GIANYAR- Dalam sebuah grup gamelan (orang Bali biasa menyebut “gambelan”) seruling (atau biasa disebut suling) adalah bagian dari ansambel tersebut. Tidak seperti alat musik yang lain (gong, kenong, saron, kendang) suling bisa jadi kurang diminati karena saat memainkannya wajah kita terlihat terlihat kurang manarik karena mulut dan pipi kembang-kempis bekerja mengatur udara.
Tapi olok-olok diatas tidak berlaku bagi I Made Adi Wira Nata Putra, anak muda 25 tahun asal Pasdalem Kelod, Gianyar–Bali ini justru menekuni suling dari mulai memproduksi, menjual hingga memainkannya.
“Saya memilih suling karena sebenarnya sedari kecil sudah akrab dengan instrumen tiup dari bambu tersebut. Almarhum Bapak saya dulu sering sekali bermain suling di rumah sehingga saya sudah akrab dengan suara seruling sedari kecil.
Adi menceritakan perihal perkenalannya dengan suling yakni bermula ketika kelas empat Sekolah Dasar.
“Saat itu murid-murid secara bergilir diminta guru memainkan alat musiknya masing-masing di depan kelas. Teman-teman saya ada yang bawa pianika, harmonika dan seterusnya, sementara saya tidak punya alat musik modern tersebut karena yang saya punya di rumah hanya suling bambu. Maka untuk mempersiapkan pentas di depan kelas saya minta diajari bermain suling oleh Bapak. Tapi saat itu Bapak justru tidak mau ngajarin, entah karena malas atau bagaimana sampai saya menangis agar Bapak mau mengajari main suling. Dari sanalah tumbuh kecintaan saya terhadap suling, ”ungkapnya.

Dan Adi pun mulai menekuni membuat suling di kelas tiga Sekolah Menengah Pertama dan skil bermain sulingnya sudah lumayan dan terbiasa ikut mengiringi gambelan. Tapi suling yang dimilikinya saat itu jumlahnya masih sedikit, kalau dipakai untuk mengiringi tarian Arja atau pun Calonarang biasanya tidak dapat menjangkau semua nada-nada Pupuh (nyanyian) penarinya. Mau membeli satu set lengkap suling tidak punya cukup uang dan keadaan ekonomi keluarga juga tidak memungkinkan untuk itu.
“Jadilah saya berpikir untuk membuat saja. Awalnya target saya yang penting bisa bunyi, entah nadanya tidak presisi, atau suaranya tidak nyaring tidak masalah,” ujar pemuda yang juga mahir bermain Rebab ini.
Adi mengaku saat suling pertamanya dibuat kebetulan bisa bunyi, tapi nadanya masih ngawur dan berbunyi tidak terlalu nyaring. Tapi dari sanalah ia merasa tertantang untuk mencoba lagi dan menyempurnakannya.
“Setiap saya nemu bambu yang kiranya cocok diproses (walaupun jenis bambunya tidak layak dijadikan suling) saya coba-coba saja. Entah berapa kali produk gagal yang sudah saya buat dan berakhir di tungku perapian di dapur, “ujarnya tertawa mengenang itu.
Adi menjelaskan bahwa para pembeli produk sulingnya saat ini hampir dari seluruh Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Lombok, Papua bahkan belum lama ini ia mengirim paket suling ke Malaysia. Ada juga teman-temannya yang pesan untuk dikasih ke kerabatnya yang ada di Jepang dan Amerika.
Adi mengaku ada beberapa hal yang dicapai dari membuat suling, pertama sebagai hobi karena kecintaannya akan alat tiup tersebut, selain itu tentu untuk menambah penghasilan.
“Dengan membuat suling saya bisa mengekspresikan keinginan saya membuat sesuatu yang baru. Banyak sekali jenis suling yang ada di Nusantara maupun di dunia ini dan dulunya tidak terpikirkan sama sekali, tapi sekarang perlahan-lahan sudah bisa saya buat jenis-jenisnya. Untuk iru saya masih perlu banyak belajar lagi, “ujar pria yang juga menyukai matematika ini.
Bergelora.com juga menanyakan perihal perkembangan dan regenerasi kesenian tradisional Bali saat ini, ia menjawab bahwa secara umum beberapa kesenian ada yang berkembang tapi beberapa ada juga yang kurang diminati.
“Yang berkembang yang saya lihat akhir-akhir ini yaitu pementasan Calonarang, Gambelan Gong Kebyar, Bleganjur dan lain-lain. Sementara yang kurang diminati sejauh yang saya rasakan saat ini yaitu kesenian Drama Gong dan Gambuh, “terangnya.
Sementara untuk suling Adi merasakan geliat perkembangannya, sekarang banyak genre musik yang menyertakan suling dalam permainannya. Perkembangan juga terjadi dalam variasi dan jenis suling yang dipakai.
Menurut Adi, cara merawat, kelestarian seni budaya tradisi salah satunya adalah dengan inovasi, seperti yang dilakukan oleh Gus Teja (seorang musisi suling populer dari Bali).
“Saya lihat Bli Gus Teja membawa pengaruh positif bagi perkembangan suling Bali. Sejauh yang saya rasakan, dulu sebelum Bli Gus Teja sepopuler sekarang menjadi pemain suling itu sangat tidak keren. Saya rasakan sendiri itu waktu membawakan tembang Pupuh-Pupuh yang notabene cengkok nadanya khas Bali, teman-teman seumuran saya tidak tertarik dengan teknik seperti itu bahkan mereka bilang lagu-lagu tersebut kuno dan jadul sekali, ”kenangnya.
Namun seiring berjalannya waktu geliat variasi permainan suling saat ini menurut Adi sudah mulai membaik. Terlihat dari semakin banyaknya temen-teman yang ingin bisa bermain suling, baik yang ingin menguasai teknik khas Bali (Mupuh) maupun teknik-tehnik suling akustik seperti lagu-lagu yang dimainkan Gus Teja.
Jadi harus dengan melakukan inovasi yang mampu menarik minat generasi muda namun tanpa mengubah ataupun merusak esensi dari kesenian (Bali) itu sendiri.
Untuk harga jual suling Bali atau Akustik tergantung ukuran. Untuk suling ukuran kecil Rp 50 ribu, ukuran sedang Rp 60 ribu, ukuran besar Rp 70 ribu.
Suling Gambuh Rp 150 ribu, Native Amerika ukuran sedang Rp 150 ribu, Native Amerika ukuran besar Rp 250 ribu.
Terakhir bila pembaca Bergelora.com tertarik belajar, berdiskusi perihal kesenian tradisinal Bali, perihal suling Bali atau ingin mengkoleksi produk suling karya Adi bisa menghubungi akun Instagramnya di @adiwiranataputra. (Sukir Anggraeni)

