Kamis, 13 Juni 2024

Langkah Berani Budiman Sudjatmiko

Ia ingin menyampaikan bahwa tidak perlu terus menerus merebus dendam masa lalu. Sebuah rekonsiliasi perlu dilakukan untuk membangun bangsa ini.

Oleh: Ragil Nugroho*

PERTEMUAN Budiman Sudjatmiko dengan Prabowo Subianto mendapatkan banyak komentar. Ada yang senang, ada yang sinis ada pula yang mencaci. Komentar-komentar tersebut hal yang wajar dari setiap peristiwa politik.

Komentar yang sinis rata-rata dari kolega Budiman di PRD dulu. Komentarnya masih kuno: masalah moral. Bahwa Budiman dianggap tak bermoral karena berangkulan dengan orang yang dianggap menculik teman-temannya sendiri. Foto dirinya yang membungkuk ketika bersalaman dengan Prabowo dianggap bentuk takluk di hadapan lawan politiknya.

Mengapa komentar ini kuno? Sejak zaman dahulu sampai sekarang, tidak ada yang bisa menentukan moral siapa yang lebih bersih: kita atau mereka, saya atau lawan saya. Moral ada dalam ukuran pribadi atau kelompok. Ia tidak bisa dijadikan satu ukuran yang bisa dipakai dalam segala zaman, ruang dan waktu yang berbeda. 

Seorang Kumbokarno dalam kisah Ramayana, misalnya, apakah dia bermoral ketika mendukung kakaknya, Dasamuka, yang telah menculik Dewi Sinta? Bagi kubu Rama pasti ia dianggap tak bermoral. Kalau ia bermoral tentu akan memihak Rama. Tapi bagi kubu Rahwana, Kumbokarno sosok yang menjujung tinggi moral. Ia tak mau mengkhianati negaranya. Kumbokarno dengan gagah berani membela negaranya dari serangan Ramawijaya. Ia seorang nasionalis tulen. Ternyata batas moral dan tak bermoral hanya setipis kulit bawang.

Menegakkan aturan moral untuk segala situasi seperti menegakkan benang basah. Tidak ada universalitas di sana. Aturan moral adalah produk manusia. Selalu ada konstruksi di sana. Dan setiap kontruksi, seperti kata filsuf Jerman, Adorno, tidak akan bisa menangkap setiap realitas secara utuh. Selalu ada yang tumpah ketika mencoba mengkontruksi segala hal ikhwal, termasuk moral.

Membaca langkah Budiman bertemu Prabowo, saya teringat kata-kata almarhum Gus Miek, ulama dari kampung Ploso, Kediri, yang seperti Gus Dur, dipercaya sebagai wali. Ia berujar, “Saat memandang orang lain, pakailah kacamata hakikat, sehingga tidak gampang menuduh salah.” Bila kita melihatnya dari kacamata syariat/hukum (moral di dalamnya), kita akan gampang menyalahkan pihak lain dan menggap diri kita paling benar. Bila memakai bahasa Pramoedya, kita harus adil sejak dalam pikiran. 

Pertemuan Budiman dengan Prabowo secara hakikat merupakan pertemuan dua manusia, seperti kata keduanya, pernah memiliki masa lalu masing-masing. Bahkan di masa lalu, keduanya pernah berbenturan secara tajam. Satu pihak sebagai penentang Orde Baru, pihak lain ada di seberangnya. Semua terjadi dalam konteks politik saat itu.

Keduanya tidak mau terjebak masa lalu. Seperti kata Budiman, jangan sampai kita terus menerus diganduli masa lalu. Memang masa lalu selalu nostalgik, penuh romantisme. Namun, manusia selalu bergerak. Zaman terus bergerak. Situasi berubah. Pun, politik. 

Seperti yang dikatakan Budiman, pertemuan tersebut untuk menyatukan kaum nasionalis. Lebih penting lagi, mewujudkan persatuan Indonesia demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Keduanya menyebut ada tantangan berat ke depan, dampak perang dan lain sebagainya. Sehingga persatuan diperlukan. Ada juga tantangan di dalam negeri yang tak mereka sebutkan, yaitu bangkitnya kelompok kanan. Kelompok yang mencoba mendaur ulang politik identitas untuk berkuasa. Kelompok yang berkehendak mematahkan toleransi dan keberagaman. Bila kaum nasionalis tidak bersatu, kelompok kanan ini bisa saja berkuasa. Maka harus ada satu front persatuan dikalangan kaum nasionalis untuk membendung kebangkitan kelompok kanan. 

Kerjasama dengan “musuh” untuk mengalahkan musuh lain yang lebih gawat merupakan hal biasa dalam politik. Amir Sjarifuddin bekerjasama dengan Belanda untuk melawan Jepang. Ia mendapatkan 25 ribu gulden dari Belanda sebagai dana perjuangan. Sebagaimana hukum Marx, selalu ada dialektika dalam segala hal. Materi selalu bergerak dan berubah. Sikap politik juga seperti itu. Tidak bisa sikap politik seperti mistar, bila dibengkokkan akan patah. Sikap politik lebih seperti pohon bambu. Ia meliuk mengikuti perubahan arah angin agar tak patah. Dengan kata lain, ia mesti luwes.

Budiman dalam hal ini telah berani pasang badan. Selama ini ia dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap Orde Baru. Pertemuannya dengan senopati semasa Orde Baru tentu akan menimbulkan sikap kontra. Bisa jadi menghancurkan memori banyak orang tentang sosoknya yang pernah diterungku oleh Orde Baru. Bisa pula ia dianggap sebagai pengkhianat. Namun demi persatuan, ia mewakafkan dirinya untuk menerima segala bentuk reaksi dan konsekuensi. Ia ingin menyampaikan pesan bahwa tidak perlu terus menerus merebus dendam masa lalu. Sebuah rekonsiliasi perlu dilakukan untuk membangun bangsa ini. Dalam hal ini ia mesti dibela dari kesinisan para moralis. Dalam hal ini pula Budiman tujuh langkah lebih maju dibanding Adian Napitupulu.

Apa yang dilakukan Budiman sebetulnya mengikuti langkah Jokowi. Sejak semula Jokowi menggaungkan persatuan. Ia rekrut Prabowo dalam kabinetnya. Langkah seperti ini bahkan tidak disukai partainya sendiri, PDIP. Selama ini PDIP merupakan partai yang paling gemar memeram dendam. Dalam membangun koalisipun, PDIP pilih-pilih teman. PSI yang tegak lurus dengan Jokowi pun disepelekan dan dihambat masuk dalam koalisi. Jokowi tak seperti itu. Ia seperti bunga yang lebih senang mendatangkan banyak lebah. Ia tak pongah dalam berpolitik. Orang Jawa menyebutnya andhap asor.

Pengangkatan Nezar Patria sebagai wakil menteri, misalnya, merupakan simbol paling jelas dari Jokowi tentang persatuan. Sebagai orang Jawa, Jokowi hendak menyatakan bahwa yang “diculik” dengan yang “menculik” bisa bersatu dalam kuali kabinetnya. Bila mereka yang pernah berseteru bisa bersatu, tentu diharapkan bisa membuka persatuan yang lebih luas. Dan, Budiman meneruskan langkah Jokowi itu. 

Sebagai penutup, ada baiknya mengutip kembali kata-kata Gus Miek: “Seburuk apapun masa lalumu, masa depanmu belum ternodai. Kamu masih punya kesempatan mengisinya dengan lembar hitam atau putih.”

Dan kita tidak bisa menggadaikan masa depan Indonesia kepada para kaum moralis. 

*Penulis Ragil Nugroho, Aktivis 96

 

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru