Kamis, 21 September 2023

Niscaya Hidup Dalam Kekekalan

Oleh: Toga Tambunan*

KEMATIAN itu bagi manusia umumnya, dan terutama pakar sains, suatu peristiwa terjerumus ke dalam lorong tanpa akhir, buta arah, gelap pekat. Betapa ganjil fenomena organisme biologis sel dan energi manusia berhenti berfungsi padahal kebutuhan gizi sel mytokondria, jaringan DNA, jaringan RNA, enzym, dan berbagai sel lainnya terus lengkap disuplai.

Sudah ratusan juta orang lebih meninggal, dan sekarang pun tiap hari ribuan jenazah dimakamkan. Para pakar sains iptek algoritma AI paling mutahir tercanggih sekalipun secara kolektif, nihil memecahkan fenomena kematian itu. Tetap spekulatif. Sedang terhadap fenomena tsunami dahsyat atau adanya pusaran puting beliung 300 km/jam, para ilmuwan itu dengan metode saintifik, berupa akumulasi laboratorium, histori, dan test uji coba materil berhasil mempetakan fenomenal itu ke dalam sublimasi quadran matematis. Tidak demikian terhadap fenomena kematian yang terbujur diam.

Beberapa sejarahwan
atas prakarsa sendiri secara jujur, diantaranya Yosephus Flavius (37 SM – 100M) seorang Jahudi bukan pengikut Yesus, Tacticus (56 M – 120 M) seorang pejabat Senator Romawi, menulis bahwa Yesus bangkit sendiri dan hidup sebagaimana manusia umumnya, setelah tersiksa tersalib mati ditangan para algojo buas Romawi.

Para pakar iptek alih-alih peduli bahkan banyak yang tak mempercayainya kejadian Yesus hidup kembali setelah mati. Orang Kristen saja ada yang meragukan atau kurang meyakininya, barangkali. Maka para pakar iptek tak pernah merumuskan premis atas kejadian kebangkitan faktual Yesus tersebut.

Sekitar 67% populasi manusia di bumi (data World Population Review Februari 2023, penduduk bumi berjumlah 8.005.176.000) bukan orang Kristen, yang mungkin tak percaya Yesus hidup lagi setelah mati. Sejumlah 22,5% populasi manusia itu, tegas mengkampanyekan Yesus tidak mati disalib, melainkan tetap hidup, merujuk kitab yang dipercayai.

Data sejarah rekaman sejarahwan itu, apalagi yang hidup dimasa atau dekat masanya dengan kejadian, patutkah difungsikan pengkonfirmasi isi kitab yang dipercayai sabda Allah? Ataukah setidaknya berdampak merenungkan perlu tidaknya catatan data sejarah itu mengkonfirmasi benar tidaknya peristiwa yang disebut dalam teks kitab suci?

Arkeolog Ron Wyatt pada akhir 1988 menemukan di dasar laut Merah bangkai kereta dengan rodanya, tulang kuda, tulang manusia jadi bukti pengakui benar terjadi kissah pasukan Firaun Mesir mengejar bani Israel di zamannya, yang terdapat pada Taurat tulisan Musa tertera dalam Alkitab.
Begitu juga pada 1947 -1956 ditemukan di gua- gua Qumran sebelah barat Laut Mati gulungan perkamen dan papirus berasal dari abad 21 SM hingga sekitar tahun 500 SM membenarkan isi dan teks Septuaginta yang sudah ditulis tahun 300 SM -132M dan Vulgata yang ditulis tahun 382M.

Jika di waktu silam, eksegese Alkitab oleh pengkotbah bersandar literasi sosial budaya belaka mengulik isi Perjanjian Lama 2300-an lalu dan Perjanjian Baru 1700 lalu yang sudah beredar. Kini diakui benar terjadi, berhubung terkonfirmasi artefak-artefak sejarah ditemukan itu. Tidak ada lagi keraguan atas isi Alkitab.

Khusus kaum Saduki Jahudi terlibat langsung penyaliban mati Yesus yang memang tidak percaya tentang kebangkitan orang mati. Fakta Yesus bangkit itu menampar mereka, bukannya sadar, melainkan bersekongkol dengan elite synagoge menyogok uang ke warganya agar stop penyebar-luasan berita “subversif” itu.

Sedang kepercayaan lain tidak mempersoalkan kejadian itu, berhubung dalam konteks teks kepercayaannya itu, pada umumnya sudah eksis sebelum kejadian di Golgota dan kebangkitan Yesus.

Namun betapa pun besar manfaat temuan arkeologi itu terhadap kehausan rational iman, bagi pengikut Yesus, selamanya kontak transrasional dengan Allah itulah yang paling terutama mempercayai kebenaranNya, apalagi Rohkudus sudah langsung hadir melawat kita. Jangan mendewakan urgensi temuan arkeologi itu terhadap iman.

Sebenarnya bukan hanya Yesus mengalami hidup kembali setelah mati. Alkitab menuturkan beberapa peristiwa:

  1. Anak janda Sarfat (1 Raja-raja 17:17-22) oleh nabi Elia.
  2. Anak perempuan Sunem (2 Raja-raja 4:18-37) oleh nabi Elisa
  3. Seorang Israel, hidup lagi berhubung jenazahnya sengaja mengenai tulang Elisa yang berada di makam (2
    Raja-raja 13:21-22)
  4. Putra janda di Nain, oleh Yesus (Lukas 7:11-16)
  5. Putri Yairus oleh Yesus (Lukas 8:49-56)
  6. Lazarus oleh Yesus (Johanes 11:1-47)
  7. Tabitha atau Dorkas oleh Petrus (Kisah Para Rasul 9:36-42)
  8. Eutikhus oleh Paulus (Kisah Para Rasul 20:7-12)
  9. Saat Yesus mati disalibkan, ternyata banyak orang kudus bangkit dari kubur, menampakkan diri ke khalayak umum (Mateus 27:52-53)

Kejadian berulang faktual yang telah mati ternyata hidup kembali itu menghardik keras yang berpendapat kematian itu ajal kehidupan seperti disebut diawal. Kejadian faktual itu tidak selaras tradisi suku yang menangisi matinya seseorang dicintai atau yang diandalkan. Kecuali tangis bertobat menyesali diri tidak berbuat baik sebelumnya kepada almarhum(ah). Juga tidak selaras dengan memakamkan jenazah ke lubang di San Diego Karawang karena acara itu citra premis, disitu yang mati bertempat tinggal abadi. Ataukah membanggakan tidak seperti Yesus? Apa urgensi peti mati terukir cantik konsumsi mata, yang amat mahal? Yang mati itu toh bangkit lagi, tidak mempedulikannya!

Beberapa peristiwa hidup setelah mati tersebut diatas, bukti nyata melampaui akal manusia termasuk akal para pakar cendikiawan itu yang menyiarkan teori evolusi asal muasal manusia.

Kematian, memang semestinya ditinjau dari ketetapan Allah yang sudah dicanangkanNya sejak di awal hidup leluhur kita itu.

Allah menetapkan yang
tertulis dalam Kejadian 1:28-30 “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian”

Sejak semula Allah mendesain manusia itu hidup kekal, segambar serupa DiriNya yang Alfa Omega dan menganugerahi Adam & Hawa kemauan bebas dalam rohnya agar berbuat baik, melarang menyimpang, serta tanggungjawab merawat ciptaanNya.

Pada ketetapanNya itu, tidak ada phrase kematian atau usia terbatas Adam & Hawa, yang justru mengisyaratkan manusia itu hidup selama-lamanya. Dan ditugaskan menaklukan bumi, berarti juga terhadap Lucifer yang ketika itu sudah terbuang ke dunia.

Berikutnya paska kemauan Adam & Hawa menyimpang, terpikat tipuan licik Lucifer itu, Allah memproses hidup lanjutan leluhur manusia itu, diatur pada jalur lain yang wajib dilalui: “Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.”
(Kejadian 3:17-19)

Paska mengikuti kemauan licik Lucifer itulah, hidup pasangan Adam & Hawa ditakdirkan akan mati. Allah sebelumnya telah bertindak mengusir pasangan itu dari Taman Eden, ke dunia yang ditempati Lucifer terbuang lebih dulu.

Sejak terbuang dari Kerajaan Allah ke dunia, Lucifer merekayasa kerajaannya di angkasa, melawan tindakan Allah memusnahkannya yang kita sebut Kontradiksi Prima. “Aku akan bangkit melawan mereka,” demikianlah firman TUHAN semesta alam, “Aku akan melenyapkan nama Babel dan sisanya, anak cucu dan anak cicitnya,” demikianlah firman TUHAN. “Aku akan membuat Babel menjadi milik landak dan menjadi air rawa-rawa, dan kota itu akan Kusapu bersih dan Kupunahkan,” demikianlah firman TUHAN semesta alam” (Yesaya 14:22-23).

Kerajaan Babel itu simbol fisikal terjahat untuk Lucifer yang keberadaannya adalah roh paling terjahat.

Rasul Paulus mengingatkan kematian manusia itu: “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka”
(Efesus 2:1-2)

Meski kemuliaan Allah meninggalkan manusia itu, dan menghukum keras leluhur manusia, sehingga nantinya akan kembali ke debu tersebut, namun perihal gambarNya yakni komponen seperti terdapat dalam PribadiNya tetap ada (organis), berfungsi dan dibawa Adam & Hawa ke tempatnya terbuang di dunia. Diantaranya potensi berkemauan bebas pada roh manusia itu.

Dalam kondisi dipecundang Lucifer, Allah senantiasa mengasihi manusia dengan KasihNya tak berkesudahan. Akses ke surga tetap terbuka bagi umat manusia selaku warga sorgawi terbuang di dunia. Meski berdosa, manusia itu potensil jadi warga surgawi yang keberadaannya niscaya kekal .

Yesus menegaskan langsung: “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal . Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” (Yohanes 3:14-18)

Bapa Surgawi sengaja mengutus Yesus hadir di dunia, mengambil rupa seutuhnya manusia, rela korbankan DarahNya demi menebus manusia berdosa itu, agar tiap orang berkemauan menegasi atas negasi Lucifer terhadap Allah, dalam diri masing-masing, memutasi kemauan agar mengejar kekudusan, tak bercacad tak bercela dalam pandangan Allah. Kemauan berperan sedemikian itu telah mengakomodasi Rohkudus yang menginsyafkan manusia terlibat turut melawan Lucifer.

Materi pengetahuan demikian itulah tidak terdapat dalam akal iptek pakar sains dampak ditipu licik Lucifer. Betapa pandir bodohnya kemauan para pakar sains berpredikat cendikiawan tersebut.
Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup” (Yohanes 5:25)

Orang yang mengakui dengan mulut dan percayai dengan hatinya bahwa Yesus itu Tuhan serta berjuang meraih predikat tak bercacad tak bercela, kelak akan hidup kekal bertemu muka tatap muka, dengan Tuhan Yesus di Langit Baru Bumi Baru abadi.

Orang yang berkemauan tetap setuju turut pengingkaran Lucifer terhadap Allah juga niscaya kekal berada di neraka (hades) yaitu kekal dibakar dalam api belerang tak pernah padam seperti tertulis “Wahyu 14:10: maka ia akan minum dari anggur murka Allah, yang disediakan tanpa campuran dalam cawan murka-Nya; dan ia akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba” Camkan!

Haleluya. Selamat hari minggu.

Bekasi, 23 Juli 2023

*Penulis Toga Tambunan, evangelis Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,560PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru