Kamis, 11 Juni 2026

PERDAMAIAN GAGAL TOTAL..! Trump Perintahkan Bom Iran, Teheran Balas Tutup Total Jalur Minyak Selat Hormuz

JAKARTA – Situasi di Timur Tengah kembali membara. Amerika Serikat (AS) meluncurkan serangan udara baru ke beberapa wilayah di Iran atas perintah langsung Presiden Donald Trump.

Langkah eskalasi militer ini langsung direspons keras oleh Teheran yang mengumumkan penutupan total Selat Hormuz bagi semua jenis kapal.

Militer AS menyatakan bahwa serangan yang diluncurkan pada Rabu (10/6/2026) malam waktu setempat tersebut merupakan respons atas tindakan agresif Iran yang dinilai tidak beralasan dan terus berlanjut.

Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan serangkaian ledakan dahsyat mengguncang Pulau Qeshm, serta kota-kota pelabuhan penting di sepanjang Selat Hormuz seperti Bandar Abbas dan Sirik.

Ledakan juga dilaporkan menghantam kota Kargan di bagian selatan, yang menyebabkan sedikitnya dua orang terluka, dilansir dari Al Jazeera, Kamis.

Selat Hormuz Ditutup Total

Kepada Bergelora.com di Jakarta, Kamis (11/6). dilaporkan, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menuduh Amerika Serikat telah melakukan pelanggaran berulang kali terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati pada April lalu.

Sebagai bentuk protes dan langkah pertahanan, IRGC menyatakan Selat Hormuz ditutup sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Penutupan jalur pelayaran vital dunia ini dipastikan akan berdampak pada seluruh lalu lintas laut, termasuk kapal-kapal tanker minyak dan kapal komersial.

IRGC juga membantah keras klaim sepihak AS sebelumnya yang menyatakan telah membantu kapal-kapal untuk melintasi selat tersebut.

Tak berselang lama setelah pengumuman penutupan, situasi kian mencekam. IRGC menambahkan bahwa ada dua kapal tanker minyak yang mencoba melintas secara ilegal di selat tersebut telah dihantam serangan.

Kronologi Ketegangan AS-Iran

Eskalasi besar-besaran ini terjadi hanya berselang satu hari setelah AS dan Iran terlibat dalam aksi saling serang (tit-for-tat).

Ketegangan tersebut dipicu oleh insiden jatuhnya helikopter Apache milik militer AS di Selat Hormuz sebelumnya.

Sebelum perintah serangan udara diturunkan, Presiden AS Donald Trump telah melontarkan ancaman bahwa Washington akan memukul Iran dengan sangat keras.

“Kita akan lihat apa yang terjadi dengan kesepakatan itu. Kita sebenarnya sudah sangat dekat dengan kesepakatan. Namun mereka terus mengulur-ulur waktu. Mereka terus memperlakukan kita seperti orang bodoh karena apa Anda tahu? Mereka berurusan dengan beberapa presiden yang sangat bodoh. Saya harus mengatakan itu, saya malu mengatakannya,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Respons Keras Presiden Iran

Ancaman keras dari Donald Trump langsung mendapat kecaman dari Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Melalui sebuah unggahan di media sosial X, Pezeshkian menegaskan bahwa target serangan AS merupakan fasilitas vital masyarakat.

“Infrastruktur kritis adalah urat nadi masyarakat. Ancaman untuk menargetkan mereka, mulai dari jaringan transportasi hingga industri listrik dan air, bukanlah unjuk kekuatan melainkan tanda keputusasaan dalam menghadapi kehendak sebuah bangsa,” tulis Pezeshkian.

Ia juga menambahkan bahwa Iran tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan militer dari luar.

“Iran, dengan mengandalkan pengetahuan dan kemampuan para spesialisnya, persatuan nasional, serta solidaritas, akan berdiri teguh melawan tekanan atau ancaman apa pun,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, situasi di sekitar Selat Hormuz masih sangat tegang dan menjadi sorotan dunia internasional mengingat signifikansi jalur tersebut terhadap pasokan minyak global. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles