Minggu, 21 Juli 2024

Selamat Jalan Nirwan Arsuka *

Oleh: Yayan Sopyan **

Saya berencana, sehabis menyelesaikan 2 naskah buku berikutnya, saya akan mulai mengumpulkan dan menata sajak-sajak lama saya. Saya mau menerbitkannya.

Sampai akhir tahun lalu, sebetulnya saya tidak pernah berpikir untuk menerbitkan kumpulan sajak. Saya merasa tak punya alasan yang cukup untuk menerbitkan kumpulan sajak saya. Lagi pula saya tidak banyak menulis sajak sejak meninggalkan Yogya.

“Kalau nggak diterbitkan, bagaimana orang bisa baca sajakmu?” Tanya Nirwan Ahmad Arsuka yang semeja dengan saya di acara kumpul-kumpul alumni pers mahasiswa dan aktivis UGM, awal April lalu.

Saya menunjukkan ke Nirwan satu bagian dari personal website saya yang berisikan kumpulan sajak.

“Maksudku, terbitkan jadi buku dong,” katanya sambil menjelaskan perbedaan jangkauan dan nilai antara buku dan website. Tentu saya boleh berdebat soal itu. Tapi, sejak dalam pergaulan kami di Yogya dulu, saya selalu merasa lebih perlu mendengarkan pandangan Nirwan daripada tergesa-gesa mendebatnya.

Awalnya saya mengenal Nirwan di kampus sebagai teman yang berasal dari fakultas eksakta yang punya minat ke bidang budaya dan filsafat. Bukan minat ala kadarnya. Nirwan sangat bersungguh-sungguh menekuni itu.

Dengan keluasan bacaan dan minat besar untuk terlibat dalam isu politik dan sosial budaya, Nirwan tumbuh menjadi salah satu intelektual muda di kampus.

Yang membedakan Nirwan dari beberapa intelektual seangkatannya di kampus, dia tidak menghabiskan waktunya melulu di forum-forum diskusi. Nirwan terlibat juga sebagai aktivis dalam gerakan mahasiswa. Ia tidak cuma bicara, melainkan juga ikut bertindak.

Begitulah Nirwan seperti yang kita kenal kemudian. Nirwan bukan melulu seorang pemikir seperti tercermin dalam tulisan-tulisannnya. Dia juga adalah orang yang mau terlibat dalam tindakan, seperti kita lihat kepeloporannya dalam Pustaka Bergerak yang mengagumkan itu.

Di tengah kebisingan gembira alumni pers mahasiswa dan aktivis UGM yang sedang berkumpul, malam itu Nirwan menyarankan saya menerbitkan kumpulan sajak. Nadanya lebih terdengar mendesak dari biasanya.

Biasanya, dan hampir setiap kami bertemu, salah satu topik obrolan yang selalu dia sodorkan adalah sajak “Biarkan Kami Bermain”. Dia selalu mengaku, menyukai sajak saya itu. Dalam obrolan itu, pasti dia mengupas sajak itu dari beberapa sudut pandang.

Sebagai orang yang tak banyak bersentuhan dengan kritik sastra, saya lebih banyak menyimak pendapatnya ketimbang mendiskusikannya.

“Di sajak itu,” katanya, “kau sudah duluan posmo sebelum orang-orang ramai bicara posmo.”

Saya bertanya beberapa hal untuk memahami pendapatnya.

“Mana sajakmu yang lain, yang seperti Biarkan Kami Bermain?” Pertanyaan Nirwan berlanjut ke desakan agar saya menerbitkan kumpulan sajak.

Itu tadi, tidak seperti biasanya, nada Nirwan terdengar mendesak.

Saya meragukan perlunya menerbitkan buku kumpulan sajak. “Siapa yang mau baca kumpulan sajakku?”

“Kau ini! Aku heran, kenapa kau seperti meragukan kehebatanmu sendiri?” Nada Nirwan agak tinggi.

Saya tidak tahu cara yang tepat untuk meresponnya. Saya senyam-senyum dan lalu meneguk suguhan di meja untuk membasahi tenggorokan yang mendadak terasa kering.

Saya merasa Nirwan agak berlebihan tentang “kehebatanmu” itu. Tapi saya tak enak hati dengan diri sendiri karena Nirwan seperti mengingatkan saya tentang perlunya menghormati diri sendiri.

Saya pulang dari acara kumpul-kumpul itu dengan membawa suara desakan Nirwan di kepala saya.

Beberapa minggu kemudian, dalam sebuah percakapan di Whatsapp, saya bilang ke AS Laksana, “Aku mau menerbitkan kumpulan sajakku. Nanti aku mau minta Nirwan untuk menulis semacam pengantar.”

Sajak-sajak itu belum saya tata.

Tadi pagi saya membaca kabar lewat Whatsapp. Saya mengalihkan tatapan mata saya dari layar ponsel ke luar jendela. Ada keheningan yang terasa datang mendadak di kepala saya.

“Nirwan nggak ada,” saya bergumam.

“Apa?” Tanya istri saya yang merasa tidak jelas mendengar suara saya dari jauh.

“Temanku wafat.”

Selamat jalan, Wan.

* Tulisan ini diambil dari akun facebook Yayan Sopyan

** Penulis Yayam Sopyan, Budayawan

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru