JAKARTA- Indonesia mungkin harus mempelopori deklarasi Homo Sapiens anti perang sesama manusia,– bahwa seluruh anggaran militer dan komponen tempur akan diubah menjadi komponen kesehatan masyarakat. Hal ini disampaikan oleh pengamat sosial ekonomi, Christianto Wibisono kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (20/4).
“Indonesia bisa jadi pelopor dwifungsi baru militer dari perang zaman kuno menjadi perang melawan pandemi,” tegasnya.
Ia mengingatkan, anggaran militer global nilainya US$ 1,3 trilyun, separuhnya hampir 700 milyar US$ oleh USA dan sisanya US$ 600 milyar oleh RRT dan 13 negara lain. Sedang anggaran WHO selama 2 tahun 2020 dan 2021 hanya US$ 4,9 milyar.
“Jadikan momentum perang melawan Corona ini untuk mengubah dunia dari hobi berperang sesama manusia menuju sistem kesehatan global yang efektif mencegah pandemi. Ini saatnya Omnibus Homosapiens pasca Inferno Corona menuju Homo Deus,” ujarnya.
Christianto Wibisono mengingatkan pada 55 tahun lalu, 18 April 1965, Konfrensi Asia Afrika meluncurkan Dasasila Bandung. Dalam kurun waktu 65 tahun telah berlangsung pergolakan sejarah pasca kemerdekaan di Asia Afrika dan Amerika Latin dengan jatuh bangun dan pergantian sistem politik dari diktatur satu partai kiri ke junta militer kanan di hampir seluruh negara Dunia Ketiga.
“Korban elite termasuk para founding fathers yang mengalami suksesi kudeta berdarah dengan kekerassan yang menurut survey menelan kematian lebih banyak manusia dalam perang sesama manusia antar bangsa maupun perang saudara domestik,” jelasnya.
Kini menurutnya memasuki 700 tahun sejak Dante menggelar drama Inferno tahun 1320, Homo Sapiens menghadapi tantangan Inferno 2020 berupa pandemi COVID19 yang menelan semua batasan artifisial SARA (suku, agama, ras, antar-kelas).
Dalam Omnibus Homosapiens pasca Inferno Corona menuju Homo Deus menurutnya perlu ditegaskan, seluruh anggota Perserikatan Bangsa Bangsa sebagai paguyuban Homo Sapiens setelah merenungkan dan mencermati perjalanan sejarah Homo Sapiens dengan ini menyatakan tekad mengubur genetika DNA Kabil yang menjadi sumber predator kemusnahan Homo Sapiens dalam Perang Dunia, Perang saudara, yang bahkan menelan korban lebih banyak dari pandemi sepanjang sejarah manusia.
“Konsekuensinya kita akan mengurangi anggaran pertahanan yang tidak masuk akal sehat untuk saling mengancam menjadi predator satu sama lain,” tegasnya.
Realokasi anggaran militer ke anggaran sistem kesehatan masyarakat menurut Christianto adalah untuk memulihkan situasi dan kondisi normal kehidupan sosial ekonomi manusia. Maka segala macam regulasi yang menghambat interaksi manusia pasca pandemi harus dipulihkan.
“Karena kita memerlukan investasi dari seluruh kekuatan ekonomi dunia baik dalam struktur nation state, corporate maupun private voluntary organization (dulu NGO). Pasca periode karantina, justru dunia memerlukan re-integrasi dan rekonsiliasi menghargai meritokrasi sebagai kriteria tata hubungan geopolitik dan geoekonomi,” ujarnya.
Dunia menurutnya harus menghindari “perang dagang” dan atau” perang mata uang”, melainkan kembali kepada Golden Rule menghargai meritokrasi dalam kompetisi dan kontestasi kompetensi kinerja ekonomi secara adil jujur. Serta membuang kecemburuan SARA ala Kabil dalam kontestasi beradab antar nation states dan aktor trans nasional sesama Homo Sapiens.
Kesepakatan Homo Sapiens ini menurutnya untuk mengatasi inferno pandemi Corona ini diberlakukan secara faktual dalam keteladan tingkah laku elite nation state dan aktor transnasional dengan aksi substansial.
“Bukan sekedar retorika public relations maya. Negara menghargai kelas menengah sebagai penyangga sistem sesuai kontribusi mereka dalam perpajakan dan karitas kuratif mengatasi pandemi,” tegasnya. (Web Warouw)

