Minggu, 26 April 2026

HA HA HA….! Sia-sia Investasi PLTB Rp 2,16 Triliun Di Sulsel, Kincir Angin yang Muter Hanya 10%

Presiden Joko Widodo memperhatikan turbin kincir angin usai meresmikan Pembangkit Listirk Tenaga Bayu (PLTB) di Desa Mattirotasi, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, beberapa waktu lalu. (Ist)

JAKARTA- Sia-sia keberadaan Pusat Listrik Tenaga Angin (PLTB) di Sulawesi Selatan yang bernilai investasi Rp 2,16 triliun, karena kincir angin yang berputar hanya 10%. Pemerintah seharusnya rasional mengevaluasi dalam mengambil kebijakan dibidang energi. Hal ini disampaikan Dr. Kurtubi, Dewan Pakar HIMNI (Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia) kepada Bergelora.com di Jakarta, Minggu (1/12).

“Sudah bener kebijakan mendorong dan membangun energi baru terbarukan (EBT). Tapi kenyataannya hanya 10%. Di Canada saja efisiensi PLTB hanya 30%. Padahal aki yang dipakai menyimpan listrik sudah merusak lingkungan,” ujarnya.

Kurtubi menyayangkan pemerintah tidak segera menyiapkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dan menghabiskan waktu dengan PLTB yang tidak efisien dan berbahaya bagi lingkungan.

Kurtubi mengatakan tidak ada masalah pada baterai atau aki yang kecil dan sedikit pada beberapa pembangkit listrik dari energi terbarukan, baik dari tenaga surya (PLTS) atau listrik dari tenaga bayu (PLTB).

“Tapi yang perlu dipikirkan adalah jika listrik yang harus disimpan dalam baterai dalam jumlah yang sangat besar, karena akan berasal dari banyak pembangkit Energi Terbarukan (ET), seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga bayu (PLTB) dan lainnya yang bersifat  intermiten,” ujarnya.

Perlu diketahui menurutnya, listrik intermiten, secara alamiah tidak bisa menghasilkan stroom 24 jam. Karena PLTB misalnya, kincir anginnya akan ‘momot meco’ (bahasa Sasak yang artinya berhenti bergerak seprti patung) disaat anginnya hilang atau angin-anginan.

Hal yang sama juga pada tenaga matahari pada PLTS akan ‘momot meco’ tidak bisa menghasilkan stroom dimalam hari atau pada saat mendung dan hujan. Sehingga waktu pembangkit dari tenaga angin atau surya menghasikkan stroom, listriknya harus disimpan dibaterai.

“Disinilah timbul masalah yang kontraproduktif dengan keinginan untuk lingkungan  hidup yg lebih bersih.   Baterai  secanggih apapun tidak bisa menghilangkan dampak negatif. Resiko kerusakan lingkungan akan tetap ada. Meski dengan teknologi, resiko hanya bisa dikurangi,” tegasnya. 

Ditambah lagi menurutnya, selain baterai untuk menyimpan stroom dari listrik Energi Terbarukan, juga nantinya kendaraan listrik dalam jumlah besar akan membutuhkan baterai yang lebih besar dan banyak.

Nuclear Power Plant

Untuk dimaklumi menurut Ketua DPP Nasdem Bidang Energi dan Mineral ini, pembangkit listrik yang bersih dan  sama sekali tidak butuh baterai karena dapat menghasilkan stroom stabil 24 jam, namanya NPP (Nuclear Power Plant) alias PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir).

“Oleh karenanya, demi masa depan bangsa yang besar ini, kita sarankan kepada Presiden Jokowi sebagai Ketua Dewan Energi Nasional, untuk segera mengumumkan bahwa Indonesia akan mulai memasuki era PLTN untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi melalui industrialisasi, menuju  Negara Industri Maju 2045,” katanya.

Kebijakan untuk memasuki era listrik PLTN ini menurut Kurtubi, sekaligus sebagai implementasi dari cita-cita visioner dari Bapak Pendiri Bangsa, Bung Karno yang sejak tahun 1950-an sudah mencita-citakan agar bangsa Indonesia harus mampu menguasai dan memanfaatkan teknologi nuklir untuk kesejahteraan rakyat. 

“Listrik dari  PLTN pasti dapat mendukung industrialisasi dengan penyediaan listrik stabil 24 jam dan  bersih dengan emisi CO2, NOx, SOx dan debu paling kecil diantara semua jenis pembangkit. Terlebih Teknologi PLTN generasi 3+ dan generasi 4 saat ini sudah sangat aman dengan biaya yang semakin kompetitif,” katanya.

Sebelumnya, mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Said Didu membuka kelemahan PLTB  di Sulawesi Selatan yang investasinya sebesar Rp 2,16 triliun. Saat ini kincir angin yang berputar hanya 10% karena tidak ada angin. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles