Senin, 24 Juni 2024

Berpolitik Kekanak-Kanakan & Kepikun-Pikunan Turunan Amandemen UUD 1945

Oleh: Toga Tambunan

SEORANG POLITIKUS, seingatku dan mari sama-sama coba mengingat namanya, pernah menilai opini dan permainan politikus pihak lain darinya sebagai kekanak-kanakan.

Politik kekanak-kanakan dicela politikus bersangkutan itu, terjadi pada angka tahun 1900-an. Sudah 100-an tahun plus yang lalu.

Gus Dur pernah juga tempohari menempelkan spontan stiker kekanak-kanakan embrional, ke lembaga DPR.

Setiap anak sungguh wajar berperangai kanak-kanak. Kewajaran itu bukan kekanak-kanakan. Semisal mereka main petak umpet yang disebut marroda oleh etnis Batak yakni ada penjaga dan lainnya sembunyi. Atau semisal cilukba sembunyi wajah dengan selampai sambil bertanya, siapa nih? Kemudian ketika main umpetan itu, bisa selalu yang ketahuan mengeles belum ketahuan persembunyiannya atau lantas lari sambil terkekeh-kekeh tertawa. Namanya anak-anak bermain, begitulah.

Dapatkah diaminkan main umpetan atau cilukba itu, jika dimainkan orang dewasa apalagi tokoh penjabat kedudukan tertinggi Partai, yang pasti sudah jebolan perguruan tinggi, apalagi dilakukan setelah angka tahun 2000?

Anas Urbaningrum ketika berposisi Ketum Partai Demokrat sekitar 11 tahun lalu menyatakan tekadnya: “Satu rupiah saja Anas korupsi Hambalang, gantung Anas di Monas,” ujarnya. Kemudian dia mengeles tekadnya pada 15 Juli 2023 dalam Munaslub PKN, parpol besutannya. Dia mengeles makna ujarannya semula : “harapannya yang tergantung di Monas”. Mengelak, plesetkan bukan dirinya.

Amien Rais yang pernah menjabat ketua MPR RI 1999 – 2014, bernazar akan jalan kaki Jogya – Jakarta jika Joko Widodo terpilih jadi Presiden RI, pada Pilpres 2019.
Amien Rais bergelar DR, Profesor itu bermain kekanak-kanakan terhadap nazarnya. Maka Lilik Yulintoro asal Blora seakan lempar air septictank ke muka Amien Rais dengan tindakannya jalan kaki Jogya – Jakarta, bayar nazar Amien Rais yang bosan ditunggu.

Terhadap inisiatif Lilik itu, Amien Rais yang mengaku tokoh beragama itu, membiarkan saja, seakan nazarnya bisa dilunasi orang lain.

Sementara itu pula dia bohong seolah tidak pernah dukung pemecatan Prabowo Subianto dari Pangkostrad oleh Dewan Kehormatan Perwira. Dia menantang tunjukkan bukti. Ternyata koran Republika maupun Kompas menunjukkan faktanya tertulis. Dia hanya diam tidak mengakui salah atau berbohong.

Terhadap korupsi Patriece Roy Capella, tadinya Sekjen Partai Nasdem sekongkol korupsi bersama Gubsu Gatot P. Nugroho, partai Nasdem mengeles perbuatannya itu tanggung jawab pribadinya bukan disuruh partai. Begitulah partai Nasdem mengelak dari “Jika kader partai Nasdem korupsi sepeser pun, partai Nasdem bubar” bunyi suara Surya Paloh; “tidak layak dipertahankan”. Digaungkan Surya Paloh pada saat pembekalan kadernya di Jakarta, Juli 2015

Taufik Basari atas nama Nasdem mengeles pernyataan Ketum Partai Nasdem disalahartikan publik. Perbuatan perseorangan kader partai jangan diartikan perbuatan partai, ujar Taufik Basari mengelak.

Kini Johni G. Plate menjabat Sekjen Nasdem tatkala tersangka korupsi 8T dari proyek BTS bernilai 10 T, apakah lagi kreasi partai Nasdem mengelesnya bung Willy Aditya?

Persis pada permainan kanak-kanak marroda, si anak mengeles dirinya belum kelihatan tatkala ketahuan tempatnya sembunyi yang disebutkan si penjaga. Jika marroda ini dilakukan politikus apalagi atributnya Profesor, Doktor bukankah tepat disebut, astaga : kekanak-kanakan? Moral anak-anak melingkari diri orang dewasa, yang bersangkutan sindroma kekanak-kanakan.

Kenapa merambat berpolitik kekanak-kanakan itu? Menelusuri biangnya bukan berarti mengabaikan kasus yang terjadi atau melepas kebobrokan partai pelakunya dan berdalih hanya menimpuk sumber kekanak-kanakan itu.

Permainan berpolitik dengan moral kekanak-kanakan ini terkreasi dalam amandemen UUD 1945 tatkala Amien Rais mengetuai MPR RI dan Jakob Tobing ketua Panitia Ad Hoc I Badan Pekerja MPR yang memproduksi UUD 1945 Amandemen 2002.

Jakob Tobing tatkala Ketua PAH I BP MPR itu, selaku anggota DPR fraksi PDIP, setelah loncat bajing dari Golkar. Mentornya di Golkar adalah Cosmas Batubara dan Akbar Tanjung. Sebelum meloncat ke PDIP, selaku kader Golkar dipercayai menjabat Ketua Pemenangan partai Golkar sebelum pemilu 1999.

Mentornya di partai Golkar adalah Cosmas Batubara dan Akbar Tanjung.

Hasil karyanya selaku ketua PAH I BP MPR adalah Amandemen 2002 yang telah mengobrakabrik UUD 1945 asli. Paradigma kekuasaan tatanan ketatanegaraan RI yang semula sistim vertikal dengan MPR Lembaga Tertinggi Negara yang berhaluan negara jauh ke masa depan menjadi sistim horizontal sama derajat antara Lembaga Tinggi Negara terdiri Judikatif, Legislatif dan Eksekutif yang berganti setelah 5 tahunan. Dan penjabatnya maksimal hanya sekali lagi saja menjabat meski mayoritas warga menginginkannya terus menjabat.

Arah pembangunan dapat bergonta ganti setiap 5 tahun. Tidak ada program pembangunan yang terjamin konsisten arahnya berkelanjutan. Jadi memang dimainkan seperti mainan anak-anak sewaktu hompimpa, sesuai selera penjabat Presiden.

Menurut para ahli bidang ketatanegaraan, muatan UUD 1945 asli telah berubah lebih dari 90%. Berhubung isinya benar-benar telah amburadul menjadi kekanak-kanakan maka konsekuensinya tentu amandemen ini mengeluarkan turunan politik kekanak-kanakan.

Amandemen UUD 1945 ini kerja NGO nekolim, yang diakui beberapa legislator yang turut membicarakannya tempohari dan penerima sogokon dari NGO tsb, juga menginjeksi perangai kepikun-pikunan.

Selain sumber berpolitik kekanak-kanakan, UUD 1945 Amandemen itu juga sumber bermain politik kepikun-pikunan. Pada 2018 Subianto Prabowo gemborkan prediksi Indonesia bubar di tahun 2030. Katanya info dari buku Ghost Fleet: Novel of the Next World War karya ahli intelejen dan strategi P. W. Singer dan August Cole.

Kerelaannya merilis analisa W. Singer dan August Cole tersebut mengindikasikan kecenderungannya membenarkan analisa Indonesia akan bubur pada 2030.

Saat itu dia belum diangkat menteri pada masa kabinet Jokowi – Amin Maruf ini. Dia gemborkan kutipan novel itu di masa Jokowi – Jusuf Kalla.

Dan kini Prabowo Subianto maju ke pilpres RI 2024 menjelang diprediksi bubar 2030. Pilihan politik ini, disebut apa jika bukan logika kepikun-pikunan? Atau diplesetkan sebagai semangat orang uzur mencegah prediksi bubar?

Gejala kepikun-pikunan itu nyata benar di file pemda DKI Jakarta yakni kasus kelebihan bayar yakni kelebihan pembayaran atas belanja dan denda keterlambatan dengan total nilai Rp 45,87 miliar, dilakukan Gubernur Anies Baswedan. Kelebihan bayar segede bermilyard itu, bisakah meluncur yang kemudian diakui keliru, jikalau bukan karena Anies Baswedan kepikun-pikunan. Dan sekarang bersangkutan maju ke pilpres RI 2024, maklumlah sindroma kepikun-pikunan.

Mainan berpolitik kekanak-kanakan dan kepikun-pikunan kerakyatan-phobi ini bernapas turunan dari UUD 1945 Amandemen.

Apa imbasnya nanti dugaan perbuatan korupsi SYL ke Partai Nasdem? Entah Taufik Basari atau lainnya tentu sudah menyediakan amunisi mengeles.

Bermain politik kekanak-kanakan & kepikun-pikunan masih akan meluncur lagi ala Anas Urbaningrum, Amien Rais dan Partai Nasdem atau main politik kepikun-pikunan ala Prabowo Subianto dan Anies Baswedan, di waktu mendatang selama UUD MPR 1945 Amandemen itu, masih aktif melekat dalam tatanan ketatanegaraan RI.

Perangai kekanak-kanakan itu sama sebangun perangai kepikun-pikunan, yaitu sama kental berdarah subyektivisme nafsu, tipis berdarah obyektif rasional Pancasilais.

Kapan hentikan mainan paradigma kekanak-kanakan ini?

Merdeka.

Bekasi, 05 Oktober 2023.

*Penulis Toga Tambunan pengamat sosial politik

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru