Senin, 15 April 2024

Natalius Pigai Antara Prabowois, Insting Politik, dan Mata Batin

Oleh: Thomas Suwarta *

SAYA mengenal dan selalu bersama Pigai sejak 2009. Sejak itu pula Pigai tahu para pemenang Pilpres. Namun Pigai memilih jalan oposisi bersama Prabowo Subianto.

Pigai memang pencinta Prabowo, boleh dikatakan penganut “Prabowoisme”.

Pigai jadikan para Presiden hanya sebagai reklame untuk mengangkat namanya ke-seantero republik.

Pada Desember 2022 di kampung Saya di Pagal, Manggarai sepulang dari Doa Rosario di Gereja jam 1 pagi, kata Pigai: “Thomas Bapak Saya Prabowo akan jadi Presiden lawan Ganjar dan Anies. Anies urutan kedua dan jagoanmu Ganjar hanya berasa di urutan ketiga saja.

Bayangkan bagaimana Pigai bisa lebih tahu mereka akan bertarung dan mengetahui pemenangnya seperti yang diutarakannya?

Tapi itulah seorang Pigai yang memiliki insting dan politik mata batin, seorang Pencinta Bunda Maria.

Iya Natalius Pigai. Namanya tiba-tiba mencuri perhatian publik sejak menjadi Komisioner Komnas HAM RI 2012 – 2017. Putra Provinsi Papua Tengah ini sebelumnya menimba ilmu di Yogyakarta tepatnya di Program Studi Ilmu Pemerintahan Desa, lalu mengasah pengetahuan tentang Ilmu Statistik di Universitas Indonesia yang membuat dia saat ini sangat ketat dengan data.

Sertifikat penyidik juga telah dia miliki saat mengikuti kursus medium di Amerika Serikat.

Saat dirinya tercatat sebagai ASN di Kementerian Tenaga Kerja setelah sebelumnya menjadi Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja di usia yang relatif muda di era Menaker saat itu Al Hilal Hamdi dan Jacob Nuwa Wea, Bung Pigai yang bergenetik aktivis ini justru memilih pensiun dini.

Ada sedikit cerita saat di Yogyakarta, di tengah susahnya biaya kuliah, makan-minum dan kos, dia memilih menghabiskan banyak waktu di Perpustakaan Universitas Sanata Dharma yang membuat juga dia banyak berinteraksi dengan Imam-Imam Jesuit.

Bicara membaca buku, jadi makanan harian dia. Dan memang ibarat ensiklopedia berjalan, Natalius sangat mampu menjelaskan pengetahuan sejarah baik dunia maupun Indonesia dengan sangat baik.

Cerita ekspansi Kerajaan Romawi hingga Persia yang menaklukan Asia hingga Sungai Indus, Yunani, dan Afrika Utara termasuk wilayah yang sekarang menjadi Mesir dan Libya, bisa dijelaskan dengan sangat detil.

Saat iru saya selalu bilang : He’s an man of idea karena ada saja gagasan out of the box yang keluar dari kepalanya.

Jadi jangan tanya soal urusan tenaga kerja, Bung Pigai fasih luar dalam dari mulai hulu ke hilir. Apalagi soal Hak Asasi Manusia (HAM) dia lalap habis terkait hal tersebut.

Di publik selama 15 tahun terakhir, Pigai tampak sebagai tokoh kontroversial; dianggap senang memancing riak-riak dan kegaduhan.

Tone yang dia mainkan terkadang tinggi, sedang atau menengah. Lalu apa alasan sengaja dia mainkan untuk menarik perhatian publik.

“Itu rahasia hidup untuk orang yang datang dari kampung masuk belantara Ibu Kota seperti Jakarta,” ungkapnya.

“Kamu harus punya sasaran tembak orang kuat jika kamu ingin dikenal.” Begitu selalu dia bilang.

Dan sejak itu dia memilih lawan tanding bukan kaleng-kaleng. Tak tanggung-tanggung Presiden SBY di periode keduanya jadi sasarannya. Dan Presiden Jokowi selama 10 tahun terakhir, dia jadikan sasaran kekritisannya.

Nama-nama seperti Luhut Binsar Panjaitan, AM. Hendroprriyono, Sri Sultan HB XI, Ganjar Pranowo, Tito Karnavian dan masih banyak lagi lainnya pernah ‘diselepet’ Natalius.

Di permukaan memang terkesan “Si Bung Besar” ini mencari musuh? Tentu saja tidak. Dia semata ingin mencari lawan tanding untuk kemudian bersanding.

Dan dia tegaskan, nothing’s personal dengan tokoh-tokoh itu. Dia sangat mampu membatasi diri untuk tidak masuk pada wilayah-wilayah personal.

Dia dicaci, diumpat, dimaki-maki, dapat serangan ‘rasis’ hingga laporan polisi berkali-kali, katanya itu diterimanya sebagai vitamin alias suplemen agar tetap sehat dan bugar. Ibarat jadi bumbu kehidupan. Dia tak terbang saat dipuji, tak tumbang ketika dicaci.

Saya bilang kepada orang bahwa Natalius Pigai ini unik. Kami bersahabat sejak kurang lebih 15 tahun lalu. Saya bertanya-tanya : apa rahasia kawan ini? Apa rumus kehidupan kawan ini?

Saya ketemu pada mata batinnya. Mata batinn koya adalah kekuatannya. Mulutnya ‘bertuah’ karena keluar dari ketajaman ‘mata batinnya.’

Dia tak pandai berbasa-basi tetapi tulus dalam berteman. Tak pandai berpura-pura tetapi sangat mampu berbela rasa.

Juga tak gentar jika itu benar. Menyampaikan kebenaran memang bikin kuping panas bukan kepalang? Hal yang dianggap tabu, tidak bagi Natalius sejauh itu benar. Dia memang penganut Prabowoisme.

Mata batinnya tajam melihat sisi gelap dan terang, salah dan benar yang kemudian mengantarkannya pada keteguhan hati dia. Jangan tanya soal jiwa petarung; itu pun bersumber dari kekuatan ‘mata batinnya.’

Oh iya, dia satu di antara proses kelahiran yang terbilang langka di dunia yang oleh ilmu pengetahuan dikenal dengan kelahiran en caul, yaitu bayi yang lahir masih berada dalam kantung ketuban yang utuh.

Menurut Evidence-Based Med Healthcare 2021, kelahiran bayi dengan kondisi en caul memiliki angka kejadian satu banding 80 ribu kelahiran.

Dan beberapa tokoh besar lahir dengan en caul seperti Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte, psikolog Sigmund Freud, Ksatria Prancis Charlemagne, dan penyair Inggris Lord Byron.

Di politik pun sama. Dia punya mata batin yang amat tajam. Bagaimana dia bekerja? Setidaknya tiga saya mencatat dan itu sudah disampaikan, jauh sebelum pemilu yaitu tahun 2021.

Natalius sudah jauh hari menyatakan Prabowo akan jadi Presiden 2024. Waktunya Prabowo Presiden.

Dalam obrolan yang terekam melalui podcast tersebut, berulang kali Natalius memastikan bahwa Indonesia butuh sosok Negarawan Nasionalis dan itu ada pada sosok Prabowo Subianto.

“Yang menjanjikan persatuan bangsa saat ini di antara tegangan nasionalis, demokratis, dan agamis adalah Prabowo Subianto,” begitu katanya dalam podcast tersebut.

Dia ingin katakan, Indonesia jangan sampai memelihara polarisasi yang membuat bangsa ini hancur karena perbedaan ideologi atau narasi-narasi kecil. Irisan masyarakat Indonesia yang sangat kiri, tengah dan kanan butuh sosok kepemimpinan nasionalis negarawan seperti Prabowo Subianto. Begitu sintesisnya.

Catatan kedua, saat saya mewawancarainya melalui podcast tempat saya bekerja, saat melempar pertanyaan: seperti apa sosok seorang Prabowo Subianto di mata seorang Natalius Pigai?

Dengan mata berkaca-kaca, Natalius bercerita: “Saya belum pernah bertemu seorang pemimpin di republik ini yang saat bertemu, lalu dia bertanya bagaimana makan, minum, dan bagaimana sekolah anak?’

Kata dia, Prabowo bertanya saat dia diundang makan siang, hal elementer mengenai kehidupan manusia yaitu urusan makan dan minum serta soal pendidikan yang pertama kali ditanyakan. Bukan pertanyaan lain.

“Saya sungguh terharu dan itu sejatinya seorang pemimpin yang memang harus memerhatikan kebutuhan dasar rakyatnya. Saya bilang saat itu juga Bapak waktunya jadi Presiden.”

Dan ketiga, pada Desember 2022, saat mulai ramai bicara pilpres dan calon sudah mulai kelihatan meski pasangannya belum tahu siapa akan berpasangan dengan siapa. Praktis cuma ada 3 nama, Prabowo, Ganjar dan Anies. Juga belum ada hiruk pikuk politik Presiden Jokowi berpisah jalan dengan PDIP dan pencalonan Gibran saat itu masih jauh dari narasi di publik.

Seperti obrolan lainnya, munculah celetukan: Siapa yang akan jadi Presiden pada Pemilu 14 Februari?

Dia pastikan saat itu juga : Prabowo Pemenang, Anies Kedua dan Ganjar Ketiga.

Saat Prabowo terpilih, saya berkelakar : Kaka menang taruhan! Prediksinya tidak meleset.

Dia hanya senyum dan menjawab dengan singkat: 2029-2034 Sudah Ada Nama tokoh, Tom!! Kamu lihat saja, apakah saya salah atau benar.

*Penulis Thomas Suwarta, Jurnalis dan Alumnus Pasca Sarjana Universitas Pertahanan Indonesia

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru