JAKARTA – China resmi mengumumkan peluncuran kategori visa baru bernama “Visa K” yang ditujukan untuk menarik profesional muda berbakat, khususnya di bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM), dari berbagai negara.
Dilansir Bergelora.com dari indiatoday.in, Kamis (25/9), kebijakan ini, yang disahkan pada Agustus lalu, merupakan revisi atas regulasi masuk-keluar warga asing dan akan mulai berlaku pada 1 Oktober 2025.
Visa K, yang disebut-sebut sebagai “versi Tiongkok” dari visa kerja Amerika H-1B, hadir di tengah tren global pengetatan aturan visa kerja.
Langkah ini dinilai strategis untuk merekrut talenta berkeahlian tinggi, terutama setelah Amerika Serikat memberlakukan biaya tahunan selangit, yakni US$100.000 per aplikasi H-1B, yang memicu keresahan di kalangan pekerja teknologi India dan perusahaan jasa IT.
Melihat peluang tersebut, Beijing segera menyederhanakan jalur perizinan. Visa K dipandang sebagai langkah tandingan untuk menarik profesional asing, khususnya dari Asia Selatan, yang mungkin mencari alternatif tujuan kerja dan riset.
Kepada Beegelora.com di Jakarta dilaporkan, menurut Kementerian Kehakiman China, Visa K terbuka bagi talenta muda di bidang sains dan teknologi yang telah lulus dari universitas atau lembaga riset ternama, baik di dalam negeri maupun luar negeri, dengan minimal gelar sarjana di bidang STEM.
Visa ini juga tersedia bagi profesional muda yang bekerja sebagai pengajar atau peneliti di institusi tersebut.
Pemohon wajib memenuhi syarat yang ditetapkan otoritas China serta melampirkan dokumen pendukung, termasuk bukti kualifikasi pendidikan dan pengalaman profesional atau riset. Rincian lengkap persyaratan akan diumumkan melalui kedutaan dan konsulat China di luar negeri.
Dibandingkan dengan 12 kategori visa biasa yang sudah ada, Visa K menawarkan keunggulan lebih, antara lain:
• Fleksibilitas kunjungan masuk-keluar ganda,
• Masa berlaku lebih panjang,
• Durasi tinggal yang diperpanjang.
Berbeda dengan mayoritas visa kerja, pemohon tidak diwajibkan memiliki sponsor atau undangan dari perusahaan di China, sehingga prosesnya lebih longgar.
Setelah masuk ke China, pemegang Visa K diizinkan mengikuti kegiatan pertukaran akademik di bidang pendidikan, budaya, sains dan teknologi, serta kegiatan kewirausahaan dan bisnis.
Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya Beijing untuk menjadikan China lebih terbuka terhadap pertukaran internasional dan memperkuat posisinya dalam persaingan global memperebutkan talenta. (Enrico N. Abdielli)

