Sabtu, 2 Mei 2026

PERCUMA ADA VPN MBAK..! Komdigi Bakal Terapkan Rating Usia untuk Game Online dan Media Sosial

JAKARTA – Kementerian Komunikasi dan Digital (komdigi) berencana menerapkan sistem pemeringkatan usia (rating system) untuk game online atau gim digital, serta media sosial. Upaya itu dilakukan untuk menciptakan ruang digital yang lebih aman dan sehat.

Kebijakan ini akan mulai diberlakukan pada awal 2026, dengan tahapan penerapan rating gim dimulai Januari, di susul pengaturan media sosial pada Maret mendatang.

“Kami izin bahwa pemerintah ini mau mulai mengatur pemeringkatan usia untuk game juga dan juga nanti social media yang Insya Allah akan kita terapkan di bulan maret,” kata Menteri Komunikasi dan Digital (Mekomdigi) Meutya Hafid dalam acara DigitalEcosphere Jawa barat, di Blok 71 dan Innovation Factory, Garuda Spark, Kota Bandung, dilaporkan Bergelora.com di Jakarta, Senin (5/1/2026).

“Jadi yang dimulai 3+, 7+, 13+, 15+, 18+, pendekatannya juga adalah pertama self-evaluation ya,” ujarnya melanjutkan.

Meutya mengatakan bahwa hal ini dilakukan bukan untuk mematikan kreativitas. Sebaliknya, pihaknya ingin membenahi agar orang tua tidak langsung melarang anak bermain gim, dan masyarakat tidak takut terhadap platform digital.

Selama ini, menurut dia, Indonesia belum memiliki kewajiban pencantuman batas usia pada game. Oleh karenanya, ke depannya setiap gim akan diwajibakan memiliki klasifikasi usia. Mekanisme ini dilakukan melalui self-assesment oleh pengembang, kemudian di verifikasi oleh tim Komdigi.

“Orang-orang tidak boleh dihilangkan trust juga. Kalau orang juga hilang confidence terhadap game-game produk-produk layanan game ini juga akan memukul industri dalam jangka waktu ke depan,” kata Meutya.

Selain game online, Komdigi juga akan menerapkan pengaturan serupa pada media sosial. Meutya berpandangan, perubahan perilaku digital dalam lima hingga sepuluh tahun terakhir menimbulkan keresahan baru, terutama bagi orang tua terhadap aktivitas anak di ruang digital.

Dukungan Pemerintah untuk Ekosistem Start Up

Dalam kesempatan tersebut, Meutya juga menyinggung tantangan besar yang dihadapi ekosistem start up sepanjang 2025, tak hanya untuk Indonesia tapi juga di kawasan ASEAN.

Meski demikian, dia menekankan pentingnya peran pemerintah untuk hadir membangun kepercayaan diri para pelaku start up.

“Jadi, kalau talenta dan kreativitas kita sangat meyakini teman-teman tidak perlu lagi kemudian diarahkan begitu ya. Tapi dari sisi untuk boosting confidence itu pemerintah perlu hadir. Mudah-mudahan ke depan akan semakin kuat,” ujarnya.

Meutya mengatakan, Komdigi kini mengusung transformasi lanjutan dari pembangunan digital nasional melalui konsep 3T lanjutan, yakni terhubung, tumbuh, dan terjaga. Start up dan komunitas digital ditempatkan sebagai motor utama pada aspek tumbuh, dengan harapan pertumbuhan positif dan terjaga dari hal-hal buruk.

“Selama kita tidak produktif, maka ranah digital menjadi ranah yang sangat penuh dengan yang teman-teman sering lihat saat ini. Banyak sekali juga keluhan kepada komunikasi kejahatan-kejahatan digital dan juga perilaku-perilaku digital yang berbeda sekali dari 5-10 tahun lalu,” katanya.

“Jadi orang masuk ke digital itu banyak yang merasa sudah tidak nyaman khususnya di social media sebagai contoh. Bahkan keresahan orang tua anaknya masuk ke game-game itu juga muncul dan berbeda sekali dengan kalau kita tarik lima tahun lalu,” ujar Meutya lagi.

Dalam mendukung ekosistem tersebut, Garuda Spark dikembangkan sebagai ruang berbasis komunitas guna mendorong pertumbuhan startup dan talenta digital lokal. Dalam waktu sekitar tiga bulan sejak diresmikan pada September 2025, Garuda Spark telah mencatat 14 program dengan 1500-an peserta, serta lahirnya 10 start up baru dari talenta lokal.

“Jadi dari Garuda Spark ini kita harapkan selain ekosistemnya tumbuh, digital talentnya juga terbentuk,” kata Meutya.

“Kita enggak lagi, meskipun kita tetap melakukan, kita tidak lagi memfokuskan pelatihan digital, pengenalan digital lewat kelas-kelas formal saja, tapi berbasis komunitas dan mudah-mudahan pendekatan ini akan lebih efektif daripada hanya pelatihan dari kelas-perkelas saja dengan target audience yang sudah jelas,” ujarnya lagi.

Ekosistem di Bandung

Sementara itu, Bandung dinilai memiliki posisi yang cukup kuat dalam peta ekosistem start up nasional. Meski berada pada level moderat, Meutya menyebut bahwa Bandung memiliki modal besar dari sisi talenta, iklim investasi, dan dukungan komunitas.

“Dengan posisi pada tingkat moderat jadi memang kita start-nya mungkin kalau dihitung angka 70 dari 100, nilai kita 70 untuk Bandung. Saya agak keras ya kalau Bandung 70, mungkin daerah lain agak di bawahnya tapi 70 sampai 75 dari 100 itu yang kita mau naikkan,” kata Meutya.

Menurut dia, tantangan utama Bandung ada pada pendanaan tahap pertumbuhan yang belum memadai, penguatan akses pasar, iklim investasi ekonomi, dan mekanisme exit.

“Jadi tadi ini sudah saya sampaikan supaya kita fokus teman-teman apa sih yang kurang di climate-nya, investment climate apa sih yang kurang di bisnis support, apa yang kurang di investment dan economic, apa exit option-nya,” ujar Meutya.

Di akhir paparannya, Meutya menegaskan komitmen pemerintah untuk terus mendampingi komunitas dan start up digital agar mampu bertahan dan berkembang di tengah tantangan.

“Tantangannya adalah bagaimana juga untuk mengenalkan hal-hal baru yang sesungguhnya sangat amat kreatif. Jadi saya amat mendukung untuk ini terus guyub, saling bantu, dan mudah-mudahan dari Garuda Park bisa melakukan fungsi, bisa melakukan apa semangat yang menjadi dasar kami menggulirkan Garuda Spark ini, mudah-mudahan dari Bandung juga nanti bisa lebih banyak lagi yang muncul di berbagai negara,” pungkasnya. (Yosep)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles