melihat eksistensi Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) justru semakin kuat meski sudah tidak lagi menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.
Menurut Pangi, anggapan bahwa Jokowi akan kehilangan pengaruh politik setelah lengser ternyata tidak terbukti. Ia menilai kekuatan politik Jokowi masih terlihat hingga saat ini.
“Fakta yang terjadi hari ini ketika Pak Jokowi sudah tidak lagi menjadi Presiden saya sadar kok makin kuat,” kata Pangi dalam dialog Interupsi di iNews, dikutip Bergelora.com di Jakarta, Senin (1/6/2026).
Pangi mengatakan, persepsi publik sebelumnya menganggap Jokowi akan kehilangan pengaruh setelah masa jabatannya selesai. Namun, kondisi saat ini menurutnya menunjukkan hal berbeda.
“Ada yang mencermati, persepsi publik mengatakan, bukan saya, kelilingnya Pak Jokowi itu tidak lepas dari tuduhan selama ini Pak Jokowi dianggap akan lump duck, akan jadi bebek lumpuh dia tidak akan bisa akan kabur semua,” ujarnya.
Ia menilai pengaruh Jokowi masih tampak dari banyaknya figur maupun kelompok yang tetap berada di lingkaran politiknya. Karena itu, langkah Jokowi berkeliling Indonesia dinilai tidak bisa dipandang sekadar kegiatan biasa.
Menurut Pangi, kedekatan Jokowi dengan rakyat melalui agenda turun langsung ke masyarakat juga menjadi faktor yang membuat pengaruh politiknya tetap terjaga.
“Sebenarnya dalam pendekatan sistem politik, pendekatan namanya tatap muka face to face itu belum ada yang bisa menggantikan per hari ini,” katanya.
Ia menambahkan, interaksi langsung dengan masyarakat masih menjadi instrumen politik yang sangat efektif.
“Pertemuan say hello, bertatap muka, menyapanya rakyat, bersalaman dengan rakyat, kemudian kontak mata, kontak batin, sampai hari ini belum ada yang bisa menggantikan instrumen itu,” pungkasnya.
Bukan Sekadar Silaturahmi Biasa
Rencana Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) untuk melakukan kunjungan ke sejumlah daerah dalam waktu dekat dinilai bukan sekadar agenda silaturahmi biasa.
Langkah tersebut dipandang sebagai bagian dari strategi politik untuk merawat sekaligus memperkuat jaringan pendukung yang selama ini menjadi basis kekuatan.
Pengamat politik Yusak Farchan menilai, aktivitas Jokowi berkeliling daerah perlu dibaca sebagai upaya konsolidasi terhadap kelompok-kelompok relawan yang selama ini tersebar di berbagai wilayah.
Menurutnya, mantan presiden itu tengah berusaha menjaga soliditas jaringan politik yang telah terbentuk selama dua periode kepemimpinannya.
“Agenda keliling daerah ini tidak bisa lepas dari upaya Jokowi mempertahankan dan mengonsolidasikan kekuatan politik yang selama ini bertumpu pada jaringan relawan. Pada saat yang sama, ada kecenderungan untuk menghubungkan kekuatan tersebut dengan PSI,” kata Yusak, Sabtu (30/5/2026).
Menurut Yusak, muncul indikasi bahwa Jokowi sedang merancang format kekuatan politik baru pasca meninggalkan kursi kepresidenan.
Kolaborasi antara Relawan dan PSI dinilai berpotensi menjadi fondasi politik baru yang dapat menjaga pengaruh Jokowi dalam dinamika politik nasional.
“Terlihat ada upaya meramu kekuatan relawan dan PSI agar menjadi basis politik yang mampu menjaga keinginan mempengaruhi pengaruh Jokowi, termasuk sebagai kendaraan politik bagi Gibran di masa mendatang,” ujarnya.
Ia menilai, aspek yang paling menarik dari agenda tersebut adalah momentum pelaksanaannya.
Pasalnya, safari politik yang dilakukan Jokowi di tengah meningkatnya berbagai spekulasi dan dinamika politik nasional yang berkembang dalam beberapa waktu terakhir.
“Yang menarik justru waktunya. Jokowi memilih turun langsung ke daerah ketika berbagai isu politik nasional sedang mengemuka. Situasi ini tentu menjadi variabel yang perlu dicermati oleh banyak pihak, termasuk pemerintah saat ini,” tuturnya.
Yusak meyakini keputusan Jokowi kembali aktif melakukan konsolidasi politik tidak dilakukan tanpa perhitungan matang.
Dengan pengalaman panjangnya di panggung politik nasional, Jokowi menilai tengah membaca berbagai kemungkinan yang dapat terjadi dalam perjalanan pemerintahan ke depan.
“Kalau tidak ada agenda yang lebih besar, saya kira Jokowi tidak akan turun gunung. Ada kalkulasi politik yang sedang dipersiapkan untuk menghadapi berbagai kemungkinan dinamika yang bisa muncul dalam beberapa tahun ke depan,” katanya.
Menurut Yusak, kondisi tersebut menunjukkan bahwa peta politik nasional masih sangat dinamis.
Sejumlah tokoh dan kekuatan politik mulai menata langkah-langkah untuk menghadapi kontestasi menuju Pemilu 2029.
“Dalam konteks itu, aktivitas Jokowi di berbagai daerah menjadi sinyal bahwa ia belum selesai memainkan peran politiknya. Pengaruh dan jaringan yang dimilikinya masih berpotensi menjadi faktor penting dalam pembentukan konfigurasi politik nasional ke depan,” tutupnya. (Web Warouw)

