JAKARTA – Utang pemerintah Amerika Serikat (AS) terus membengkak dari waktu ke waktu. Bahkan, dalam tiga dekade ke mendatang, nilainya diproyeksikan bisa menembus level yang sangat fantastis.
Berdasarkan data Congressional Budget Office (CBO) dan Gedung Putih per Maret 2026, utang federal AS diperkirakan dapat mencapai US$182 triliun pada 2056 atau setara sekitar Rp3.167,8 kuadriliunĀ atau Rp 3,17 juta triliun (asumsi kurs Rp17.405/US$).
Sebagai gambaran, utang AS tercatat masih sebesar US$51 miliar pada 1940. Namun, nilainya kini sudah mendekati US$40 triliun. Jika tren ini berlanjut, utang AS berpotensi naik hampir 4,6 kali lipat dari rekor tertinggi saat ini yang berada di kisaran US$39 triliun.
Pada 2056, AS bahkan diperkirakan bisa menambah utang sebesar US$10 triliun hanya dalam waktu satu hingga dua tahun. Artinya, laju penambahan utang AS semakin cepat dibandingkan periode-periode sebelumnya.

Utang AS Bertambah Makin Cepat
Hal yang membuat utang AS mengkhawatirkan bukan hanya nilainya yang semakin besar, tetapi juga kecepatannya yang terus meningkat.
Dulu, AS membutuhkan waktu hampir 70 tahun untuk membuat utangnya mencapai US$10 triliun pertama. Namun setelah krisis keuangan global 2008, tambahan US$10 triliun berikutnya hanya membutuhkan waktu sekitar sembilan tahun.
Lajunya semakin cepat pada dekade 2020-an. Ketika pandemi Covid-19 terjadi, pemerintah AS menggelontorkan belanja besar untuk menopang ekonomi. Akibatnya, tambahan utang US$10 triliun hanya terjadi dalam waktu sekitar lima tahun.
Padahal, proyeksi ini dibuat dengan asumsi yang relatif aman, yakni tidak ada perang baru, tidak ada resesi besar, dan suku bunga masih terkendali. Meski begitu, utang AS tetap diperkirakan bisa mencapai US$182 triliun pada 2056.
Sebagai gambaran, angka tersebut hampir tiga kali lipat dari total nilai seluruh perusahaan yang masuk dalam indeks S&P 500 saat ini.
Efek Utang AS Bisa Menjalar ke Seluruh Dunia
Utang yang terus membengkak membuat beban bunga pemerintah AS ikut naik. Sederhananya, semakin besar utang, semakin besar pula uang yang harus disiapkan pemerintah hanya untuk membayar bunga.
Akibatnya, ruang anggaran untuk kebutuhan lain bisa semakin sempit. Dana yang seharusnya bisa digunakan untuk pertahanan, pembangunan infrastruktur, layanan publik, hingga program sosial berisiko tersedot untuk membayar bunga utang.
Dampaknya juga bisa merembet ke masyarakat dan dunia usaha. Jika biaya pinjaman pemerintah AS naik, suku bunga di pasar keuangan juga bisa ikut terdorong. Pada akhirnya, bunga kredit rumah tangga dan biaya pinjaman perusahaan dapat menjadi lebih mahal.
Kondisi tersebut bisa menekan konsumsi, menghambat ekspansi bisnis, dan membuat investasi melambat. Dalam jangka panjang, pertumbuhan ekonomi AS pun berisiko ikut tertahan.
Masalah utang AS juga tidak hanya penting bagi Amerika. Karena AS merupakan ekonomi terbesar dunia dan dolar AS menjadi mata uang utama global, perubahan kebijakan fiskal, arah suku bunga, dan pasar obligasi AS dapat memengaruhi pasar keuangan dunia.
Bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, dampaknya bisa terasa melalui arus modal, nilai tukar, hingga sentimen investor.
Ketika pasar khawatir terhadap kondisi fiskal AS, gejolaknya bisa ikut menjalar ke rupiah, obligasi, dan pasar saham negara lain.
Diversifikasi Obligasi Pemerintah As
Sementara itu kepada Bergelora.com di Jakarta, Kamis (7/5)Ā dilaporkan, Investor global menunjukkan tanda-tanda awal diversifikasi dari obligasi pemerintah AS seiring dengan meningkatnya tingkat utang dunia hingga mencapai rekor $353 triliun pada akhir Maret 2026, menurut laporan baru dari Institute of International Finance (IIF) yang diterbitkan pada 6 Mei.
Laporan tersebut menyatakan bahwa permintaan internasional untuk obligasi pemerintah Jepang dan Eropa telah menguat dalam beberapa bulan terakhir, sementara permintaan untuk obligasi pemerintah AS secara umum tetap stabil.
āHal ini menunjukkan bahwa ada beberapa upaya dari investor internasional untuk melakukan diversifikasi dari obligasi pemerintah AS,ā kata Emre Tiftik, Direktur di Institut Keuangan Internasional (IIF) untuk Pasar dan Kebijakan Global, selama webinar yang membahas temuan tersebut.
IIF menyatakan bahwa tidak ada risiko langsung terhadap pasar obligasi pemerintah AS yang bernilai sekitar $30 triliun, tetapi memperingatkan bahwa tren jangka panjang menunjukkan peningkatan tekanan fiskal di Amerika Serikat.
Rekor tingkat utang
Laporan Global Debt Monitor triwulanan IIF menemukan bahwa utang global meningkat lebih dari $4,4 triliun pada kuartal pertama tahun 2026, menandai peningkatan tercepat sejak pertengahan tahun 2025 dan kenaikan triwulanan kelima berturut-turut.
Sebagian besar peningkatan tersebut didorong oleh pinjaman pemerintah AS, sementara China juga mengalami peningkatan tajam dalam utang di antara peminjam korporasi non-keuangan, khususnya perusahaan milik negara.
Di luar dua ekonomi terbesar dunia, tingkat utang di pasar negara maju sedikit menurun, sementara pasar negara berkembang di luar China mencatat kenaikan moderat menjadi rekor $36,8 triliun.
Meningkatnya tekanan struktural
Laporan tersebut menyatakan bahwa utang global berada di sekitar 305% dari output ekonomi dunia, secara umum stabil sejak tahun 2023, tetapi dengan tren yang berbeda antara negara maju dan negara berkembang.
Rasio utang di pasar negara maju secara bertahap menurun, sementara negara berkembang terus mengalami peningkatan yang stabil.
IIF memperingatkan bahwa tekanan struktural kemungkinan akan mendorong utang pemerintah dan korporasi lebih tinggi dalam jangka menengah hingga panjang.
Di antara hal-hal yang mereka sebutkan adalah populasi yang menua, peningkatan pengeluaran pertahanan, kebutuhan keamanan energi, investasi keamanan siber, dan pengeluaran modal terkait kecerdasan buatan. (Enrico N. Abdielli)

