JAKARTA – Komando Tinggi Militer Venezuela pada hari Minggu (4/1) secara resmi mengakui Delcy Rodriguez sebagai presiden sementara negara itu, menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh pasukan AS.
Transisi yang bertujuan untuk menjaga kesinambungan kedaulatan tersebut terjadi ketika komunitas internasional terguncang oleh serangan mengejutkan pasukan AS terhadap ibu kota Venezuela, yang dikecam sebagai tindakan terorisme yang didukung negara.
Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino menyampaikan pengumuman tersebut melalui televisi nasional, mendukung putusan Mahkamah Agung yang menunjuk Rodriguez sebagai pemimpin sementara selama 90 hari.
Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, Senin (5/1), Padrino menggambarkan serangan itu sebagai “penculikan yang pengecut”. Ia mengungkapkan pengawal keamanan Maduro dibunuh “dengan kejam” bersama personel militer dan warga sipil selama serangan Amerika.
“Negara harus mengikuti jalur konstitusionalnya,” kata Padrino seperti dikutip Press TV, menyerukan rakyat Venezuela untuk melanjutkan kegiatan ekonomi dan pendidikan sebagai bentuk perlawanan terhadap kekacauan yang direncanakan Washington.
Meskipun jumlah korban tewas resmi akibat pengeboman AS belum ditetapkan, pihak berwenang mengkonfirmasi bahwa serangan tersebut menargetkan jantung Caracas, melanggar semua norma hukum internasional.
Ancaman Washington
Tak lama setelah transisi diumumkan, Presiden AS Donald Trump beralih dari sikap diplomasi ke intimidasi terbuka.
Trump mengancam Rodriguez akan membayar “harga yang sangat mahal” jika dia menolak untuk menyerahkan kedaulatan Venezuela kepada kepentingan Amerika.
Trump sebelumnya mengindikasikan bahwa Rodriguez adalah tokoh yang dapat diajak bekerja sama oleh Washington.
Sementara para pejabat AS mencoba untuk membenarkan penangkapan tersebut dengan menggunakan dakwaan “perdagangan narkoba” di pengadilan New York, pemerintahan Trump secara bersamaan mengakui motif sebenarnya: akses ke cadangan minyak mentah Venezuela yang sangat besar.
Setelah serangan Sabtu pagi, yang melibatkan lebih dari 150 pesawat AS, Mahkamah Agung Venezuela bergerak cepat menunjuk Rodriguez sebagai pengganti sementara Maduro guna memastikan “kontinuitas administrasi.”
Serangan itu dipandang oleh Caracas sebagai upaya terbaru dan paling kejam dalam kampanye AS selama satu dekade untuk menggulingkan Revolusi Bolivarian.
Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Sabtu malam, Rodriguez menuntut pembebasan segera Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang diterbangkan ke fasilitas penahanan AS di New York.
Rodriguez menggambarkan operasi tersebut memiliki “nuansa Zionis”, yang menunjukkan keterlibatan strategis atau pengaruh taktis pasukan rezim Israel dalam agresi Amerika.
“Pemerintah dunia terkejut bahwa Republik Bolivarian Venezuela menjadi korban serangan seperti ini,” kata Rodriguez. (Web Warouw)

