Sabtu, 24 Februari 2024

Memasuki Minggu Adven 3: Belajar dari Maria Walanda Maramis

“Perempuan adalah tiang keluarga. Di pundak Perempuan inilah tergantung masa depan anak anak” (Maria Walanda Maramis)

Oleh: Victor Rembeth*

TRADISI Masa Adven adalah periode persiapan menuju peringatan Hari Raya Natal. Biasanya, masa Adven berlangsung selama empat minggu sebelum Natal, mulai pada hari Minggu dekat akhir November sampai satu hari sebelum peringatan Natal. Inilah saatnya mempersiapkan diri secara spiritual memasuki masa raya Natal.

Bukanlah suatu kebetulan dalam memperingati Minggu Adven ketiga di tahun 2023 ini kita juga merayakan Hari Perempuan Nasional, yang kerap disebut sebagai Hari Ibu yang jatuh pada setiap tanggal 22 Desember.

Minggu ketiga Adven dinamakan Gaudete yang mana di tengah masa persiapan yang bersifat prihatin dan bekontemplasi itu, Gereja memberikan “break” (istirahat) dan mengajak umat bersukacita.

Sukacita menjelang Natal sangat bisa dipadupadankan dengan hadirnya para Perempuan memaknai kisah keluarga, gereja dan negeri ini seperti digagas oleh para Perempuan Indonesia yang berkongres pertama pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta.

Ketika Adven ketiga dimaknai sukacita, maka ada dua atau bahkan tiga Perempuan yang menggambarkan sukacita yang sejati. Ada Elizabeth yang sudah divonis mandul, tanpa anak bertahun, namun dilawat malaikat Allah menjadi ibu dari Yohanes Pembaptis. Ada juga Maria, Perempuan muda yang dipilih Allah menjadi bunda sang Mesias, sampai dalam nyanyiannya ia menyatakan,

“hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku”.

Yang ketiga ada seorang Nabiah yang menantikan sang anak perjanjian, dan karena sukacitanya, Hana, mengabarkan kepada semua yang ia jumpai kisah pertemuannya dengan sang bayi Natal di bait Allah.

Sukacita yang sama, dapat kita rasakan ketika para Perempuan menjadi ibu dari masa depan bangsa dan umat manusia. Kutipan dari pahlawan nasional Maria Walanda Maramis diatas sangatlah tepat. Perempuan bukan menjadi sekedar pelengkap, tapi tokoh utama dalam membangun keluarga, gereja dan bangsa.

Masa depan umat manusia bertumpu pada peran para Perempuan. Kisah Natal yang terwakili dalam Elisabeth dan Maria adalah kisah para Perempuan yang menghasilkan tokoh kunci dalam perbaikan persoalan umat manusia yang melampaui waktu dalam kekekalan.

Bagi gereja di Indonesia, Adven Gaudete bertema sukacita yang dirayakan dengan membakar lilin merah muda (pink) adalah sebuah desain Allah untuk peran gereja menyampaikan pesan kunci Natal yang memberi penghargaan sempurna kepada peran Perempuan.

Salah satu putri gereja yang dipakai Allah untuk menjadi suluh pembawa sukacita untuk pemberdayaan perempuan adalah Maria Maramis. Sejak 6 tahun ia telah menjadi yatim piatu, ia hidup dalam perjuangan kehidupan yang sulit. Sampai akhirnya ia bertemu dengan rohaniwan Belanda Pendeta Ten Hoove dan istri.

Maria dan Pendeta Ten Hoove berdiskusi tentang keadaan perempuan di Sulawesi Utara saat itu. Iapun sadar akan keadaan wanita Minahasa yang tertinggal dibandingkan perempuan Belanda di bidang Pendidikan di awal 1900-an.

Di Minahasa banyak putri yang cukup pintar untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi lagi, namun terbatas oleh adat dan biaya pendidikan.

Ia dan beberapa temannya mewujudkan mimpinya mendirikan sebuah organisasi yang berusaha memajukan pendidikan perempuan dalam sebuah organisasi yang diberi nama ‘Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya’ (PIKAT) pada 8 Juli 1917.

Maria juga berjuang demi emansipasi perempuan di Minahasa dalam pemilihan umum. Pada tahun 1919, sebuah badan perwakilan dibentuk dengan nama Minahasa Raad. Hanya laki-laki yang bisa menjadi anggota pada waktu itu, tetapi ia gigih agar perempuan juga memilih wakil yang duduk di dalam badan perwakilan tersebut.

Usahanya berhasil pada tahun 1921 di mana keputusan datang dari Batavia yang memperbolehkan Perempuan memberi suara dalam pemilihan anggota-anggota Minahasa Raad. Untuk pertama kali dalam Sejarah bangsa Perempuan memiliki hak demokrasinya.

Kembali kepada Gaudete yang membuat kita berhenti sejenak dalam saat meditasi hening adven ketiga dalam momen sukacita. Saatnya kita bersukacita dengan hadirnya Perempuan dalam kisah Natal, Sejarah bangsa dan sudah tentu dalam kehidupan keluarga dan Gereja. Pemimpin bangsa, rohaniwan dan semua tokoh hanya bisa kuat dan hadir karena ada Perempuan. Dan hanya mereka yang menghargai Perempuan yang dipakai Tuhan sesuai kehendakNya.

Terima kasih Maria Walanda Maramis, sukacita Elizabeth, Maria ibu Yesus dan Nabiah Hana akan terus menjadikan kita mampu bertahan dan Tangguh berbagi sukaciat kepada semua dalam situasi ketidakpastian.

Selamat menyalakan lilin Adven ketiga “Gaudete in Domino semper: iterum dico, gaudete. Dominus enim prope est.”

*Penulis Pdt Victor Rembeth, aktivis kemanusiaan

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru