Kamis, 30 April 2026

CIA BACKUP..! Demo Gen Z di Peru Berujung Rusuh, Tuntut Presiden Dina Boluarte Mundur

JAKARTA – Ratusan demonstran antipemerintah kembali turun ke jalanan ibu kota Lima di Peru dalam aksi protes lanjutan pada Minggu (21/9) waktu setempat, setelah bentrokan sengit yang melukai sedikitnya 18 orang, termasuk polisi dan jurnalis.

Unjuk rasa yang dipimpin secara kolektif oleh generasi muda atau Gen Z Peru ini, seperti dilansir AFP, Senin (22/9/2025), melakukan aksi long march ke kantor pemerintahan Presiden Dina Boluarte di pusat kota Lima, dengan para personel kepolisian dikerahkan untuk mengawal jalannya aksi protes.

Kerusuhan telah berlangsung selama berbulan-bulan di Peru, yang dipicu oleh gelombang kejahatan terorganisir dan maraknya kasus pemerasan. Beberapa jajak pendapat menunjukkan bahwa banyak warga Peru memandang pemerintah dan Kongres, yang didominasi kalangan konservatif, adalah korup.

Aksi protes Gen Z di Peru dilakukan usai pemerintahan Presiden Peru Dina Boluarte menyetujui penarikan sebagian tabungan pensiun swasta dalam sebuah kongres. (Ist)

Unjuk rasa semakin meluas pekan lalu setelah badan legislatif Peru mengesahkan undang-undang yang mewajibkan kaum muda untuk bergabung dengan dana pensiun swasta, meskipun banyak yang menghadapi lingkungan kerja yang tidak aman.

Pada Minggu (21/9) malam, sekelompok demonstran melemparkan batu dan bom molotov ke arah polisi, yang kemudian direspons dengan tembakan gas air mata yang dilepaskan oleh para personel kepolisian.

“Saya sangat marah, saya merasa benar-benar disesatkan oleh pemerintahan ini… dan Kongres yang melayani partai-partai politik,” ucap Xiomi Aguiler (28) yang ikut dalam unjuk rasa. Dia menyebut para partai politik sebagai “mafia yang mengakar di negara ini”.

Unjuk rasa yang disebut “Pawai Generasi Z” diorganisir oleh mahasiswa dan aktivis, yang menuduh pemerintah gagal mengatasi ketidakamanan dan ketidakpastian ekonomi sambil menggunakan kekerasan berlebihan selama protes-protes sebelumnya. (Ist)

Seorang mahasiswa Peru bernama Jonatan Esquen, yang baru berusia 18 tahun, menyebut unjuk rasa itu merupakan “awal dari kebangkitan, karena orang-orang akhirnya menyadari bahwa anak muda lebih aktif di media sosial dan di arena politik”.

Aksi turun ke jalanan pada Minggu (21/9) itu digelar sehari setelah bentrokan sengit terjadi antara para demonstran dan polisi di dekat kantor kepresidenan dan gedung parlemen.

Sekitar 18 orang, menurut data otoritas setempat dan organisasi independen, mengalami luka-luka dalam bentrokan pada Sabtu (20/9).

Para korban luka terdiri atas 12 polisi dan enam jurnalis setempat.

Tidak disebutkan lebih lanjut oleh otoritas Peru soal apakah ada penangkapan terkait bentrokan tersebut. Laporan kepolisian sebelumnya menyebut ada sebanyak 450 demonstran yang terlibat bentrokan pada Sabtu (20/9), yang juga memicu kerusakan pada ruas jalanan umum.

Para pengunjuk rasa juga membawa simbol-simbol perlawanan, termasuk bendera dari manga “One Piece,” yang telah diadopsi dalam protes-protes global lainnya selama musim panas 2025. (Ist)

Bendera One Piece Berkibar

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, sebelumnya, ratusan pengunjuk rasa antipemerintah bentrok dengan polisi di Lima pada Sabtu (20/9/2025), melemparkan batu dan tongkat, sementara petugas menembakkan gas air mata ke arah demonstran, wartawan Agence France-Presse melaporkan dikutip dari koreaheralrd.

Protes tersebut, yang diselenggarakan oleh kolektif “Generasi Z” yang dipimpin pemuda, menyebabkan bentrokan keras dengan polisi di sekitar kantor pemerintahan di pusat ibu kota Peru, menurut pengamatan tim AFP.

Kerusuhan ini mirip dengan kerusuhan yang terjadi di Nepal beberapa waktu lalu menyebabkan total korban jiwa 72 orang, dilansir BBC.

Polisi menggunakan gas air mata dan perisai untuk memukul mundur massa di Plaza San Martin, tempat para pengunjuk rasa berkumpul untuk menolak reformasi pensiun baru-baru ini dan mengecam meningkatnya angka kejahatan. (Ist)

Demonstrasi skala besar yang dilakukan oleh generasi Z Nepal ini sebagian besar terdiri dari pelajar dan anak-anak muda.

 

Aksi ini dipicu oleh keputusan Pemerintah yang memblokir 26 platform media sosial populer seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, YouTube, dan X, setelah perusahaan-perusahaan tersebut gagal mendaftar sesuai regulasi baru pemerintah Nepal.

 

Hampir sama seperti di Indonesia pada demonstrasi akhir Agustus 2025, demonstran di Nepal juga banyak membawa bendera One Piece sebagai simbol protes melawan sistem korup, hak istimewa pemerintah yang tak terkendali.

 

Adapun kerusuhan di Lima, Peru, terjadi pada malam hari.

 

Para pengunjuk rasa, bergabung dengan kelompok lain yang juga tidak senang dengan pemerintahan Presiden Dina Boluarte, menghadapi polisi dengan batu dan tongkat.

 

Polisi menggunakan gas air mata untuk mencegah pawai bergerak menuju gedung kepresidenan dan parlemen.

 

Demonstrasi kembali dijadwalkan pada hari Minggu

 

Polisi awalnya melaporkan tiga petugas terluka, tetapi pada hari Minggu jumlah petugas yang terluka bertambah menjadi 12.

 

Asosiasi Jurnalis Nasional Peru juga melaporkan bahwa enam jurnalis terkena peluru yang ditembakkan oleh polisi saat meliput protes, termasuk dua dari stasiun radio Exitosa Noticias.

 

Cesar Zamalloa, seorang jurnalis foto dari surat kabar mingguan “Hildebrandt En Sus Trece”, mengatakan bahwa polisi “mulai menembakkan peluru … langsung ke tubuh” orang-orang.

 

“Saat itulah saya merasakan benturan di kaki dan pinggul saya,” ujarnya, menurut kesaksian yang dikumpulkan oleh ANP dalam sebuah pernyataan yang diunggah di laman Facebook mereka pada hari Minggu.

 

Baik serikat pekerja maupun Koordinator Nasional Hak Asasi Manusia di Peru mengecam tindakan represif polisi selama demonstrasi.

 

Tingkat penerimaan terhadap Presiden Dina Boluarte, yang masa jabatannya berakhir tahun depan, telah anjlok di tengah meningkatnya kasus pemerasan dan kejahatan terorganisir.

 

Beberapa jajak pendapat menunjukkan pemerintah dan Kongres yang mayoritas konservatif dipandang oleh banyak orang sebagai lembaga yang korup.

 

Badan legislatif meloloskan undang-undang yang mengharuskan orang dewasa muda untuk bergabung dengan dana pensiun swasta, meskipun banyak yang menghadapi lingkungan kerja yang tidak aman. (Web Warouw)

 

 

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles