Perjalanan Arief Budiman adalah sejarah perubahan di Indonesia sejak masa mahasiwa bersama adiknya, Soe Hokgie melawan Soekarno sampai kejatuhannya. Setelah ia sadar bahwa angkatannya hanya jadi alat Soeharto untuk menjatuhkan Soekarno, Arief Budiman mulai mengkritik Soeharto dan kawan-kawannya sendiri. Arief Budiman tak berhenti dan aktif dalam gerakan anti Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sampai gerakan golongan putih (Golput). Tulisan dan berbagai bahan diskusi dengan Arief Budiman membidani kebangkitan gerakan demokratik sampai kejatuhan Soeharto 1998. Untuk itu organizer buruh, Danial Indrakusuma pendiri Partai Rakyat Demokratik (PRD) menuliskan puisi untuk Arief Budiman dan dimuat Bergelora.com. (Redaksi)
Oleh: Danial Indrakusuma
AKU membaca tulisan-tulisannya di Sinar Harapan dan Kompas, juga buku-bukunya. Ilustrasi-ilustrasi kongkritnya banyak membantu memahami apa yang kubaca. Itulah landasan awal kepastian bahwa aku harus menemuinya. Berkali-kali aku menemuinya. Selain berdiskusi, juga banyak memfotocopy buku-bukunya, sering juga dia yang bayar. Setelah itu, seperti berburu, berupaya hadir dalam seminar-seminar dan diskusi dimana dia bicara. Kadang kami yang undang.
Pertama ketemu, saat aku baru saja pulang belajar di Amerika. Kami diskusi tentang sistim pendidikan di Amerika. Ada kesepakatan tentang kebaikan-kebaikan sistim pendidikannya, juga keburukan-keburukannya. Dalam semua percakapan-percakapan berikutnya kami lebih banyak mendiskusikan buku-bukunya yang aku fotocopy. Bersitegang juga—saat kami minta ia memantik diskusi dan kami sodorkan tema “Politik Kebudayaan”, tapi ia lebih setuju “Kebudayaan Politik”.
Namun, sedihlah aku, saat ia mengajukan mendirikan partai, namun ia merasa akan terganjal karena ia keturunan Tionghoa. Dan tak menjawab ketika aku ajukan konsep tertulis pendirian partai itu. Kandas. Tapi aku maklum. Bahkan, bagiku pribadi, peristiwa itulah yang terus memberiku semangat untuk mendirikan partai—yang kemudian menjadi Partai Rakyat Demokratik (PRD).
Sebelum aku harus bergerak di bawah tanah, lama sekali tak bersapa atau bertemu lagi. Tapi sehari sebelum aku harus bergerak di bawah tanah, ketika pemerintah sudah mengumumkan akan memberangus PRD, ia menelponku—entah dari mana dia tahu nomerku—menanyakan keadaanku, kondisi politik dan meminta aku bersembunyi.
Setelah itu, saat Suharto sudah terjengkang, sempat aku mewawancarainya dalam rangka pembuatan filmku “Kado Buat Rakyat Indonesia”. Kaget aku dengan kejujurannya menjelaskan perannya dan peran tentara dalam menjatuhkan Sukarno melalui kebudayaan. Juga tentang bagaimana ia mengabaikan peringatan Ong Hok Ham bahwa tentara akan lebih berbahaya ketimbang Sukarno.
Terakhir, aku dengar ia sakit.
Aku tahu dia punya kepekaan humor, namun sepertinya ia tak mau membuang-buang waktu mengumbarnya, lebih banyak takzim bicara politik dan nilai-nilai (bahkan watak manusia) dalam masyarakat secara sosiologis. Yang kesimpulannya: harus ada tindakan politik dan penyadarannya.
Dari awal bertemu dan seterusnya, tak pernah ia lekang dari sifat berupaya untuk santun. Kesantunannya bagiku bagai senjatanya untuk menyeret orang untuk menghargai keariefan dan budinya yang baik, ia sangat bertanggung jawab memikul namanya: Arief Budiman.
Aku pernah membuat puisi, yang biasanya aku persembahkan pada orang yang telah gugur dan kuanggap guru yang santun, arief dan baik budinya. Sekarang aku persembahkan untuk Arief Budiman:
Bulan yang Santun
Santun
Itulah yang kau berikan
Awal kita bertatap
Lama aku baru tersadar
Oleh kau juga
Bahwa: santun bukan lah penyedap pertemuan, pembuka percakapan tentang ketidakadilan—bahkan di ajang yang peka bahaya yang menuntut tumpas jiwa tumpas raga
Tapi santun adalah api sekaligus embun dalam mengubah jalan hidup banyak pejuang
Santun adalah strategi-taktik pengubahan
Milik kau
yang tak lekang oleh kekalahan dan derita.
Jauh dan lama sekali jarak kita tak bertatap
Dijaga tentara ketidakadilan,
garda kejahatan pada arah manusiawi bumi dan segala isinya
Namun kau juga datang
Di saat hening suci mawas diri
Senyum dan tenaga pembuka fakta
Itulah yang kau sumbangkan untuk ku
Aku telah menerima kasih kau.
Akhirnya kita bertatap lagi
Sama-sama dalam kesedihan yang waspada
Hingga arah yang yang kau simpulkan
untuk ku.
Kau hanya memilih bulan
Yang mampu menyelinap
Di sela desakan daun-daun rimbun hutan larangan
Yang memandu resi yang lembut
di jalan setapak ke batu tapanya
Hingga gerhananya lebih awal selesainya
melajukan rekah kelopak bunga tapak dara
yang bermimpi: hanya merekah oleh gelak anak-anak perempuan
di jalan setapak yang tak lurus lagi
yang lekuknya cahaya bulan
Bunga yang rekah itu
Dalam asuhan bulan, jadinya
Bunga yang rekah dalam asuhan bulan
Adalah aku dalam asuhan kau.

