JAKARTA Kementerian Keuangan (Kemenkeu) kembali menempatkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Pemerintah juga menambah penempatan dana sebesar Rp 100 triliun sehingga total dana SAL di Himbara mencapai Rp 400 triliun.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, keputusan itu diambil setelah penarikan dana SAL membuat likuiditas perbankan lebih ketat dari perkiraan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menghambat penyaluran kredit ke sektor riil.
Penarikan dana SAL sebelumnya dilakukan setelah muncul arahan untuk mengurangi penempatan dana di Himbara. Setelah mengevaluasi perkembangannya, pemerintah memutuskan mengembalikan dana tersebut sekaligus menambah nilainya.
“Yang masalah Himbara itu kan di sana sudah mulai kekeringan likuiditas. Saya bilang ke mereka, saya akan kembalikan lagi uang pemerintah ke Himbara. Bahkan saya tambah,” ujarnya saat media briefing di kantornya, dikutip Bergelora.com di Jakarta, Sabtu (27/6/2026).
Purbaya menjelaskan, setelah sebagian dana SAL ditarik, nilai penempatan di Himbara tersisa sekitar Rp 170 triliun. Pemerintah kemudian mengembalikannya menjadi Rp 200 triliun dengan tenor jangka panjang. Setelah itu, Kemenkeu menambah lagi Rp 100 triliun dengan jangka waktu penempatan selama tiga hingga empat bulan.
Penambahan terbaru sebesar Rp 100 triliun memiliki tenor yang lebih fleksibel. Menurut Purbaya, keputusan penambahan terakhir diambil dalam rapat bersama jajaran direksi bank Himbara pada Jumat pagi.
“Baru meeting tadi pagi. Baru dibilang akan ditambah Rp 100 triliun. Tambah Rp 100 triliun lagi itu yang sampai akhir tahun yang fleksibel,” ucapnya.
Penambahan dana SAL tersebut diharapkan memperbaiki likuiditas perbankan sehingga biaya dana atau cost of fund menurun. Likuiditas yang lebih longgar diharapkan ikut menekan suku bunga di pasar.
Kondisi itu sekaligus memberi ruang lebih besar bagi perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit.
“Jadi akan cukup likuiditas di sektor perbankan kita. Jadi harusnya bunga di pasar akan turun. Ekonomi siap lari lagi,” kata Purbaya.
Purbaya menambahkan, kebijakan tersebut merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga aktivitas ekonomi tetap berjalan melalui peningkatan penyaluran kredit.
“Pak Presiden ingin ekonominya tetap jalan, semua gangguan dihilangkan. Ya kita disuruh mikir kan, kita mikir sedikit-sedikit lah. Tujuannya begini, Anda perhatikan yang kemarin lemahnya rupiah seiring dengan mengeringnya likuiditas. Itu beredar di perbankan, di pelaku usaha. Artinya ekonominya akan melambat. Kalau ekonominya melambat, orang takut Investor keluar. Kalau kita balik kan ekonominya akan balik kan, akan lari lagi. Orang cenderung invest di Negara yang ekonominya akan lari. Akibatnya rupiah akan menguat lagi. Itu teorinya,” tuturnya. (Web Warouw)

