Penderitaan menyatukan, kedukaan mendekatkan, kesedihan memeluk. Dan siapapun yang bersama kita di saat-saat gelap, akan jadi bagian diri seterusnya.
Oleh: Dita Indah Sari *
SHOLEH bukan hanya seorang kawan. Bagiku, dia mewakili sebentuk masa lalu yang belum sempat diceritakan.
Kami sama-sama ditangkap saat aksi demonstrasi buruh dan mahasiswa di Tandes Surabaya tanggal 5 Juli 1996. Ada sekitar 27 aktivis lain yang diangkut dari lokasi ke Kantor Polwiltabes Surabaya., sebagian dalam keadaan babak belur berdarah-darah, di kepala, pipi, hidung. Dan di hati.
Kami berkeliaran tanpa arah di sekitar ruang ResMob Polwil, menunggu polisi mengetik BAP massal selama 3 hari, sebelum semuanya dibolehkan pulang. Semua, kecuali 3 orang : Sholeh, Coen Hussain Pontoh dan aku sendiri.
Aku bilang padanya : Soleh, kita keliatannya akan tinggal. Dia cuma ngangguk-ngangguk. Pipinya tembem, jadi keliatan mantul-mantul. Kantung matanya berlipat, semua kami begitu, karena tiga malam tidak bisa lelap.
Pemimpin wajib memanggul tanggung jawab, kan. Yang lain harus pulang agar gerakan tidak padam. Kata mutiara : memimpin itu menderita, sedang menagih pembuktiannya di moment itu.
Tapi kelihatannya saat itu, kutipan itu masih jadi pegangan untuk menghibur diri sendiri. Ketika yang lain berpamitan pulang, kami bertiga (dengan Coen) berdiri berjajar disalami, seperti tamu yang akan pamit dari para tuan rumah. Dan memang, Polwiltabes akan jadi rumah kami beberapa minggu ke depan.
Sholeh bilang, gimana aku akan kasih tahu ibuku? Bahunya menurun, punggungnya membungkuk, matanya sayu. Aku tidak punya jawaban, karena keadaannya sama. Bagaimana cara yang pas untuk tidak melukai orang yang sudah bertahun-tahun mencintai kita tanpa syarat? Gelap.
Katanya kemudian: yah, mau gimana lagi.
Ini akan jadi kata-kata yang paling sering dia ucapkan ketika situasi memojokkan kami, problem tak ada ujung dan jalan keluar belum kelihatan.
Dibanding aku, Sholeh hanya perlu sedikit waktu untuk beradaptasi dengan para napi. Tips-nya: dia mudah bergaul, wajahnya selalu lucu dan berbahasa Madura dan Suroboyoan dengan lancar, plus dia gak bisa bilang huruf ‘R’. Jadi dia punya semacam trade mark untuk disayang oleh para tahanan kasus copet, pembunuhan, judi, narkoba, penganiayaan sampai sabung ayam. Dia suka bertindak sebagai penerjemah dadakan buatku, khususnya bagi tahanan/napi Madura.
Pandangan positifku tentang etnis Madura (yang jarang kutemui di Jakarta) meroket cepat, karena kebaikan-kebaikan mereka yang bikin terharu; hal-hal sederhana dari orang2 yang juga sederhana. Telur dadar buatan istri mereka yang mereka bagi buat kami, nasi bungkus yang dibelah dua, sepotong bebek goreng yang top. Soleh, aku dan Coen kerap menikmati hasil pergaulan Soleh yang cemerlang di sel itu.
Sore-sore, aku sering duduk di depan pintu sel, menatap polisi-polisi yang bersiap pulang. Sambil menggendong helm, mereka akan menegur ramah, dan aku akan menjawab tak kalah ramah namun dengan hati remuk. Aku juga pengen pulang, pak. Beberapa sering membelikan susu soda gembira, nasi bungkus, bahkan celana panjang dan kaos, karena punyaku terlihat tak diganti-ganti. Mereka lakukan itu bukan sebagai polisi. Tapi karena mereka manusia yang baik.
Sholeh dan Coen biasanya mendekat. Lalu kita akan berbagi susu soda gembira, bergosip tentang para tahanan. Dan hati yang remuk pelahan jadi menyatu lagi.
Ini jadi kebiasaan sampai kami pindah ke Rutan Medaeng. Kami sepakat untuk membagi apa saja yang kami dapat, terutama untuk Coen yang jarang dikunjungi. Sholeh selalu telaten mengingatkan soal-soal begini. Kripik, krupuk, nasi bungkus, balado teri kacang, kering tempe, selalu melayang antarblok laki-laki dan perempuan.
Di Rutan Medaeng Sidoarjo, ketika tiba kabar ibuku meninggal akibat stroke, dia hanya menatapku sambil mengeleng-geleng. Berdecak-decak, geleng-geleng lagi, tarik napas, usap hidung, menerawang ke jendela. Lalu mengeluarkan kata saktinya : yah, mau gimana lagi?
Yah, mau gimana lagi. Mungkin dia ingin minta aku mengikhlaskan, tapi tidak terucap. Mungkin dia mau menyampaikan sejumput nasihat bahwa kematian adalah takdir. Tapi berat terkatakan.
Jika kita sudah bergaul cukup lama dengan seseorang, tidak perlu banyak kata untuk mengerti. Di saat Republik ini sedang melancarkan permusuhan dan pemusnahan kepada PRD, kami bertiga saling menyayangi. Dan itu terasa cukup.
Lama setelah bebas, aku tidak lagi ketemu dia. Mendengar dan membaca aktivitas sosial politiknya, aku senang. Bagiku, imajinasi tentang dirinya adalah kenangan tentang sebagian diriku, di masa yang dulu. Penderitaan menyatukan, kedukaan mendekatkan, kesedihan memeluk. Dan siapapun yang bersama kita di saat-saat gelap, akan jadi bagian diri seterusnya.
Ketika datang kabar dia pergi, seperti sebagian dari kenanganku juga tersapu. Meninggalkan lubang yang kosong. Dan hal-hal yang belum sempat diceritakan.
Yah, mau gimana lagi, Leng?
Selamat jalan, ya.
Take care.
——–
*Penulis Dita Indah Sari, mantan Ketua Umum Persatuan Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI), mantan Ketua Umum Front Nasioanal.Perjuangan Buruh Indonesia (FN-PBI), mantan Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD). Sekarang Wakil Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)

