Minggu, 3 Maret 2024

Indonesia Tingkatkan Pengembangan Tanaman Obat

JAKARTA- Saat ini, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan sedang gencar-gencarnya meningkatkan pengembangan tanaman obat dan jamu. Diharapkan tanaman obat dan jamu dapat menjadi alternatif selain menggunakan obat kimia dalam pengobatan.

 

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP (K) , MARS, DTM&H, DTCE kepada Bergelora.com Selasa (30/12) di Jakarta menjelaskan bahwa Kementerian Kesehatan Balitbangkes saat ini mempunyai 11 Unit Pelaksana Tehnis, salah satu diantaranya adalah  Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT),  yang pada tahun 2014 melakukan 10 kegiatan.

Menurutnya Balibangkes saat ini sedang melanjutkan penelitian Saintifikasi Jamu Praklinik meliputi uji toksisitas dan farmakologi terhadap formula jamu dispepsia, osteoartritis genu, diabetes, dan hemoroid. 

Uji klinis dalam bentuk Pre-post design yaitu formula berupa kegiatan penelitian di klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus terhadap formula hiperglikemi,  hiperkolesterolemi, dan hipertensi 

Sebelumnya pada tahun 2014 telah dilakukan penelitian untuk formula obesitas, pelancar ASI,  aprodisiak, urolitiasis, anemia, FAM, insomnia, anemia  defisiensi Fe, immunomodulator, dan nyeri kepala tegang otot.

Menurutnya penelitian formula untuk dispepsia, osteoartritis genu dan hemoroid, dengan melibatkan 96 dokter Saintifikasi Jamu di provinsi Jawa Tengah yaitu Kabupaten Karanganyar, Sragen, Sukoharjo, Wonogiri, Kendal, Pekalongan, Tegal, Kabupaten Semarang, DI Yogyakarta, Palembang, Kendari, Bangli, Kota Denpasar, Kabupaten Kapuas dan Lampung. 

“Penelitian setiap formula dilakukan pada 130 subyek penelitian dan 130 kontrol pada 260 orang pasien. Hasil penelitian ini akan ditetapkan oleh Komnas Saintifikasi Jamu sebagai Jamu Saintifik dan akan dilaunching oleh Menteri Kesehatan pada tahun 2015. Juaga sudah ada tablet dan kapsul untuk Jamu hiperurisemi,” demikian Tjandra Yoga.

Penelitian Tanaman Obat

Balitbangkes juga melakukan Standarisasi Tanaman, yaitu: tempuyung, meniran, pegagan, sambiloto, sembung, kumis kucing, kunyit, temulawak, purwoceng, ekinase, artemisia, daun duduk, stevia, timi, kamilen.

“Standarisasi simplisia tanaman obat yaitu kunyit, temulawak, jahe, kumis kucing, daun duduk, adas, cabe jawa, ketumbar, sari mekar, sidowayah, kamilen,” paparnya.

Produksi benih tanaman obat meliputi kegiatan seleksi tanaman induk, uji  kemurnian, uji viabilitas benih, penyimpanan benih dengan hasil 300 spesies tanaman obat. Pengembangan model pemberdayaan masyarakat pada 2 desa dilakukan di Kabupaten Sragen dalam budidaya dan pemanfaatan tanaman obat untuk menjamin ketersediaan bahan baku jamu dan meningkatkan derajad kesehatan.

Balitbangkes juga melakukan pengembangan berbasis laboratorium dalam bentuk skrining fitokimia  150 spesies tanaman obat, untuk bahan penyusunan buku Inventaris Tanaman Obat Indonesia (INTOI) Jilid ke-7. Buku INTOI Jilid 1-6 memuat 850 spesies tanaman obat.

Juga dikembangkan bank galenik terdiri atas minyak atsiri dan ekstrak tanaman obat sebanyak 400 spesies, yang digunakan sebagai referensi untuk penelitian lanjut dan dalam  rangka konfirmasi hasil penelitian sebelumnya.

Eksplorasi sumber warna alami tanaman obat juga dilakukan pada secang, kesumba, suji, kembang telang, kunyit, dan wortel.

“Hal ini kami lakukan untuk mencari bahan pewarna makanan dan minuman alami sebagai antisipasi keresahan masyarakat tentang bahan pewarna kimia pada jajanan anak sekolah,” ujarnya.

Pengembangan formula biopestisida dari tanaman obat mimba, tembakau, laos, sereh, cengkeh, sirsat, kembang bulan, pucung, tuba, rusmarin, dan piretrum. (Web Warouw)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru