JAKARTA – Pemerintah Indonesia kini masih memiliki pekerjaan rumah (PR) besar untuk mencapai swasembada energi, terutama di sektor minyak dan gas bumi (migas). Indonesia nyatanya kini masih mengimpor minyak dan produk minyak atau Bahan Bakar Minyak (BBM) cukup besar.
Direktur Teknik dan Lingkungan Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Noor Arifin Muhammad menyebut, rata-rata kebutuhan pasokan minyak mentah untuk kebutuhan pengolahan atau kilang (intake kilang) BBM pada 2025 ini rata-rata mencapai 940.000 barel per hari (bph), naik dari 2024 sebesar 890.000 bph.
Dari kebutuhan intake kilang tersebut, sebesar 30,39% minyak mentah untuk kilang BBM RI pada 2025 ini diperoleh melalui impor.
Menurutnya, porsi impor minyak mentah untuk kilang pada tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun 2024 lalu yang mencapai 34,78%.
“Pimpinan dan Bapak-Ibu anggota Komisi XII DPR RI yang kami hormati, izin melaporkan suplai dan demand untuk minyak mentah nasional tercatat bahwa rata-rata intake kilang pada tahun 2024 adalah sebesar 890 ribu barel per hari, rata-rata intake kilang pada tahun 2025 sampai dengan September sebesar 940 ribu barel per hari,” ungkapnya saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, Senin (24/11/2025).
“Sebesar 34,78% kebutuhan intake kilang Indonesia pada tahun 2024 berasal dari impor, sedangkan pada tahun 2025 hingga September sebesar 30,39% kebutuhan Indonesia berasal dari impor,” ujarnya.
Adapun untuk kebutuhan BBM, dia memaparkan, kebutuhan BBM hingga September 2025 tercatat 232.417 kilo liter (kl) per hari, naik tipis dari kebutuhan pada 2024 yang tercatat rata-rata 226.510 kl per hari.
“Pada tahun 2024 dapat kami laporkan impor BBM sebesar 38,79%, sedangkan kebutuhan pada tahun ini hingga September mencapai 49,53%,” paparnya.
Dia memerinci, pada 2024 impor minyak bensin sebesar 60,26% dan pada tahun 2025 sampai dengan September sebesar 49,64%. Adapun rincian kebutuhan sebagai berikut, total kebutuhan minyak bensin pada tahun 2024 sebesar 100.110 kl per hari dan pada 2025 naik tipis sebesar 105.432 kl per hari.
Kebutuhan jenis bahan bakar khusus penugasan (JBKP) atau Pertalite pada 2024 yaitu 81.093 kl per hari, dan pada 2025 sampai September terpantau ada penurunan sebesar 76.923 kl per hari.
Kebutuhan minyak bensin jenis bahan bakar umum (JBU) atau BBM non subsidi pada 2024 yaitu 19.016 kl per hari dan tahun 2025 sampai dengan September sebesar 28.509 kl per hari.
“Selanjutnya, untuk impor minyak Solar dari tahun 2024 dan 2025 sampai dengan September berturut-turut sebesar 20,48% dan 15,80%. Total kebutuhan minyak Solar tahun 2024 yaitu 106.970 kilo liter per hari, tahun 2025 sampai dengan September 72.308 kilo liter per hari,” paparnya.
Kebutuhan minyak Solar jenis bahan bakar tertentu (JBT) atau BBM Solar bersubsidi pada 2024 sebesar 48.142 kilo liter per hari dan tahun 2025 sampai dengan September sebesar 31.868 kilo liter per hari. Kebutuhan minyak solar jenis JBU tahun 2024 sebesar 58.825 kilo liter per hari dan tahun 2025 sampai dengan September sebesar 40.440 kilo liter per hari.
“Bapak-Ibu sekalian yang saya hormati, pada tahun 2024 dan 2025 untuk bahan bakar avtur berturut-turut sebesar 38,98% dan 33,19% dari kebutuhan merupakan impor,” ujarnya.
Dia menyebut, saat ini kapasitas pengolahan minyak mentah untuk kilang di dalam negeri tercatat mencapai 1,18 juta barel per hari (bph) dari sembilan kilang minyak.
Kesembilan kilang BBM di Tanah Air, berdasarkan data Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM tersebut, antara lain sebagai berikut:
1. Kilang RU II Dumai dengan kapasitas pengolahan minyak 170.000 bph
2. Kilang RU III Plaju dengan kapasitas pengolahan minyak 126.200 bph
3. Kilang RU IV Cilacap dengan kapasitas pengolahan minyak 348.000 bph
4. Kilang RU V Balikpapan dengan kapasitas pengolahan minyak 260.000 bph (tapi dalam waktu dekat akan diresmikan naik menjadi 360.000 bph).
5. Kilang RU VI Balongan dengan kapasitas pengolahan minyak 150.000 bph
6. Kilang Pusdiklat Migas dengan kapasitas pengolahan minyak 3.800 bph
7. Kilang TPPI dengan kapasitas pengolahan minyak 100.000 bph
8. Kilang TWU dengan kapasitas pengolahan minyak 18.000 bph, serta
9. Kilang RU VII Kasim dengan kapasitas pengolahan minyak 10.000 bph.
Kilang Balikpapan Akan Penuhi 25% Kebutuhan BBM Nasional

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan ditargetkan rampung dan mulai pengoperasian awal pada pertengahan Desember tahun 2025. Proyek ini diharapkan dapat memenuhi 22 hingga 25 persen kebutuhan BBM nasional.
“Pagi hari sampai siang ini, kami melakukan pengecekan terhadap fasilitas yang ada di RDMP Balikpapan, yang terdiri dari fasilitas produksi dan juga fasilitas pendukung termasuk fasilitas infrastruktur oil storage untuk 2 juta barel,” ujar Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot dalam keterangan resminya, Kamis (20/11/2025).
Mengenai progress penyelesaian Proyek RDMP, Yuliot mengatakan saat ini hanya tersisa sedikit saja pada bagian-bagian yang detail bukan bagian proyek yang utama sehingga tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.
“Jadi, untuk kesiapan secara fasilitas masih ada penyempurnaan sekitar 1-2 persen yang kita harapkan dalam beberapa hari ke depan itu bisa diselesaikan 100 persen sehingga siap untuk diresmikan. Yang 1,5 persen itu ada detail-detail pekerjaan saja,” jelasnya.
Proyek RDMP Kilang Balikpapan merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN), dimana proyek ini menelan investasi sebesar USD 7,4 miliar atau setara dengan Rp 126 triliun.
Proyek ini menjadi salah satu investasi yang terbesar dilakukan BUMN dalam satu titik kegiatan untuk mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM).
“Salah satu fasilitas yang ada di sini akan menyediakan energi, dengan adanya fasilitas ini, kita mendukung sepenuhnya visi Bapak Presiden yaitu ketahanan energi dan juga bagaimana ketahanan energi ini akan mendukung ketahanan nasional secara keseluruhan karena seluruh kegiatan ekonomi tidak mungkin tanpa ketersediaan energi,” papar Yuliot.
Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Taufik Aditiyawarman mengatakan, sejumlah tahapan penting telah dilalui KPI untuk memastikan proyek ini berjalan dengan baik.
Diantaranya pengoperasian awal unit utama pengolahan atau Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex RDMP Balikpapan, yang telah dilakukan pada 10 November 2025 lalu.
Taufik menjelaskan, RFCC merupakan unit utama kilang untuk menghasilkan produk berstandar setara Euro V. RFCC juga akan meningkatkan efisiensi serta nilai ekonomi Kilang Balikpapan.
Pengoperasian unit RFCC pada momen Hari Pahlawan 2025 lalu menjadi simbol komitmen KPI dan Pertamina dalam mewujudkan cita-cita pembangunan yang berdaulat dan berkelanjutan.
“Ini merupakan tahapan penting yang telah dilalui KPI dan Pertamina dalam pengoperasian RDMP Balikpapan. RFCC tidak hanya meningkatkan efisiensi dan kualitas produk, tetapi juga memperbesar nilai tambah dari sumber daya alam dalam negeri,” ucap Taufik.
Selain memproduksi BBM ramah lingkungan, nantinya Kilang Balikpapan setelah beroperasi penuh juga akan mengolah residu-residu yang ada untuk menghasilkan produk-produk industri kimia bernilai tinggi seperti propylene dan ethylene.
Kedua produk ini sangat dibutuhkan oleh industri petrokimia dalam negeri sebagai bahan baku yang selama ini kekurangan pasokannya dan dipenuhi permintaannya melalui impor. (Web Warouw)

