Selasa, 28 April 2026

I j a z a h

Bukhori seorang petani, mewakili anaknya almarhumah Rina Muharrami (22 tahun), mahasiswi Program Studi Pendidikan Kimia Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. (Ist)

Bukhori adalah kisah teladan dari muramnya masyarakat dan dunia pendidikan kita hari ini Seorang mahasiswa meninggal dunia direngut tifus karena kelelahan menghadapi ujian. Wisudanya diwakili ayahnya, Bukhori. Penulis Hassan Aoni mengingatkan agar tragedi semacam ini tidak terjadi lagi. (Redaksi)

Oleh: Hassan Aoni

BUKHORI (59) tak menyekolahkan Rina untuk ijazah. Dia tak membutuhkan itu. Tapi, sebuah undangan datang, Bukhori harus mewakili puterinya menerima tanda kelulusan sarjana S-1 di acara wisuda di UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, 27 Februari 2019. Bahkan rektor merasa perlu menyerahkan sendiri.

Mengenakan baju panjang warna abu-abu tanpa toga, hanya peci hitam di atas kepalanya. Ia menerima pelukan hangat dari rektor dan jajaran senat perguruan tinggi itu. Tak ada ritual penyilangan tali toga yang ujungnya berwarna hijau rumput menjuntai di depan wajahnya. Hanya pelukan, dan hanya dia.

Bukan nama Bukhori yang disebut ketika maju di altar itu, melainkan Rina, puterinya. Ia mewakili Rina menerima ijazah itu. Upacara wisuda seperti berhenti sejenak. Semua mata memandang Bukhori. Bukan saja karena pakaiannya yang berbeda, namun karena ketabahan lelaki ini.

Ia kembali ke kursi wisudawan yang seharusnya diduduki puterinya. “Seandainya kamu di sini, Nak,” katanya dalam hati. Berusaha menahan air mata agar tidak tumpah sejak penyerahan ijazah sampai kembali menuju kursi itu, telah membuat semua mata terpukau memandang lelaki kurus yang sangat tegar itu.

Bukhori seorang petani, mewakili anaknya almarhumah Rina Muharrami (22 tahun), mahasiswi Program Studi Pendidikan Kimia Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Banda Aceh ketika diwawancara sebuah stasiun televisi. (Ist)

Tapi, tak kuat juga akhirnya. Bulu lentik mata lelaki yang sudah mulai berguguran itu tampak berkilau cahaya, sembab berkaca-kaca. Beberapa kerabat dan teman-teman puterinya memeluk Bukhori usai acara. Sempurna sudah kesedihan itu.

Rina Muharrami nama lengkapnya. Dia lahir di Bayu, Darul Imarah, Aceh Besar, 16 Mei 1996. Mahasiswi Program Studi Pendidikan Kimia Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry. Anak petani berusia 22 tahun yang sangat sederhana. Ia mahasiswi yang sangat tekun. Juga pintar berbahasa asing. Jepang salah satu bahasa yang ia kuasai. Kepada siapa inspirasi harus digali oleh teman-teman kuliahnya, Rina lah mahasiswi yang paling dicari.

Ia mempersiapkan ujian skripsi dua minggu sebelum wisuda dengan sangat baik. Menyehatkan diri untuk maju dan lulus. Tetapi, dua minggu yang teramat berat setelah itu harus menghadapi ujian yang lain. Ujian yang sangat melelahkan tubuhnya. Bermula hanya merasakan demam tinggi. Ternyata awal dari puncak stadium tifus dan menyerang jiwanya. Ia meninggal sebelum undangan wisuda datang. Dan kita melihat gejala itu setiap hari di sekitar kita, dan bisa jadi Kementerian Kesehatan tak menyadari sudah sejauh ini. Tak kenal usia dan tak memilih siapapun termasuk hari itu untuk Rina.

Sebagai petani yang setiap hari akrab dengan berbagai cobaan dan beban, kematian puterinya sangat tabah dihadapi Bukhori. “Sudah takdir Allah,” katanya. Tapi, hari itu Bukhori benar-benar tak bisa menyembunyikan sisi lemah kelelakiannya sebagai ayah. Ia tak mampu terus menegakkan tembok ketabahannya ketika melihat tangis wisudawan merayakan kebahagiaan yang dia saksikan sendiri. Sebagai petani kecil yang mampu menyekolahkan anaknya hingga lulus, hari itu ia paling berhak merasa bahagia. Teramat bangga puterinya berhasil menjawab semua kekurangan dia sebagai petani miskin.

Pesta syukur dan sorak sederhana ala petani wajar dia lakukan usai wisuda. Tapi, menumpahkan kebahagiaan dengan siapa? Akan berfoto dengan wisudawan mana? Untuk siapa ijazah ini? Tak terasa air matanya menetes. Makin membuat teman-teman puterinya tak kuat menonton adegan hebat itu.

Salah satu keluarga mendekati Bukhori dan meminta foto. Terhadap keluarga itu Bukhori juga meminta ijin anak puterinya mendampingi dia berfoto. Meminta tetap mengenakan toga dan memegang ijazah, seolah puterinya. Berbagai adegan foto sederhana diperagakan Bukhori dan keluarganya. Senyum bahagia mengembang. Tapi, tetap saja itu sebuah pose foto yang sangat getir.

Di tengah banyak orang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan ijazah dan kesuksesan, Bukhori adalah kisah teladan dari muramnya masyarakat dan dunia pendidikan kita hari ini.

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles