Sabtu, 24 Februari 2024

Ma, What Is A Communist ?

Salah seorang Pemrakarsa sekaligus Pendiri FSAB (Forum Silahturahmi Anak Bangsa ) yang patut dicatat paling pagi menyadari perlunya berdamai dengan diri sendiri dan pihak lawan adalah Nani

Nani Nurrachman, putri Pahlawan Revolusi,  Mayjen  TNI (anumerta)  Sutojo Siswomihardjo, yang gugur pada subuh 1 Oktober 1965 dalam Peristiwa G-30S. Enam perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya diculik-dibunuh secara keji dalam upaya kudeta G-30S yang kemudian dituduhkan kepada PKI.  Kudeta yang gagal itu disusul penangkapan-penahanan-pembunuhan tanpa pengadilan terhadap para pemimpin PKI dan mereka yang dituduh antek-anteknya.

Nani menyandang gelar doktor ilmu psikologi dari Univeritas Indonesia  (UI) dan menjadi dosen di almaternya. Setelah pensiun sebagai pegawai negeri ia menjadi dosen di Universitas Katolik (Unika) Atmajaya. Ia menikah dengan Nurrachman Oerip, diplomat yang karier puncaknya sebagai Wakil Kepala Perwakilan  RI di Rusia dan kemudian Duta Besar RI di Kamboja.

Media massa kerap memberitakan sosok  Nani  “sudah berdamai dengan konflik” masa lalu, hal yang dinilai oleh berbagai pihak luar biasa. Ia banyak memberikan perhatian pada rekonsiliasi dari sisi psikologi bagi korban kekerasan politik di tingkat individual dan sosial, khususnya terkait G30S. Kegiatan itu membawa Nani banyak berhubungan dengan keluarga korban dari kelompok yang didefinisikan sebagai “pihak yang kalah”, yang bersifat substansial antarmanusia yang puluhan tahun dipisahkan oleh identitas politik warisan. 

Tentu, sikapnya yang demikian tidak serta merta terjadi dalam sekejap.  Ada pergumulan nalar dan rasa selama puluhan tahun memeroleh makna kehidupannya. Antara 1981-1985 ia tinggal di New York mengikuti tugas suaminya, tahun-tahun yang merupakan periode pengembangan wawasan yang intens. Suatu hari ia menonton televisi yang menayangkan dampak Perang Dunia II terhadap korban, terutama orang Yahudi. Ia tersentak. Nani bercerita, waktu  mereka ke luar dari kamp konsentrasi, tak ada yang memikirkan dampak psikologisnya yang mendalam. Untunglah,  para psikolog dan psikiater berhasil mendeteksi dampak psikologis yang begitu besar, baik secara individual maupun sosial karena jumlah mereka tidak sedikit. Film kedua yang dia saksikan berjudul Killing Field. Di film itu, muncul istilah post-traumatic stress disorder (PTSD, gangguan stres pasca-trauma), berkaitan dengan gejala yang terdeteksi pada korban Perang Dunia II dan efek Perang Vietnam. Dua tontonan itu menyadarkan dirinya tentang satu hal : Indonesia. 

Tetangga sebelah yang juga pemilik rumah tempat Nani dan keluarga menyewa rumah itu korban holocaust Perang Dunia II. Dia bisa ke luar dari kamp konsentrasi, tapi seluruh keluarganya habis.

“Tato nomor di lengannya mengingatkan bahwa suatu saat kita bisa saja hanya tinggal nomor tanpa nama. Saya tersentuh. Bagaimana dia bisa bertahan dengan realitas itu dan menikmati hidupnya? Saya pikir saya harus mendapatkan sesuatu dari dia untuk menyelesaikan apa yang “belum selesai” di dalam diri saya, menangkap adanya kekuatan di luar ketahanan fisik dan mental psikologis seseorang yang bisa membawa ke luar dari perangkap penderitaan.”

Sepulang dari Amerika  tahun 1986, anaknya yang berumur 8 tahun menyaksikan film G30S yang diputar setiap tahun. Usai menonton ia bertanya, “Ma, what is a communist? Was it them who killed Eyang Toyo?” Nani terhenyak. 

Pikirannya berputar mencari jawaban secara arif dan tepat yang dapat memuaskan anak berusia 8 tahun, tapi tak berhasil. ”Terus terang saya katakan kepada anak saya, pertanyaan itu sukar dijawab dan saya berjanji suatu waktu akan saya jawab,” kata Nani.

”Bagaimana saya bisa menjawab bila belum selesai dengan gejolak perasaan dan pergulatan batin yang masih berlangsung? Jika saya bisa menjawab dengan baik, dan kesempatan itu saya akui terbuka bagi saya yang termasuk golongan yang menang, kelompok yang benar, lalu bagaimana saya bisa menjawab bila saya meletakkan diri dalam posisi ibu-ibu yang kedudukannya berlawanan? Bisakah saya menjawab dengan mudah? Tentu tidak! Di sini pengakuan dan penghargaan saya terhadap ibu-ibu dari kedudukan yang berlawanan mulai berkembang: daya tahan, kemauan, kesabaran mereka mengarungi kehidupan pasca tragedi. Saya menyadari  bahwa kepahlawanan tidak diturunkan sebagaimana  kesalahan atau dosa politik orangtua tidak diwariskan. Allah Swt tidak demikian mudahnya menentukan suratan takdir manusia ciptaannya.”

Nani tak mau berbicara apa pun tentang PKI kepada anak-anaknya dengan beberapa alasan. Jika ia  menjelaskan yang satu, maka harus menjelaskan kelompok-kelompok ekstrim lainnya supaya mereka bisa hidup dengan nyaman menghadapi perubahan sosial. Bagaimana pula kalau dalam perjalanan hidup mereka nanti bertemu orang yang menjadi sahabat bahkan pacar yang berasal dari kelompok itu? Apakah pembagian “menang-kalah” harus terus berlangsung?  

Atas pertanyaan tersebut, dia memeroleh jawaban.  ”Kehidupan kami saja yang diberi gelar keluarga Pahlawan Revolusi tidak selalu menyenangkan. Ada sisi penderitaan yang harus kami hadapi, perasaan, pikiran, dan keseimbangan di antara keduanya. Bagaimana dengan mereka yang lebih buruk keadaannya? Kita sebenarnya berada dalam tataran yang sama, di dalam pergulatan nalar akibat tragedi itu. Terngiang perkataan guru besar saya, Prof. Slamet Imam Santoso, membuat saya sadar mempunyai tanggung jawab moral dalam melangsungkan kehidupan masyarakat tanpa menurunkan rasa benci dan dendam. Saya ingin ada nilai moral yang saya tanamkan yang menjadi landasan yang bisa dikembangkan sehingga ia tumbuh sebagai manusia berkarakter. Secara reflektif saya memikirkan itu terus, kemudian terakumulasi.”

Pada September 2000, Nani diundang ke Leuven, Belgia, menghadiri forum sarasehan “Mawas Diri Peristiwa September 1965″ yang diselenggarakan mahasiswa Indonesia setempat.  Diundang pula para tokoh penegakan HAM internasional dari London,  Jerman,  Perancis, juga mantan Tapol dan keluarganya yang berminat hadir. Dia bersedia hadir dalam acara itu lantaran diminta mahasiswa. Mereka tidak sekedar berdiskusi, tapi benar-benar ingin memahami peristiwa itu dari perspektif pelaku-pelakunya. “Saya anggap pemikiran mereka kritis dan objektif, tidak mengotak-kotakkan korban sebagai yang menang dan yang kalah.”

Di Belgia itu Nani ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia sudah benar-benar “selesai”.   Ia berhadapan langsung dengan para mantan Tapol, anak-anak  tokoh PKI, dan aktivis HAM. Sebagai pembicara ia mengungkapkan pergumulan batinnya secara terbuka sebagai anak korban, pihak yang didefinisikan sebagai “pemenang”.

Baginya suatu tragedi adalah pergumulan nasib yang tak dapat dimenangkan, takkan pernah berlalu karena peristiwanya selalu diingat, tapi ada hikmah yang dapat ditemukan dari perspektif waktu yang tepat.  Seseorang yang sebelumnya melemparkan pertanyaan-pertanyaan emosional, menghampiri Nani dan menangis tersedu-sedu. Nani menemukan Leuven menjadi semacam “titik balik” untuk membuka kemungkinan memulai proses rekonsiliasi.

Atas permintaan wartawan koran Tempo, Nani membuat tulisan yang menimbulkan simpati banyak pihak, memberikan pencerahan dan penyadaran untuk menyikapi dan mengatasi diri sebagai korban konflik yang menimbulkan dendam berkepanjangan. 

 

*Artikel ini ditulis oleh Bernada Triwara Rurit, Nina Pane dan Stella Warouw dalam buku kumpulan tulisan yang berjudul The Children Of War oleh Forum Silahturahmi Anak Bangsa (FSAB) yang di terbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, Juni 2013. Dimuat Bergelora.com atas seijin penulis.

 

 

 

 

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru