Jumat, 24 April 2026

MAKIN KALAP NIH…! G7 Janjikan Bantuan 32 Miliar Dolar AS, Ukraina Makin Kritis

JAKARTA – Para menteri keuangan dari Kelompok Tujuh negara industri (G7) pada Kamis berjanji untuk memberikan dana bantuan hingga 32 miliar dolar AS (sekitar Rp498,3 triliun) pada 2023 untuk membantu Ukraina menghadapi operasi militer khusus berkepanjangan Rusia.

Para menteri keuangan yang bertemu secara daring itu mengatakan G7 tetap “berkomitmen kuat untuk menangani kebutuhan mendesak pembiayaan jangka pendek untuk Ukraina,” menurut sebuah pernyataan.

Bantuan senilai 32 miliar dolar AS itu akan memungkinkan Kiev untuk melanjutkan pengiriman layanan dasar, melakukan perbaikan untuk kebutuhan paling kritis dan menstabilkan ekonomi, kata para Menkeu G7.

Dana bantuan tersebut juga sudah mencakup 19 miliar dolar AS dari Uni Eropa.

Sementara itu, menteri luar negeri G7 mengkritik Rusia karena telah menyerang fasilitas energi dan infrastruktur di Ukraina. Para menlu G7 pun sepakat untuk meningkatkan dukungan untuk membantu Ukraina bertahan di musim dingin yang keras, menurut sebuah pernyataan.

Serangan besar-besaran yang disengaja oleh Rusia, dengan menggunakan rudal dan pesawat nirawak dari Iran, “telah membuat jutaan orang Ukraina menderita kegelapan dan suhu musim dingin,” kata pernyataan Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock.

Jerman menjadi tuan rumah pertemuan virtual tingkat menteri G7 sebelum rotasi kepresidenan G7 berpindah ke Jepang pada Januari.

Kelompok G7 beranggotakan Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Amerika Serikat, ditambah Uni Eropa.

Menteri Luar Negeri Jepang Yoshimasa Hayashi pada pertemuan itu menekankan bahwa penting bagi G7 untuk memperkuat kerja samanya karena operasi militer Rusia ke Ukraina sudah berlarut-larut, menurut keterangan Kementerian Luar Negeri Jepang.

Tidak Bermoral

Ketua Komite Persahabatan Indonesia Rusia, Joko Purwanto menanggapi bantuan itu mengatakan bahwa negara-negara G7 sangat tidak bermoral menggunakan rakyat Ukraina menjadi umpan peluru Rusia demi ambisi mengalahkan Rusia dalam perang Ukraina.

“Mereka tidak perduli dampak perang tersebut pada krisis global yang harus dipikul oleh rakyatnya sendiri dan masyarakat international,” tegasnya.

Joko Purwanto juga menyoroti Amerika Serikat yang gelontorkan pinjaman Rp31 triliun (US$2 miliar) ke Ukraina untuk hadang militer Rusia.

Pinjaman Rp31 triliun, untuk memasok sistem rudal patriot, sebagaimana hasil pertemuan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenzky dan Presiden Amerika Serikat, Josef R Biden.

Pertemuan dua hari di Washington dengan Anggota Kongres dan Josef R Biden, 21 – 22 Desember 2022, mencakup peluncur rudal patriot untuk membantu Kiev, Ukraina.

Kunjungan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, diatur secara rahasia hingga rinciannya muncul pada Selasa malam, 20 Desember 2022, berlangsung selama beberapa jam.

Momen Kritis Ukraina

Menurut Joko Purwanto, pengiriman satu sistem rudal patriot oleh Amerika Serikat ke rejim Kiev, Ukraina, tidak akan memberi dampak taktis apapun.

“Apalagi dampak operasional dan strategis bagi pasukan Rusia,” ujar Joko Purwanto.

Ia menjelaskan, pertama,– dari sisi operasional pertempuran, sistem rudal patriot tidak akan muncul di Kiev dalam minggu depan atau bulan depan.

Sementara dalam 1-2 bulan ini adalah momen kritis bagi pasukan Ukraina dan bagi kemampuan untuk melanjutkan perang.

Bachmut meatgrinder, penggiling daging Bachmut setiap hari memberi dampak kehancuran batalyon demi batalyon dari pasukan Ukraina. Pasukan yang bertahan dan sisa-sisa unit cadangan yang terus dikirim ke Bachmut.

Kedua, rudal patriot adalah sistem pertahanan anti udara yang kompleks terdiri dari 8 kendaraan peluncur dengan masing-masing peluncur memuat 4 tabung rudal pencegat. Dengan kendaraan pendukung (radar) dan sebagainya ini adalah situs militer yang tidak kecil dengan puluhan kendaraan.

“Melibatkan 90 personel untuk mengoperasikan sistem kompleks ini. Pelatihan 1-2 bulan untuk personel tidak akan memadai.Kecuali personel militer Amerika Serikat sendiri yang harus mengoperasikan untuk kebutuhan cepat,” katanya.

Ketiga, Joko Purwanto menjelaskan, pasukan Rusia dengan keunggulan kompleks C4-ISR tidak akan kesulitan untuk melacak, menemukan dan menghancurkan sistem rudal patriot.

“Apa lagi rudal kinzhal dan iskander, Rusia, rudal hipersonik belum ditemukan senjata penangkalnya, sebagaimana diakui sendiri Amerika Serikat,” ujar Joko Purwanto.

“Sistem ini pada dasarnya tidak sangat mobile, Anda membutuhkan waktu puluhan menit untuk menyiapkan, dan puluhan menit berikutnya untuk memindahkan dan menyembunyikan setelah pengoperasian,” paparnya.

Dengan kemampuan pelacakan citra satelit, drone pengintai, perangkat peperangan elektronik, dan jaringan intelejen Rusia di Kiev, Ibu Kota Ukraina, tidak akan membutuhkan waktu lama untuk menemukannya.

“Ini adalah target bernilai tinggi bagi Rusia, bukan karena dampak taktis, operasional dan strategisnya di medan tempur, tapi kehancuran sistem ini akan menghancurkan ilusi dan melemahkan motivasi bagi koalisi barat yang sudah dekade demi dekade menelan propaganda glorifikasi dari keunggulan sistem Patriot ini,” ujar Joko Purwanto.

Keempat, ada banyak opsi untuk penghancuran rudal patriot. Dengan rudal Kinzhal, Rusia, hanya dibutuhkan satu rudal untuk menghancurkan.

Pentagon sendiri mengakui tidak mempunyai senjata pencegat yang bisa mencegat rudal hipersonik ini. Atau dengan metode yang lebih hemat biaya cukup mengirim 40-an dronne Geranium.

Dengan 8 peluncur dan 32 tabung rudal, asumsikan saja hit-nya 100% akurat. Dengan meluncurkan 40 Geranium, 32 sebagai umpan, 8 sisanya akan melenyapkannya.

“Matematika militernya akan terlihat sangat buruk,” ujar Joko Purwanto.

Geranium dengan harga satuan 20 – 30 ribu dolar menghancurkan sistem seharga 500-700 juta dolar, dengan harga satuan rudalnya sendiri 3 juta dolar.

“Rusia juga bisa menembakkan rudal decoy untuk melacak dan menemukannya,” ujar Joko Purwanto.

“Reputasi nyata dari sistem rudal patriot sendiri tidaklah menggembirakan,” ujar Joko Purwanto.

Kalah Lawan Scud

Menurut Joko Purwanto, rudal patriot terbukti tidak mampu menjatuhkan rudal scud (Rusia) yang ditembakkan Irak ke Saudi dan Israel dalam Perang Teluk, Timur Tengah.

Malah rudal patriot menembak jatuh pesawat sendiri dalam invasi ke Irak tahun 2003. Setidaknya satu F-18 Hornet sendiri dan satu pesawat tempur Tornado Inggris tertembak oleh rudal patriot sendiri.

Joko Purwanto juga mengingatkan keberhasilan yang rendah dalam menjatuhkan serangan drone dan rudal Houthi (Yaman) yang ditembakkan ke Arab Saudi.

Sistem pertahanan udara rudal patriot, punya sejarah panjang dan digunakan dalam berbagai aksi militer Amerika Serikat.

Singkatan dari “Phased Array Tracking Radar to Intercepct of Target”, sistem misil darat ke udara dikembangkan konglomerat antariksa dan pertahanan Amerikat Serikat, Raytheon, sejak 1960-an.

Mulanya sistem rudal pariot dikembangkan untuk menangkis pesawat tempur yang terbang tinggi. Namun, pada tahun 1980-an dimodifikasi untuk menangkal ancaman baru di era itu, yakni misil balistik taktikal.

Raytheon menegaskan, akan terus memperbaiki dan mengembangkan sistemnya agar tetap aktual, paling tidak hingga tahun 2048.

Scud adalah serangkaian rudal balistik taktis yang dikembangkan Union of Soviet of Socialist Republic (USSR) selama Perang Dingin.

Rudal balistik taktis telah diekspor secara luas ke negara-negara lain, khususnya negara-negara dunia ketiga. Indonesia sendiri pernah tertarik membelinya pada tahun 1992.

Istilah ini berasal dari pelaporan nama North Atlantic Treaty Organization (NATO) Scud yang melekat pada rudal oleh badan intelijen Barat.

Nama-nama Rusia untuk rudal adalah R-11 (versi pertama), R-17 dan R-300 Elbrus.

Nama Scud telah banyak digunakan untuk merujuk pada rudal dan berbagai varian derivatif yang dikembangkan di negara lain berdasarkan desain USSR.

Apalagi melawan rudal jelajah Kalibr, Rusia, dengan profil terbang rendah dan dapat bermanuver atau rudal Iskander, Rusia, yang membawa decoy dalam bagian rudalnya.

“Melawan rudal hipersonik: kinzhal, kalibr dan iskander, Rusia? Ah…sudahlah. Sistem rudal patriot tidak ada apa-apanya dibanding rudal hipersonik Rusia,” ujar Joko Purwanto. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles