Selasa, 13 Januari 2026

BELAJAR DARI BENCANA SUMATERA..! Prabowo Minta Kepala Daerah Siapkan Lumbung Desa

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto meminta seluruh daerah di Indonesia mengambil pelajaran dari bencana yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera. Menurutnya, setiap desa hingga provinsi harus memiliki lumbung pangan agar mampu bertahan saat terjadi gangguan komunikasi dan logistik .

“Bencana yang kita lihat sekarang di Sumatera Utara, Aceh, dan di Sumatera Barat memberi pelajaran lagi kepada kita dan saya yakin saudara-saudara di Papua juga mengalami itu, bahwa kalau terjadi sesuatu di mana komunikasi putus, desa itu harus bisa bertahan, kecamatan itu harus bisa bertahan, kabupaten itu harus bisa bertahan,” kata Prabowo saat memberikan arahan di depan Kepala Daerah se-Papua, di Istana Negara, Jakarta, Selasa (16/12/2025).

Prabowo mengatakan konsep lumbung desa sejatinya telah diwariskan oleh nenek moyang bangsa Indonesia dan perlu dihidupkan kembali. Ia menekankan pentingnya membangun lumbung pangan berjenjang dari desa hingga nasional.

“Tanyalah kepada kakek-kakek kita dulu ada lumbung desa, kita harus ada lumbung desa sekarang, harus ada lumbung kecamatan, harus ada lumbung kabupaten, harus ada lumbung provinsi, dan harus ada lumbung-lumbung nasional. Kita akan lakukan itu, kita akan membantu saudara-saudara supaya setiap kabupaten bisa swasembada pangan,” ujarnya.

Prabowo menegaskan pentingnya kemandirian pangan di setiap daerah sebagai respons atas kondisi geografis Indonesia yang luas dan tantangan logistik yang mahal.

Menurutnya, ketergantungan antarpulau justru membuat harga pangan melonjak di daerah tertentu, sehingga negara harus mendorong setiap wilayah mengoptimalkan potensi pangannya sendiri.

“Menteri Pertanian sudah melakukan langkah-langkah, kita akan buka sumber-sumber pangan di semua kabupaten. Masalahnya adalah karena negara kita begitu besar, tidak bisa satu pulau tergantung pulau lain,” ujar Prabowo.

Prabowo mengatakan, ongkos logistik itu terlalu besar, sehingga beras yang mungkin produksinya di satu daerah mungkin hanya Rp8 ribu atau Rp9 ribu, di suatu provinsi bisa Rp25 ribu karena faktor komunikasi dan faktor logistik.

“Jadi kita dipaksa oleh alam kita untuk masing-masing mengejar swasembada pangan,” ujarnya.

Prabowo mengajak daerah untuk kembali mengembangkan pertanian sesuai dengan karakter wilayah masing-masing, sekaligus meneladani kearifan lokal yang telah diwariskan sejak lama.

“Saudara bisa punya sawah-sawah untuk beras, mari kita lakukan, atau kebun-kebun jagung atau sagu atau singkong. Ingat, ini adalah kunci survival kita sebagai bangsa, ini pelajaran ribuan tahun,” ujarnya.

Jadi, kata Prabowo, kita perlu belajar dari nenek moyang kita, kenapa dulu ada lumbung desa.

“Kita harus siap untuk kemungkinan yang paling jelek, itu pelajaran saya kira pelajaran nenek moyang kita. Saya kira ada di buku-buku agama, 7 tahun baik dan 7 tahun paceklik ya, 7 tahun dan tidak baik. Pada saat 7 tahun baik kita persiapan, nanti ada 7 tahun tidak baik kita siap. Alam juga harus kita hadapi dengan baik.” katanya.

Daerah Terdampak Bencana Tidak Kesulitan Pangan

Presiden Prabowo Subianto juga memastikan bahwa stok pangan nasional dalam kondisi aman, khususnya untuk daerah terdampak bencana. Bahkan, kata dia, pemerintah pusat sanggup mengirimkan pangan 3 kali lipat dari kebutuhan para pengungsi bencana.

“Kita bersyukur begitu di tengah badai, di tengah bencana sumber makan kita makan kita cukup bahkan Menteri Pertanian laporan kepada saya untuk daerah-daerah terdampak bencana kita mampu dari pemerintah pusat mengirim 3 kali kebutuhan,” kata Prabowo dilaporkan Bergelora.com di Jakarta, Rabu (17/12)

Untuk itu, dia menegaskan tak ada alasan daerah terdampak bencana mengalami kesulitan pangan. Prabowo pun meminta masyarakat terdampak bencana tak khawatir dengan bantuan pangan.

“Jadi tidak ada alasan di daerah terdampak kesulitan pangan. Tidak ada alasan untuk khawatir karena kenyataannya kita mampu,” ujarnya.

Prabowo mengakui bahwa ada 70.000 hektare sawah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang rusak akibat bencama banjir. Dia menuturkan pemerintah sudah menyiapkan 225.000 hektare sawah baru untuk petani terdampak bencana.

“3 provinsi 70 ribu hektar yang rusak, kita akan kembalikan segera tapi kita sudah punya antisipasi, kita sudah siapkan sawah-sawah baru yang cukup besar mungkin tahun ini Menteri Pertanian kita siapkan sawah Baru 225 ribu hektar, dan terus akan kita siapkan tahun-tahun yang akan datang,” tutur Prabowo.

Swasembada Pangan

Presiden Prabowo Subianto mengunjungi posko pengungsian korban terdampak banjir di Padang Pariaman, Sumatra Barat, Senin (1/12/2025) (Biro Pers Istana)

Presiden Prabowo Subianto saat meninjau warga terdampak banjir di sejumlah daerah di Provinsi Sumatera Utara. (Ist)

Disisi lain, Prabowo meminta setiap kabupaten untuk mulai melakukan swasembada pangan. Dia menyebut setiap daerah dapat mencari bibit-bibit yang cocok untuk ditanam sesuai karakteristik wilayahnya.

“Tetapi strategi kita sekarang adalah tiap Kabupaten harus swasembada pangan, kabupaten yang paling sulit medannya pun kita harus cari benih yang cocok. Mungkin di pegunungan itu mungkin perlu perhatian yang khusus untuk sumber karbohidrat dan sumber protein,” jelas Prabowo.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengatakan ekonomi Indonesia diakui menjadi terbesar ke-8 di dunia. Dia optimis 15 sampai 20 tahun kedepan, ekonomi

Indonesia Mampu Masuk Urutan Ke-4 Terbesar Dunia.

“Kita sebagai bangsa hari ini ekonomi kita diakui ke-8 terbesar di dunia, diperkirakan dalam waktu 15-20 tahun lagi kita bisa mencapai negara kelima bahkan keempat terbesar di dunia ekonomi kita,” kata Prabowo saat memberikan pengarahan kepada kepala daerah se-Papua di Istana Negara Jakarta, Selasa (16/12/2025).

Namun, kata dia, Indonesia mengalami masalah soal pemerataan hingga pengelolaan manajemen kekayaan negara. Prabowo menekankan kekayaan negara harus dikelola dengan jujur agar dapat dinikmati oleh semua rakyat Indonesia.

“Masalahnya adalah pemerataan, masalahnya adalah pemerintahan kita, pengelolaan kita, manajemen kita sebagai bangsa, bahwa kita harus memanage mengelola kekayaan kita dengan searif-arifnya, sepandai-pandainya dan sejujur-jujurnya sehingga sumber daya kita yang sangat besar bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia,” jelasnya.

 

 

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru