JAKARTA – Chief Technology Officer (CTO) Danantara Sigit Puji Santosa membeberkan bahwa pembangunan industri pengolahan atau refinery Logam Tanah Jarang (LTJ) di Indonesia akan dimulai dalam waktu dekat ini. Hal tersebut menyusul rencana pemanfaatan LTJ sebagai mineral strategis.
Menurut Sigit, Indonesia diharapkan tidak hanya mengolah LTJ sebagai bahan baku, tetapi juga dapat menghasilkan produk turunan bernilai tambah tinggi. Salah satunya seperti industri magnet permanen.
“Untuk industri refinery midstream Insya Allah 1-2 bulan kita harus bangun, Insya Allah tahun depan, dua tahun dari sekarang mungkin Insya Allah tahun 2028 magnet sudah ada di Indonesia sampai nanti kendaraan transportasi,” ujar Sigit dalam acara Mindialogue 2026: Mineral untuk Stabilitas Ekonomi RI, dikutip Bergelora.com di Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Sebelumnya, Sigit menyatakan pengembangan industri middle stream material maju perlu dipandang sebagai bagian dari transformasi industri nasional. Ia ingin transformasi ini bisa menuju ekonomi berbasis teknologi, manufaktur bernilai tambah tinggi, dan penguasaan rantai pasok masa depan.
Menurut Sigit, Indonesia harus mampu menangkap peluang permintaan regional, membangun kapabilitas teknologi, serta bersaing di pasar global untuk mencapai skala ekonomi yang berkelanjutan. Untuk itu, kata dia, pengembangan industri material maju perlu diarahkan secara lebih terintegrasi sebagai fondasi untuk memperkuat daya saing industri nasional.
Kekuatan Indonesia, katanya tidak hanya terletak pada ketersediaan mineral, tetapi pada kemampuan mengubahnya menjadi ekosistem industri material maju yang menopang baterai, energi bersih, pertahanan, transportasi, dan berbagai teknologi strategis masa depan.
“Nikel tetap menjadi salah satu keunggulan penting, namun agenda besarnya adalah membangun kapasitas industri yang lebih luas, bernilai tambah tinggi, dan kompetitif secara global,” tutur Sigit.
Dukung Program Industri EV.
Sigit Puji Santosa mengatakan pembangunan magnet permanen menjadi bagian dari strategi hilirisasi LTJ dari hulu hingga produk yang digunakan dalam industri kendaraan listrik (EV).
“Insyaallah 2028, permanent magnet bisa ada di Indonesia dan lain-lain. Ini satu kesatuan yang kami bangun sampai nanti kendaraan transportasi,” ujar Sigit dalam.
Magnet permanen tersebut menggunakan bahan baku neodymium-iron-boron (NdFeB). Salah satu unsur utamanya, neodymium (Nd), digunakan dalam pembuatan magnet permanen untuk motor traksi kendaraan listrik.
“Di permanen magnet nanti ada motor traksinya sampai ke motor dan mobil EV-nya. Jadi, kami melihatnya secara holistik dari hulu sampai hilir,” kata Sigit.
Masuk Industri Pertahanan
Hilirisasi LTJ tidak hanya diarahkan untuk industri kendaraan listrik. Danantara juga melihat peluang pemanfaatannya pada sektor pertahanan.
Sigit mengatakan salah satu pengembangan yang tengah dipertimbangkan adalah pemanfaatan LTJ untuk material baja armor. Pengembangan tersebut dilakukan bersama PT Krakatau Steel.
“Kami dengan teman-teman di Krakatau Steel pertimbangkan dan sudah bisa masuk untuk baja armor,” ujarnya.
Menurut Sigit, pengembangan industri LTJ juga diarahkan menuju material berteknologi tinggi, termasuk untuk kebutuhan semikonduktor, radar, dan sensor.
Untuk membangun ekosistem tersebut, Danantara menggandeng Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Danantara juga telah membentuk PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) yang akan mengelola pengembangan komoditas LTJ.
Sigit menekankan, pengembangan LTJ tidak boleh berhenti pada kegiatan ekstraksi bahan mentah. Indonesia perlu membangun kemampuan pengolahan hingga menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.
“Refinery inilah yang akan kami kejar. Alhamdulillah kami mendapatkan mitra-mitra yang luar biasa dan kami akan segera kembangkan ini bersama teman-teman di BRIN, teman-teman di perguruan tinggi,” katanya. (Web Warouw)

