Kamis, 30 April 2026

Bangun Industri Berbasis Gas CO2 di Natuna

Pakar energi, Dr. Kurtubi. (Ist)

Kebutuhan LPG sudah sangat mendesak bagi rakyat. Padahal, saat ini sekitar 75% kebutuhan LPG nasional bergantung dari LPG impor. Pakar Energi, Dr. Kurtubi memaparkan, sebagai  alternatif,– Indonesia punya proven reserves gas di Natuna sekitar 200 TCF yang kandungan CO2 nya sangat besar sekitar 80% dari total cadangan gas yang ada di Natuna. Alumni dari Coloradio School of Mines, di Amerika Serikat dan Institut Francaise du Petrole, di Perancis dan Universitas Indonesia ini menuliskannya kepada pembaca Bergelora.com (Redaksi)

Oleh: Dr. Kurtubi

SAYA masih ingat, sekitar 25 tahun yang lalu,  saya sedang mengambil program dual-degree  kerjasama antara Coloradio School of Mines, di Amerika Serikat dan Institut Francaise du Petrole, di Perancis.  Suatu saat ada semacam Kuliah Umum di Kampus IFP di Ruel Malmaison  yang antara lain, sedikit menyinggung bahwa para ahli kimia sejak  sekitar satu abad yang lalu sudah tahu  bagaiamana memproduksi METHANOL dari CO2 dan H2. 

Sekitar tahun 1920-an sudah ada kilang methanol dengan memanfaatkan CO2 dan hydrogen yang didapat dari hasil by-product dari proses lain atau bisa juga dari biomas  yang jumlahnya sedikit. 

Padahal kita punya proven reserves gas di Natuna sekitar 200 TCF yang kandungan CO2 nya sangat besar sekitar 80% dari total cadangan gas yang ada di Natuna. Ini boleh jadi merupakan  konsentrasi gas CO2 terbesar di dunia.  Penemuan cadangan gas raksasa di Natuna ini sudah lebih dari 30 tahun yang lalu. Namun seolah-olah selama ini dibiarkan tidak dieksploitasi dan dimanfaatkan untuk mensejahterakan rakyat sesuai amanah Konstitusi kita.

Memang betul perlu investasi dan teknologi. Teknologi yang sudah umum dan proven untuk memisahkan minyak dengan gas termasuk memisahkan gas  CO2 nya juga sudah lama tersedia. Gas pipa (C1 C2 – methane dan ethane) sudah ada sejak sekitar 50 tahun yang lalu. Pertamina sudah bisa mengkonversi gas pipa ini menjadi LNG di Arun dan Bontang agar bisa diangkut dengan tanker untuk diekspor. Ekspor LNG ini telah ikut memperkuat keberhasilan expor migas nasional sehingga migas menjadi pencetak devisa dollar terbesar dalam sejarah perekonomian nasional, mencapai sekitar 80% dari total nilai neraca perdagangan dan neraca pembayaran Indonesia. 

Selain gas pipa (C1 C2) yang ada di Natuna bisa dikonversi menjadi LNG,–  gas  dari Natuna ini bisa dialirkan langsung lewat pipa ke Kalimantan bahkan ke Jawa  untuk bahan baku industri kimia dan untuk menggantikan LPG di rumah-rumah tangga. Ini tergantung tingkat keekonomiannya.

Juga kemungkinan,  selain CO2 Natuna bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku  methanol,– sebagian CO2 bisa dialirkan untuk bahan baku EOR untuk meningkatkan produksi minyak mentah di Blok Rokan yang sebentar lagi akan dioperasikan oleh Pertamina.

Jika kandungan gas propane dan butane di Natuna cukup besar bisa dikonversi menjadi LPG untuk mengurangi import LPG.  Dalam hal pemanfaatan gas, Indonesia sudah sangat berpengalaman dan sangat faham baik aspek teknologinya maupun keekonomiannya. Sementara, memanfaatkan CO2 menjadi bahan baku petrokimia seperti methanol  memang belum dimulai. Tapi ditempat lain C02 sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan baku methanol.

Jujur saja,  sebaiknya cadangan gas,– termasuk CO2 yang mencapai  ratusan TCF di Natuna jangan  DIBIARKAN NGANGGUR TERLALU LAMA. Saya berpendapat bahwa YANG DIINCAR secara tersembunyi  oleh China kemungkinan adalah justru GAS Natuna yang sangat besar ini.

Kita tahu bahwa methanol adalah bentuk cair  dari oksigenasi hidrocarbon, sehingga MUDAH diangkut kemana-mana. CO2 adalah salah satu bahan baku utama untuk menghasilksn methanol.  Banyak pihak yang menyayangkan  dengan gas termasuk CO2 Natuna yang  oleh pemiliknya dibiarkan begitu saja ditengah persaingan antar bangsa untuk memakmurkan rakyatnya masing-masing. Padahal CO2 dalam jumlah besar yang berada di satu lokasi, bisa menjadi bahan baku industri. 

Yang sering kita dengar bahwa CO2 itu menyebabkan pencemaran udara dan pemanasan  global. Narasi ini benar, jika CO2 dibuang  bebas ke udara seperti pada PLTU Batubara dan CO2 dari cerobong pabrik dan dari knalpot kendaraan. Lah,– CO2 di Natuna jumlahnya besar di satu lokasi sehingga justru bisa menjadi pendorong  lahirnya  INDUSTRI BERBASIS GAS, khususnya Gas CO2 di Natuna. SEKALIGUS untuk mendukung Paris Agreement. Sehingga ide atau skenario sebelumnya untuk memompa balik CO2 Natuna ke perut bumi supaya dihilangkan.

Kita mengharap para ahli dan peneliti kita baik yang ada di lembaga-lembaga penelitian dan perguruan tinggi  bisa segera melahirkan Inovasi menjadikan CO2 sebagai bahan baku industri yang sekaligus  bisa segera  diimplementasikan oleh kalangan industri dan dunia usaha.

Energi Nuklir

Kita juga menghimbau Pemerintah untuk segera aktif mendorong dan MEMPERMUDAH proses investasi bagi lahirnya industri-industri besar di Natuna yang juga pasti memerlukan  dukungan supply listrik besar yang stabil.

Untuk ini opsi pemanfaatan  energi nuklir (PLTN) harus dibuka karena listrik dari PLTN selain stabil 24 jam sehingga cocok untuk industri, juga bersih dan aman karena teknologi yang sudah lebih canggih serta dengan biaya yang semakin murah.

Sehingga Industrialisasi besar-besaran  berbasis sumber daya alam lokal khususnya    CO2 yang ada di Natuna  bisa diarahkan secara terpadu menjadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru menuju Negara Industri Maju di tahun 2045.

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles