Kamis, 30 April 2026

Obituari Arief Budiman: Seutas Puisi Untuk Arief Yang Berbudi

Arief Budiman. (Ist)

Perjalanan Arief Budiman adalah sejarah perubahan di Indonesia sejak masa mahasiwa bersama adiknya, Soe Hokgie melawan Soekarno sampai kejatuhannya. Setelah ia sadar bahwa angkatannya hanya jadi alat Soeharto untuk menjatuhkan Soekarno, Arief Budiman mulai mengkritik Soeharto dan kawan-kawannya sendiri. Arief Budiman tak berhenti dan aktif dalam gerakan anti Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sampai gerakan golongan putih (Golput). Tulisan dan berbagai bahan diskusi dengan Arief Budiman membidani kebangkitan gerakan demokratik sampai kejatuhan Soeharto 1998. Untuk itu organizer buruh, Danial Indrakusuma pendiri Partai Rakyat Demokratik (PRD) menuliskan puisi untuk Arief Budiman dan dimuat Bergelora.com. (Redaksi)

Oleh: Danial Indrakusuma

AKU membaca tulisan-tulisannya di Sinar Harapan dan Kompas, juga buku-bukunya. Ilustrasi-ilustrasi kongkritnya banyak membantu memahami apa yang kubaca. Itulah landasan awal kepastian bahwa aku harus menemuinya. Berkali-kali aku menemuinya. Selain berdiskusi, juga banyak memfotocopy buku-bukunya, sering juga dia yang bayar. Setelah itu, seperti berburu, berupaya hadir dalam seminar-seminar dan diskusi dimana dia bicara. Kadang kami yang undang.

Pertama ketemu, saat aku baru saja pulang belajar di Amerika. Kami diskusi tentang sistim pendidikan di Amerika. Ada kesepakatan tentang kebaikan-kebaikan sistim pendidikannya, juga keburukan-keburukannya. Dalam semua percakapan-percakapan berikutnya kami lebih banyak mendiskusikan buku-bukunya yang aku fotocopy. Bersitegang juga—saat kami minta ia memantik diskusi dan kami sodorkan tema “Politik Kebudayaan”, tapi ia lebih setuju “Kebudayaan Politik”.

Namun, sedihlah aku, saat ia mengajukan mendirikan partai, namun ia merasa akan terganjal karena ia keturunan Tionghoa. Dan tak menjawab ketika aku ajukan konsep tertulis pendirian partai itu. Kandas. Tapi aku maklum. Bahkan, bagiku pribadi, peristiwa itulah yang terus memberiku semangat untuk mendirikan partai—yang kemudian menjadi Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Sebelum aku harus bergerak di bawah tanah, lama sekali tak bersapa atau bertemu lagi. Tapi sehari sebelum aku harus bergerak di bawah tanah, ketika pemerintah sudah mengumumkan akan memberangus PRD, ia menelponku—entah dari mana dia tahu nomerku—menanyakan keadaanku, kondisi politik dan meminta aku bersembunyi.

Setelah itu, saat Suharto sudah terjengkang, sempat aku mewawancarainya dalam rangka pembuatan filmku “Kado Buat Rakyat Indonesia”. Kaget aku dengan kejujurannya menjelaskan perannya dan peran tentara dalam menjatuhkan Sukarno melalui kebudayaan. Juga tentang bagaimana ia mengabaikan peringatan Ong Hok Ham bahwa tentara akan lebih berbahaya ketimbang Sukarno.

Terakhir, aku dengar ia sakit.

Aku tahu dia punya kepekaan humor, namun sepertinya ia tak mau membuang-buang waktu mengumbarnya, lebih banyak takzim bicara politik dan nilai-nilai (bahkan watak manusia) dalam masyarakat secara sosiologis. Yang kesimpulannya: harus ada tindakan politik dan penyadarannya.

Dari awal bertemu dan seterusnya, tak pernah ia lekang dari sifat berupaya untuk santun. Kesantunannya bagiku bagai senjatanya untuk menyeret orang untuk menghargai keariefan dan budinya yang baik, ia sangat bertanggung jawab memikul namanya: Arief Budiman.

Aku pernah membuat puisi, yang biasanya aku persembahkan pada orang yang telah gugur dan kuanggap guru yang santun, arief dan baik budinya. Sekarang aku persembahkan untuk Arief Budiman:

Bulan yang Santun

Santun

Itulah yang kau berikan

Awal kita bertatap

Lama aku baru tersadar

Oleh kau juga

Bahwa: santun bukan lah penyedap pertemuan, pembuka percakapan tentang ketidakadilan—bahkan di ajang yang peka bahaya yang menuntut tumpas jiwa tumpas raga

Tapi santun adalah api sekaligus embun dalam mengubah jalan hidup banyak pejuang

Santun adalah strategi-taktik pengubahan

Milik kau

yang tak lekang oleh kekalahan dan derita.

 

Jauh dan lama sekali jarak kita tak bertatap

Dijaga tentara ketidakadilan,

garda kejahatan pada arah manusiawi bumi dan segala isinya

Namun kau juga datang

Di saat hening suci mawas diri

Senyum dan tenaga pembuka fakta

Itulah yang kau sumbangkan untuk ku

Aku telah menerima kasih kau.

 

Akhirnya kita bertatap lagi

Sama-sama dalam kesedihan yang waspada

Hingga arah yang yang kau simpulkan

untuk ku.

Kau hanya memilih bulan

Yang mampu menyelinap

Di sela desakan daun-daun rimbun hutan larangan

Yang memandu resi yang lembut

di jalan setapak ke batu tapanya

Hingga gerhananya lebih awal selesainya

melajukan rekah kelopak bunga tapak dara

yang bermimpi: hanya merekah oleh gelak anak-anak perempuan

di jalan setapak yang tak lurus lagi

yang lekuknya cahaya bulan

Bunga yang rekah itu

Dalam asuhan bulan, jadinya

Bunga yang rekah dalam asuhan bulan

Adalah aku dalam asuhan kau.

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles