Rabu, 5 Agustus 2026

KOQ BISA LOLOS NIH..? 156 Siswa Keracunan MBG di Seruyan Kalteng, Hasil Uji Lab Temukan Bakteri

JAKARTA – Sebanyak 156 penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan yang didistribusikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Seruyan Hilir Kuala Pembuang I.

Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan hasil pemeriksaan laboratorium yang diterima pada 1 Agustus 2026 menemukan adanya bakteri pada sejumlah sampel makanan.

Menyusul temuan tersebut, operasional SPPG Seruyan Hilir Kuala Pembuang I dihentikan sementara mulai 1 Agustus 2026.

Koordinator Wilayah BGN Seruyan Muhammad Raffin mengatakan penghentian operasional dilakukan agar pengelola dapat memperbaiki sarana pendukung sekaligus mengevaluasi sejumlah aspek, mulai dari sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS), kualitas air, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), hingga kelengkapan administrasi lainnya.

“Sampel tersebut disimpan selama 2×24 jam. Apabila terjadi kejadian seperti ini, sampel itu dapat digunakan untuk pemeriksaan apakah terdapat bakteri atau kontaminasi,” ujar Raffin dikutip Bergelora.com di Jakarta, Rabu (5/8/2026).

“Per 1 Agustus 2026, hasil laboratorium sudah keluar. Dari hasil uji laboratorium ditemukan ada beberapa makanan yang mengandung bakteri,” tambahnya.

Kronologi 156 Orang Keracunan

Raffin menjelaskan, makanan dari SPPG Seruyan Hilir Kuala Pembuang I mulai didistribusikan kepada para penerima manfaat pada Selasa (28/7/2026).

Namun, laporan mengenai keluhan kesehatan baru diterima BGN pada Rabu (29/7/2026) sekitar pukul 16.42 WIB.

“Pihak sekolah penerima manfaat tidak langsung memberitahukan bahwa mereka mengalami tidak enak badan setelah mengonsumsi MBG,” jelas Raffin.

Karena laporan baru diterima setelah distribusi makanan pada Rabu tetap berlangsung, BGN terlebih dahulu melakukan penelusuran untuk memastikan apakah gangguan kesehatan benar berkaitan dengan menu MBG atau dipicu faktor lain.

Tim juga memeriksa menu yang dikonsumsi guna memastikan apakah makanan yang diduga menjadi penyebab berasal dari distribusi Selasa atau dari hari lainnya.

“Kami melakukan penyelidikan terlebih dahulu untuk memastikan apakah benar gangguan kesehatan tersebut disebabkan oleh MBG, karena pada hari Rabu mereka masih menerima menu MBG,” jelas Raffin.

BGN bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Seruyan kemudian mendatangi sekolah yang melaporkan adanya keluhan pada Kamis (30/7/2026)

Hasilnya 5-7 Hari

Pemeriksaan dilakukan di SMP Negeri 1 Kuala Pembuang dan SMA Negeri 1 Kuala Pembuang.

Laporan awal berasal dari Kepala SMP Negeri 1 Kuala Pembuang yang mengaku mengalami kondisi tidak enak badan setelah mengonsumsi MBG pada Selasa. Gejala baru muncul pada malam hari sehingga informasi belum langsung disampaikan karena penyebabnya belum dapat dipastikan.

“Namun, saat itu beliau belum berani memastikan dan masih menyimpan sendiri informasi tersebut karena takut hanya beliau yang mengalami,” ungkap Raffin.

Keesokan harinya, kepala sekolah menanyakan kondisi para guru. Hasilnya, beberapa orang mengalami keluhan serupa berupa mual, diare, pusing, hingga badan terasa tidak enak.

Sejumlah wali murid juga melaporkan kondisi serupa yang dialami anak mereka sehingga beberapa siswa tidak masuk sekolah.

Raffin menerangkan, jumlah penerima manfaat MBG di SMA Negeri 1 Kuala Pembuang mencapai sekitar 1.066 orang. Berdasarkan data awal, hanya sekitar 20 hingga 25 orang yang mengalami keluhan.

“Jadi kepala sekolah masih melihatnya secara objektif dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan, seperti faktor cuaca maupun makanan yang dikonsumsi dari luar,” imbuhnya.

BGN bersama Dinas Kesehatan Seruyan dan Satgas kemudian mendirikan posko kesehatan di Aula SMP Negeri 1 Kuala Pembuang untuk menangani penerima manfaat yang mengalami keluhan.

Pemeriksaan juga dilakukan terhadap SPPG Seruyan Hilir Kuala Pembuang I, termasuk menguji sampel makanan yang disimpan pihak dapur.

Raffin menjelaskan, setiap SPPG wajib menyimpan sampel makanan selama 2×24 jam sebagai bahan pemeriksaan apabila terjadi kejadian yang tidak diinginkan

. Hasil laboratorium yang keluar pada 1 Agustus 2026 menunjukkan beberapa sampel makanan mengandung bakteri. Raffin menambahkan operasional SPPG akan kembali berjalan setelah seluruh proses perbaikan dan evaluasi diselesaikan oleh pihak pengelola. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles