JAKARTA – Masyarakat Kelurahan Matani Satu, Kota Tomohon digegerkan dengan perempuan berinisial EM (21) yang tewas gantung diri di rumah kost Chemara. Selasa (30/12/2025).
Diketahui korban merupakan mahasiswi UNIMA fakultas Ilmu Pendidikan yang berasal dari Kabupaten Siau Timur, Sulawesi Utara Jasad korban ditemukan tergantung pada tiang penyangga di depan pintu kamar oleh salah satu penghuni kost.
Kapolsek Tomohon Tengah Iptu Stenly Tawalujan membenarkan adanya penemuan mayat tersebut dan korban sudah dibawa ke rumah sakit Anugrah Tomohon untuk diadakan otopsi dan penyelidikan lebih lanjut.
#JusticeForEvi
Sementara itu tagar #JusticeForEvi, ramai disebarluaskan oleh mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Manado (UNIMA) Sulawesi Utara, melalui berbagai platform media sosial, termasuk WhatsApp, pada Selasa (30/12/2025).
Tagar tersebut menjadi bentuk seruan keadilan atas peristiwa yang menimpa EM, mahasiswi UNIMA Fakultas Ilmu Pendidikan, yang baru-baru ini ditemukan meninggal dunia di sebuah rumah kos Kaaten di Kelurahan Matani Satu, Kota Tomohon.
Sebelum kejadian tersebut, E diketahui sempat menuliskan surat pernyataan yang ditujukan kepada Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi UNIMA, Dr. Aldjon Dapa, M.Pd.
Surat itu diawali dengan identitas dirinya, kemudian memuat laporan dugaan pelecehan yang dialaminya, dengan terduga pelaku berinisial DM, yang disebut sebagai salah satu dosen di fakultas tersebut.
Dalam surat tersebut, E juga menguraikan kronologis kejadian yang diduga dilakukan oleh DM. Pada bagian akhir surat, E menegaskan tujuan pengaduannya kepada pimpinan fakultas.
“Saya memohon agar pihak pimpinan dapat menangani masalah ini. Kalau bisa, berikan sanksi kepada DM. Jangan biarkan orang seperti itu,” tulisnya.
Ia juga menyebutkan bahwa kejadian tersebut masih berada dalam lingkup kampus Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP). Ia mengungkapkan dampak psikologis yang dialaminya.
“Kejadian tersebut masih dalam lingkup kampus FIPP. Dampak yang saya rasakan adalah trauma dan ketakutan. Setiap bertemu DM, saya merasa malu jika ada mahasiswa yang melihat saya naik atau turun dari mobilnya karena bisa menjadi bahan pembicaraan. Saya merasa tertekan dengan masalah ini,” demikian kutipan pernyataannya.
Sejumlah mahasiswa Psikologi UNIMA turut menyampaikan kecaman, kritik dan keprihatinan dengan kejadian yang terjadi.
Seorang mahasiswi yang tak ingin disebutkan namanya, menegaskan bahwa dosen seharusnya mendidik, bukan melakukan tindakan yang mencederai martabat mahasiswa. Mereka juga mempertanyakan kelayakan terduga pelaku yang hingga kini masih bebas tanpa proses hukum yang jelas.
“Dasar birahi, korban diduga dilecehkan, memiliki trauma, menanggung malu dan mencari keadilan tetapi tidak digubris juga oleh mereka yang seharusnya menjadi pembimbing mahasiswa,” tegasnya.
Dosen Minta Dilayani Pijat Mesum
Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, dalam suratnya kepada pimpiinan fakultas, juga terbaca E sempat menolak dosennya yang meminta dilayani pijat. Namun dosen itu memancingnya akan menunjukkan rekap nilai di mobilnya.
Kepada pimpinan Dekan Fakultas Psikologi Unisma, E menceritakan lengkap perlakuan dosen yang tidak senonoh pada dirinya di dalam mobil yang membuat E malu.
Di bawah ini surat pengaduan tulisan tangan E tertuju kepada Dekan Fakultas Psikologi yang menceritakan lengkap kronologi kejadian yang menimpa E.



Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak UNIMA, khususnya pimpinan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi UNIMA, belum memberikan tanggapan resmi. Dr. Aldjon Dapa, selaku dekan fakultas, saat dikonfirmasi oleh media, belum memberikan pernyataan. (Web Warouw)

