Rabu, 29 April 2026

BELUM ADA PENGAWASAN..! Ratusan Siswa Keracunan MBG Terjadi Lagi Di Berbagai Daerah

JAKARTA- Keracunan MBG kembali terjadi diberbagai daerah. Sampai hari ini Badan Gizi Nasional (BGN) belum mampu menekan resiko keracunan di sekolah-sekolah.

Sebanyak 194 pelajar dari tingkat SD, SMP, hingga SMA di Kabupaten Garut, Jawa Barat, dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (17/9/2025) dan mayoritas siswa berasal dari Kecamatan Kadungora.

Dari total korban, 177 siswa mengalami gejala ringan, sedangkan 19 lainnya harus menjalani perawatan intensif di Puskesmas Kadungora.

Ratusan pelajar keracunan di Garut, Jawa Barat. (Ist)

Kronologi Kejadian

Kasus bermula setelah siswa mengonsumsi menu MBG yang dikelola dapur SPPG Yayasan Al Bayyinah 2 Garut, Desa Karangmulya. Hidangan yang disajikan berupa nasi putih, ayam woku, tempe orek, lalapan sayur, dan stroberi.

Tak lama usai makan, sejumlah pelajar merasakan mual, muntah, dan pusing pada Selasa (16/9/2025) sore.

Kondisi tersebut berlanjut hingga keesokan harinya sehingga belasan siswa harus dilarikan ke fasilitas kesehatan.

19 korban yang membutuhkan perawatan intensif terdiri atas 12 siswa MA Maarif Cilageni, 3 siswa SMP Siti Aisyah, 1 siswa SMA Siti Aisyah, dan 3 siswa SDN 2 Mandalasari,” ungkap Kepala Seksi Humas Polres Garut, Ipda Adi Susilo, Kamis (18/9/2025).

Menurut Adi, polisi telah melakukan sejumlah langkah, termasuk mendatangi lokasi, mendata korban, meminta keterangan saksi, hingga mengirimkan sampel makanan dan muntahan korban ke laboratorium.

“Kami juga melakukan pengumpulan bahan keterangan untuk memastikan ada atau tidaknya penambahan korban. Penyelidikan lebih lanjut akan terus dilakukan guna mengetahui faktor penyebab,” ujarnya.

Sementara itu, pihak sekolah menyebutkan, sejumlah siswanya tetap memaksakan diri masuk kelas meski kondisi melemah. Kepala SMA Siti Aisyah, Hari Triputuharja, menyebut sedikitnya 30 siswa terdampak di sekolahnya, dengan empat di antaranya dirujuk ke puskesmas.

“Kalau yang dibawa ke puskesmas saat ini dari sekolah kami ada empat orang, cuma yang ditindak di sekolah mungkin lebih dari 30 orang,” kata Hari.

Wakil Bupati Garut, Luthfianisa Putri Karlina, meninjau langsung siswa yang menjalani perawatan. Ia memastikan biaya pengobatan seluruh siswa akan ditanggung Pemkab Garut.

Investigasi penyebab keracunan Dinas Kesehatan Garut sudah mengambil sampel makanan yang diduga memicu keracunan MBG. Namun, hasil uji laboratorium belum keluar.

“Karena apanya juga tidak bisa diidentifikasi hari ini, kita harus melihat dulu, kan di sekolah ini banyak faktor. Yang jelas ini ada kontaminasi, tapi kita tidak tahu itu apa,” jelas Putri.

Sejumlah siswa yang keracunan setelah menyantap MBG dirawat di Puskesmas Empang, di Kabupaten Sumbawa, NTB, Rabu (17/9/2025). (Ist)

90 Siswa Keracunan Di Sumbawa

Sebelumnya kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) juga terjadi di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Sumbawa di Kecamatan Empang, Kabupaten Sumbawa, NTB. Demikian disampaikan Kepala Sekolah (Kepsek) MTsN 2 Sumbawa, Winadi Al Bayani saat dikonfirmasi Rabu (17/9/2025) malam.

“Benar. Gejalanya sudah sejak kemarin dialami siswa seperti muntah, mual, dan diare yang diduga mengarah ke keracunan setelah mengonsumsi makanan dari dapur SPPG setempat. Bahkan ada yang tidak masuk sekolah,” kata Winadi.

Winadi melanjutkan, berdasarkan data, ada sekitar 90 orang siswanya yang diduga keracunan makanan. [

Dari jumlah tersebut 70 di antaranya dirawat di Puskesmas Empang dan 20 siswa lainnya di Puskesmas Tarano.

“Kondisi saat ini sudah ada beberapa orang siswa yang sudah diperbolehkan pulang dan lainnya masih dilakukan perawatan secara intensif di Puskesmas,” ujarnya.

Ia menjelaskan berdasarkan laporan dari orang tua siswa gejala awal yang mengarah ke dugaan keracunan sudah mulai dirasakan sejak Selasa. Bahkan ada beberapa siswa yang tidak masuk sekolah karena sakit yang mengarah ke dugaan keracunan makanan.

“Kalau untuk hari ini, kami belum konsumsi, siswa kami yang dirawat saat ini setelah memakan makanan yang kemarin (Selasa). Kondisi saat ini korban sudah berangsur pulih,” katanya.

Sementara, Kapolsek Empang, AKP Nakmin juga mengakui adanya keracunan terhadap puluhan siswa tersebut.

“Memang benar ada kejadian tersebut, keracunannya di sekolahan gara-gara makanan MBG yang dimakan pembagian kemarin,” kata Nakmin.

Hasil pengecekan lapangan, lanjut Nakmin, tercatat ada sekitar 30 siswa yang diduga mengalami keracunan dengan gejala awal mual dan muntah-muntah.

Dari 2.900 siswa penerima manfaat program tersebut ada sekitar 30 siswa yang diduga mengalami keracunan.

“Kami sudah bertemu dengan pihak pengelola bersama dengan unsur muspika lainnya. Kami juga akan melakukan uji laboratorium atas makanan tersebut,” tegasnya.

Puluhan siswa SMA dan Sekolah Dasar di Baubau, Sulawesi Tenggara, terpaksa dirawat diduga keracunan usai mengkonsumi Makanan Bergizi Gratis (MBG) disekolahnya. (Ist)

37 Siswa di Baubau Juga  Keracunan MBG

Sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, telah mengirimkan sampel makanan bergizi gratis (MBG) yang diduga menyebabkan keracunan puluhan siswa. Sampel tersebut langsung dibawa ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari untuk diuji laboratorium.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Baubau, Fanti Frida Yanti, mengatakan pengambilan sampel dilakukan tidak lama setelah kejadian pada Selasa (16/9/2025).

“Kemarin pasca kejadian, sekitar jam 12.30, tim Dinkes sudah melakukan pengambilan sampel di dua tempat, yaitu di dapur SPPG Kokalukuna dan di sekolah dari sisa makanan di omprengan anak-anak,” kata Fanti di kantornya, Rabu (17/9/2025).

Menurutnya, pengiriman sampel ini merupakan bagian dari tugas dan tanggung jawab Dinkes dalam menangani kasus dugaan keracunan makanan. Kedua sampel dikemas dengan baik dan ditujukan langsung kepada Kepala BPOM Provinsi. Fanti menambahkan, hasil uji laboratorium diperkirakan akan keluar dalam dua hingga tiga hari.

“Sesuai dengan apa yang disampaikan oleh teman-teman (BPOM), hasilnya sekitar 2 sampai 3 hari,” ujarnya.

Sebelumnya, sebanyak 37 siswa di Baubau diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan MBG di sekolah. Para siswa mengeluhkan pusing, mual, dan sakit perut, sehingga harus dilarikan ke tiga puskesmas dan RSUD di Kota Baubau pada Selasa (16/9/2025).

Beberapa siswa bahkan menyebutkan bahwa masakan ayam dan kuah yang mereka makan berbau tidak sedap.

Fanti menegaskan bahwa Dinkes bertanggung jawab penuh dalam penanganan kejadian ini.

“Dinas Kesehatan bertanggung jawab memberikan penanganan cepat terhadap korban, kemudian melakukan uji epidemiologi, lalu mengirimkan sampel ke provinsi,” tuturnya.

Keracunan MBG di Kupang, NTT. (Ist)

Kepala BGN Buka Suara

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindaya kemudian buka suara terkait terulangnya kasus keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di beberapa daerah.

Dadan mengatakan salah satu kasus yang terjadi di Bengkulu disebabkan karena baru beroperasinya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang belum siap.

Terkait ini, kata Dadan, BGN telah memberikan evaluasi dan menyarankan setiap SPPG yang beroperasi agar melakukan pelayanan secara bertahap.

“Karena ibu-ibu yang biasa masak 4 orang sampai 10 orang itu belum tentu bisa untuk masak langsung 1.000 sampai 3.000. Jadi baiknya kalau ada 20 sekolah yang dilayani untuk hari pertama ya 2 sekolah dulu nanti 2 hari kemudian bertahap menjadi 4 sekolah nah itu yang kami sarankan,” katanya di Kantor BGN, Kamis (18/9/2025).

Ratusan siswa keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lebong, Bengkulu, mendapatkan penanganan medis, Rabu (27/8/2025). (Ist)

Sementara untuk kasus di Baubau, Sulawesi Tenggara, Dadan menyebut, keracunan terjadi karena SPPG yang beroperasi berganti supplier yang belum siap.

Dadan mengakui kasus keracunan masih terjadi. Namun, BGN menegaskan terus melakukan perbaikan agar kejadian ini tidak berulang.

“Itu harus zero accident. Kita kan ingin membuat anak cerdas, sehat, kuat, ya harus makanannya dikonsumsi dengan baik, dan tidak menimbulkan gangguan pencernaan,” kata dia.

Sebelumnya, sejumlah kasus dugaan keracunan program MBG muncul dalam sepekan terakhir.

Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi saat menjenguk pasien keracunan di RSI Nasrul Ummah, Rabu (17/9/2025). Bupati menegaskan akan mengevaluasi pelaksanaan program ini. (Ist)

Belasan siswa SMAN 2 Lamongan, Jawa Timur juga dilarikan ke rumah sakit setelah diduga keracunan usai menyantap MBG, pada Rabu (17/9).

Para murid awalnya dilaporkan mengalami mual dan pusing setelah mengonsumsi MBG.

Ada juga kasus dugaan keracunan makanan juga dialami 19 siswa dari tiga sekolah di wilayah Semin, Gunungkidul usai menyantap menu MBG, Senin 15 September. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles