JAKARTA – Pemerintah Amerika Serikat (AS) memberi lampu hijau kepada 10 perusahaan teknologi China untuk membeli chip kecerdasan buatan (AI) Nvidia H200. Namun hingga kini, tak satu pun transaksi pengiriman chip tersebut berjalan mulus karena Beijing disebut masih menahan langkah perusahaan domestiknya.
Perusahaan seperti Alibaba, Tencent, ByteDance hingga JD.com sudah mengantongi izin pembelian chip AI tercanggih kedua milik Nvidia itu. Bahkan distributor seperti Lenovo dan Foxconn juga telah mendapat persetujuan dari pemerintah AS.
Setiap pelanggan yang mendapat izin dapat membeli hingga 75.000 chip berdasarkan ketentuan lisensi ekspor AS, demikian dikutip dari Reuters, Jumat (15/5/2026).
Meski begitu, kesepakatan jumbo tersebut masih menggantung di tengah memanasnya rivalitas teknologi AS-China.
Menurut sumber Reuters, perusahaan-perusahaan China mulai menarik diri dari rencana pembelian setelah mendapat arahan dari pemerintah Beijing. China disebut khawatir ketergantungan pada chip Nvidia justru melemahkan ambisi mereka membangun industri chip AI domestik.
Meski teknologi chip AI China masih tertinggal dari Nvidia, perusahaan seperti DeepSeek mulai menonjolkan penggunaan chip lokal, termasuk yang dikembangkan Huawei.
“Pemerintah pusat China sejauh ini belum mengizinkan mereka membeli chip tersebut, karena mereka ingin investasi tetap fokus pada industri domestik mereka sendiri,” ujar Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dalam sidang Senat bulan lalu.
Situasi ini menjadi pukulan besar bagi Nvidia. Sebelum kontrol ekspor AS diperketat, Nvidia menguasai sekitar 95% pasar chip AI canggih di China. Negeri Tirai Bambu bahkan sempat menyumbang sekitar 13% pendapatan Nvidia.
Jensen Huang sebelumnya juga memperkirakan pasar AI China akan mencapai nilai US$50 miliar tahun ini.
Jalan menuju penjualan chip H200 juga terhambat berbagai persyaratan dari kedua negara. Aturan AS yang diterbitkan Januari lalu mewajibkan pembeli China membuktikan bahwa mereka telah memasang prosedur keamanan yang memadai dan tidak akan menggunakan chip untuk kepentingan militer.
Nvidia juga diwajibkan memastikan ketersediaan stok chip yang cukup di wilayah AS.
Trump turut menegosiasikan skema di mana AS akan menerima 25% dari pendapatan penjualan chip tersebut. Skema ini mengharuskan chip terlebih dahulu melewati wilayah AS sebelum dikirim ke China, karena hukum AS tidak mengizinkan pungutan biaya ekspor secara langsung.
Skema tersebut memicu kekhawatiran di Beijing terkait potensi manipulasi atau celah tersembunyi pada chip, meski sejumlah sumber menyebut mekanisme itu terutama dibuat untuk mengakali hambatan hukum.
Xi Jinping Jamu Trump

Kepada Bergelora.com di Jakarta, Jumat (15/5) dilaporkan, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping di Zhongnanhai, Beijing, Kamis (15/5).
Lokasi pertemuan itu bukan tempat biasa, melainkan kompleks super tertutup yang menjadi pusat kekuasaan elite Partai Komunis China.
Zhongnanhai dikenal sebagai markas utama kepemimpinan Partai Komunis China sekaligus kawasan yang sangat jarang bisa diakses publik.
Kompleks seluas sekitar 1.500 acre itu berada di jantung Beijing dan dipenuhi bangunan paviliun serta kuil peninggalan era kekaisaran China yang kini dialihfungsikan menjadi pusat pemerintahan dan kantor elite partai.
Di kawasan itulah para pemimpin tertinggi China bekerja, menggelar rapat penting, hingga mengambil keputusan politik strategis negara.
Zhongnanhai kerap disebut sebagai versi China dari Gedung Putih di AS atau Kremlin di Rusia. Namun berbeda dengan dua kompleks pemerintahan tersebut, Zhongnanhai dikenal jauh lebih tertutup.
Akses menuju area itu dijaga ketat unit militer elite yang bertugas melindungi pemimpin tertinggi Partai Komunis China. Dinding besar mengelilingi kompleks tersebut dan citra digital kawasan itu juga dibatasi di berbagai platform peta domestik China.
Selain menjadi pusat pemerintahan, Zhongnanhai juga identik dengan lingkaran elite Partai Komunis China.
Selama puluhan tahun, lokasi itu menjadi tempat utama pertemuan Politbiro, lembaga pengambil keputusan tertinggi partai, termasuk Komite Tetap Politbiro yang beranggotakan tujuh orang pemimpin paling berpengaruh di China.
Tak banyak presiden AS yang pernah masuk ke kompleks tersebut. Presiden AS pertama yang menginjakkan kaki di Zhongnanhai adalah Richard Nixon saat bertemu pemimpin revolusioner China Mao Zedong dalam kunjungan bersejarah ke Beijing pada 1972.
Tiga dekade kemudian, Presiden AS George W Bush juga memasuki Zhongnanhai saat bertemu Presiden China kala itu, Jiang Zemin.
Sementara presiden AS terakhir yang diketahui mengunjungi kompleks tersebut adalah Barack Obama pada 2014. Saat itu, Obama dan Xi Jinping disebut menghabiskan waktu bersama di salah satu paviliun Zhongnanhai sambil makan malam dan minum teh. (Web Warouw)

