Minggu, 21 Juli 2024

Dari Pemogokan Sampai Penculikan: Suwargomu Langgeng Kawan Jati! *

Oleh: Heru Hakka **

Jati…..

BERKACAMATA lumayan tebal berkaos oblong lusuh dan tas backpacker di pangkuannya. Ia duduk bersila bersama puluhan mahasiswa di taman FISIP Unair. Pagi itu aku baru saja berkenalan dengannya dan langsung bersama-sama mengikuti mimbar bebas. Aku lupa sedang berdemo soal apa di satu hari di sekitar 30 tahun lalu itu.

Jati, baru beberapa hari kemudian aku tahu nama lengkapnya, Raharja Waluya Jati. Dia mahasiswa Filsafat UGM, entah semester berapa. Hari itu dia datang dari Jogja bersama Yanto, sesama mahasiswa UGM.

Siapa Jati, aku baru tahu lebih banyak ketika dia dan Yanto berada di kosku, Karmenj VI, seusai mimbar bebas. Kamar kosku memang jadi penampungan sementara kawan-kawan dari luar kota yang datang ke Surabaya. Sebelum Jati, ada Andi Munajat si pembakar lahan kering perlawanan, kemudian Rendro dan Timbo, dua TO peristiwa subuh berdarah ISTN. Budiman juga pernah ke rumah nomor 39 ini, yang pergi dengan membawa beberapa kaset lagu-lagu perlawanan rakyat Chili kepunyaan Dandik, pemberian Nug.

Status Facebook Faisol Riza untuk Jati. (Ist)

Jati dan Yanto ditugaskan oleh organisasi kami, SMID, untuk membangun gerakan mahasiswa di Surabaya. Deploy istilahnya. Saat itu, dalam dunia gerakan mahasiswa, Jogja memang paling maju. Aktifisnya banyak, militan, radikal, menjadi penggerak perlawanan di berbagai daerah.

Organisasi tidak salah menugaskan Jati membangun dan mengonsolidasikan gerakan mahasiswa di Surabaya. Sifatnya yang seneng guyon, cenderung ndlodhok dan cengengesan, dilandasi teori dan pemahaman tentang gerakan, cocok dengan karakter arek-areka mahasiswa.

Tapi, persinggunganku dengan Jati lebih banyak terjadi beberapa tahun kemudian. Ketika itu, kami sama-sama ditugaskan untuk mengorganisir buruh. Organisasi kami, PPBI dan PRD, yang menugaskan. Meski kami berbeda kawasan pengorganisiran, dia di Rungkut aku di Tandes, hampir tiap hari kami bertemu. Kami, para organiser buruh; aku, Jati, Rendro, Nia, Mugik, Lilik, Pius, Awang, tinggal bersama di sebuah rumah kontrakan di daerah Simo. Semingu sekali, Herman, Bimo, dan kawan-kawan organiser sektor lain, juga datang ke sini berkonsolidasi.

Status Facebook Anom Astika untuk Jati. (Ist)

Salah satu ‘karya besar’penghuni rumah ini adalah dua pemogokan buruh di kawasan Tandes. Pertama, pemogokan buruh 4 pabrik, April 1996. Kemudian pemogokan 10 pabrik, 8-9 Juli 1996, pemogokan buruh terbesar di era Orba dalam jumlah pabrik yang terlibat. Dari pemogokan terakhir ini banyak kawan yang ditangkap, termasuk Coen, Dita, n Oleng. Aku, Jati, dan beberapa organiser lain juga sempat kepegang aparat tak berseragam, tapi akhirnya bisa berontak dan meloloskan diri.

Selain pemogokan buruh, ada satu lagi ‘karya ngeri’ penghuni rumah Simo. Aksi grafiti ‘Gulingkan Soeharto Sekarang Juga’ yang mewarnai tembok-tembok jalan Surabaya awal ‘96. Aku dan Jati, dua dari empat eksekutor aksi nekad nan mendebarkan ini.

Nekad karena kami paham benar resikonya. Jika tertangkap, mungkin bukan hanya siksaan dan penjara yang harus kami hadapi, tapi lebih dari itu, nyawa melayang tanpa orang lain tahu. Resiko-resiko perlawanan yang sering mewarnai diskusi-diskusi kami ketika membahas strategi maupun ketika sedang ngobrol santai. Sebuah resiko yang beberapa tahun kemudian benar terjadi pada Jati, saat dia diculik oleh segerombolan tentara berjudul Tim Mawar Kopassus.

Pesan Budiman Sujatmiko.mengenang Raharjo Waluyo Jati. (Ist)

“Beruntung” beberapa minggu berada di tangan penculik, dia kemudian dibebaskan. “Beruntung” karena sampai detik ini masih ada beberapa korban penculikan yang belum diketahui nasibnya, termasuk Herman dan Bimo.

Aku bertemu lagi dengan Jati pertama kali sejak ia bebas di aksi ‘KPU Berdarah’, Juli 1999. Dari pertemuan ini aku tahu bagaimana kengerian yang harus dia alami di ruang siksa pasukan elit TNI. Kengerian yang sebenarnya sudah sering kami obrolkan ketika tinggal bersama di omah Simo.

Setelah pertemuan itu kami beberapa kali bertemu, juga berkomunikasi lewat pesan singkat dan aplikasi WA. Sekitar 2 tahun lalu kami bertemu di sebuah hotel di kawasan Darmokali, Surabaya. Tak sengaja. Entah sedang ada agenda apa dia.

Pesan Danial Indrakusuma mengebang Jati. (Ist)

Itu ternyata menjadi pertemuan kami yang terakhir. Pagi ini aku dengar kabar duka dari Jakarta, Jati meninggal dunia karena serangan jantung. Innalillahiwainnaillaihirojiun. Aku dan semua orang yang pernah mengenalmu, bukan hanya sangat sedih dan berduka, tapi juga merasa sangat kehilangan.

Pasti selalu kangen dengan guyonanmu, ndlodhokmu, gojlokanmu….Selamat jalan, Jat, Raharja Waluya Jati. Suwargo langgeng.

*Artikel diambil dari akun facebook Heru Hakka. Judul dari redaksi

** Penulis Heru Hakka, mantan aktivia Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) Surabaya

 

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru